
Selasa paginya Ann dan Rani di panggil oleh pak Salwa, mereka langsung menuju ruangan kepala sekolah. Ana dan Rani langsung memberikan beberapa kertas yang diisi tulisan mereka berdua.
Pak Salwa menerima dengan ceria nya dan melihat cerpen Ana dan Rani. Pria yang berumur 55 tahunan itu mengkerutkan wajahnya merasa heran kerena ia melihat tulisan Rani yang rapi, sesuai dengan apa ditulisnya. Sedangkan tulisan Ana memang rapi tapi cara menulis dialog dalam percakapan maupun deskripsi nya sangat jauh dengan Rani..
Pak Salwa hanya menatap keduanya dengan heran, dipikirannya seharusnya Ana yang iri kerena apa. Rani lebih mahir dalam segala hal, kata kata, diksi dan bahasa dalam cerpen juga sudah bagus. Ya kalau dibandingkan Ana mungkin Ana jauh dari bawaha Rani.
Tapi kalau melihat dan mendengar dari semua orang atau Ana sendiri, kalau Rani iri melihat Ana menulis. Pertanyaan demi pertanyaan belum sempat di lontarkan oleh pak Salwa pada Rani. Ia hanya memendam pertanyaan itu dalam hatinya.
Sedangkan Ana dan Rani hanya diam saja, kedua anak SMU itu saling lirik satu sama lain. Mereka ingin menanyakan sesuatu pada pak Salwa tapi keduanya tahu untuk bertanya, jadi lah mereka hanya diam semata. Kerena mereka tidak ada keberanian untuk bertanya pada pak Salwa yang membaca semua cerpen yang dibuat Ana dsn Rani.
"Kalian sebenarnya kenapa harus perang dunia gara gara cerpen yang dibuat, seharusnya kamu Rani membimbing Ana untuk menulis. Tulisan kamu bagus kok, tulisan Ana juga bagus," kata pak Salwa menyimpan cerpen Ana dan Rani diatas meja.
"Tapi kenapa harus cerpen Ana yang viral, kenapa tulisan aku nggak viral?" Tanya Rani menahan emosi.
Sebenarnya ia ingin sekali teman temannya tahu kalau ia menyukai menulis, tapi hanya Ana yang dilirik sedangkan dirinya tidak sama sekali. Pak Salwa mengangguk angguk kan kepala mengerti apa yang diucapkan oleh Rani, Ana hanya diam saja. Ana secara reflek langsung mengambil cerpan yang dibuat oleh Rani. Ia tertegun sejenak membaca runtutan kata kata yang ditulis oleh Rani. Tiba Tiba hati Ana berdesir halus membaca apa yang Rani tulis, ya tulisan Rani tapi sekali dan antara dialog dan deskripsi lebih banyak deskripsi daripada dialog.
Tiba tiba hati Ana mempunyai kisi yang indah buat Rani, ada harapan saat ia membaca tulisan Rani. Tapi ia hanya diam saja tidak berkomentar apa apa sama sekali.
"Jadi itu yang kamu iri kan dari Ana, seharusnya kamu jangan iri pada Ana. Kalau bapak lihat seharusnya Ana yang iri sama kamu," ujar pak Salwa.
"Maksud bapak?" Tanya Rani heran..
"Menurut bapak cerpen kamu lebih bagus dibandingkan Ana, jadi kenapa kamu harus iri sama Ana? Nama Ana viral kerana Ana menunjukan kalau dirinya bisa menulis tidak seperti kamu, hanya diam nggak pernah menulis hanya mengurusi orang lain," tekan pak Salwa menatap wajah Rani..
Rani hanya menunduk dan diam saat mendengar pak Salwa berkata seperti itu, ia tidak menyangka sama sekali kalau pak Salwa harus menegurnya, sebenarnya hati kecilnya mengakui kalau cerpan dirinya dan Ana bagus daripada Ana hanya ia iri melihat nama Ana terkenal itu saja.
__ADS_1
Sedangkan Ana yang telah membaca cerpen Rani hanya diam saja tidak berkomentar apa apa lagi, hanya duduk anteng sambil mengangguk angguk kepala saja.
"Ya udah kalau begitu bagaimana kalau kalian bapak rekrut untuk mengelola Mading di sekolah, dan siapa yang suka menulis kalian bisa mengumpulkan karya karya dan nilai. Kalau karya itu terbaik kalain bisa izin untuk mengirimkan ke media masa." Usul Pak Salwa menatap wajah kedua gadis yang ada dihadapannya.
Rani dan Ana hanya diam tidak langsung menjawab usulan pak Salwa.
"Bagaimana?" Tatap pak Salwa.
"Setuju, pak!" Kata Ana dan Rani serempak.
Pak Salwa hanya mengangguk setuju. Sebenarnya niatan pak Salwa hanya ingin Ana dan Rani bersatu bukan terpecah apa lagi saat ia melihat pontensi Ana dan Rani keduanya saling menyukai menulis. Jadi dengan kegiatan itu ia hanya ingin Ana dan Rani kompak bisa membangun sebuah komunitas menulis di sekolah sendiri dsn mengajak teman teman lainnya untuk menulis.
Pak Salwa hanya memberikan jalan buat Ana dan Rani hanya untuk akur dan tetap memegang prinsip kebersamaan yang dibangun oleh dirinya sendiri. Harapan pak Salwa memang terlihat nyata.
Satu bulan kemudian.
Mading yang dibuat kedua gadis itu memang banyak peminatnya. Secara diam diam banyak anak anak kelas 1 yang suka menulis, kegiatan ini di dukung oleh guru guru yang lainnya.
"Aku nggak nyangka kalau kamu bisa naik jadi lebih baik ," kata ibu Ratih tersenyum.
Setalah 3 bulan ibu Ratih cuti baru beberapa minggu ini ia baru masuk ke sekolah lagi, dan pas masuk ke sekolah ia terkejut melihat Ana dan Rani yang mengelola kegiatan mading di sekolah.
"Aku nggak ikhlas kalau Rani malah akrab dengan Ana," kata mawar tidak suka.
Ya sejak Rani dan Ana dekat. Rani mulai menjauhi kelompok Mawar kerena ia sibuk menerima beberapa cerona dsn puisi. Rani juga memilih cerpen yang menurutnya bagus dan layak untuk di kirimkan ke media masa.
__ADS_1
Dari kegiatan itu Ana dan Rani mulai bekerja sama dengan baik, tapi Genk Mawar tidak menyukai apa yang Ana lakukan dengan Rani.
Mawar membawa kedua teman temannya menjauhi ruangan yang dipakai oleh Ana dan Rani, mereka akhirnya merencanakan sesuatu untuk memecah belah Ana dan Rani. Mawar sebenarnya tidak suka kalau Ana dan Rani bersatu atau mengerjakan pekerjaan yang sama.
"Bagaimana?"
"Aku setuju!"
"Ya kita bikin mereka berpisah, enak saja Rani teman kita eh malah gabung sama Ana." Dengus Mawar.
Ketiganya langsung masuk kedalam kelas 2 untuk merencanakan sesuatu, tapi rencana Mawar gagal kerena Rani telah menciumnya.
( Saya sebenarnya tidak tahu apa yang ada di pikiran Rani waktu itu, aneh waktu itu ia membawa semua cerpen cerpen yang dibuat oleh adik dan kakak kelas untuk di muat. Tapi pas pulang sekolah ia memasukan berkas cerpen ke dalam tasnya.
"Kok dibawa?" Tanya saya waktu itu.
"Kita siaga aja siapa tahu ada orang yang nggak suka sama kegiatan kita, aku bawa berkas cerpennya." Alasan Rani.
"Na, aku nggak mau suudzon sama orang lain, kita harus hati hati tidak semua orang baik dan mendukung kita," lanjut Rani..
Akhirnya saya mengangguk biarpun merasa aneh pada apa yang dibicarakan oleh Rani ).
Rani yang membawa berkas cerpen ya, awalnya ia menyuruh Ana membawa tapi ia menolaknya. Akhirnya Rani yang membawanya ke rumah.
Apa yang dikhawatirkan oleh Rani memang benar ruangan yang dipakai oleh mereka mengumpulkan berkas cerpen diacak acak orang semuanya hancur tanpa kecuali. Mading yang terbuat dari papan tulis juga hancur tidak terkecuali.*
__ADS_1