
"Pak, Ana berangkatnya dianter bapak ya ke sekolah. Pengen diantar terus pulangnya juga di jemput dan bapak." ujar Ana mendekati pak Mamat sambil menatap bapak.
Pak Mamat terdiam ia mengerutkan wajahnya keren heran kerena putri pertamanya minta Ntar jemput ke sekolah, sedangkan sepedanya sudah benar kembali..
"Oke bapak antar Ana ya."
"Makasih ya pak." Ana langsung memeluk tubuh pak Mamat dengan erat ya..
Laki laki itu membalas pelukan putrinya ya biarpun ia juga heran sekali atas tingkah laku Ana yang demikian rupa, masalahnya ia tudks.lernah meminta anatar jemput kecuali kalau sepedanya benar.
Pagi yang indah, diantar sinar mentari pagi, angin berhembus lembut. Hari Kamis 31 Desember 1999 Ana dsn bapak berangkat mengunakan sepeda tua milik bapak.Aneh perasaan Ana saat itu nyama banget apalagi berjalan dengan bapaknya yang selalu memberikan kasih sayang padanya.
Jam 07.00 Ana dan pak Mamat sampai di gerbang SMU. Ana sebelum pergi mencium punggung tangan pak Mamat dan mencium pipi laki laki itu dengan lembutnya.
"Pak, nanti jemput Ana lagi ya." pinta Ana menatap bapaknya.
"Iya, apa sih yang nggak buat putri bapak," ujar pak Mamat mengusap lembut rambut Ana.
Ana langsung masuk kedalam kelas, dan di sana ketemu Melati.
"Bagaimana, Na? Jadikan kamu ikut ke Anyer? Karang lho yang mau biayai kita!" kata Melati.
"Mel, maaf kayanya An nggak bisa deh! Masalahnya insha Allah hati ini aku saum. Jadi nggak mungkin kan aku buka saum nya, aku bukber sama ibu dan bapak," tolak Aan lembut.
"Payah kamu, Na. Na sudah lebih baik batal saja, kamu kan bisa pura pura puasa di depan orang tuamu. Kamu,"
"Nggak aku udah niat kok! Ya biarpun saum Sunnah tapi aku nggak mau batal," ujar Ana tegas.
Tiba tiba Melati pergi begitu saja meninggalkan Ana, sedangkan Ana hanya mengamati dia bahunya dan mengambil buku fiksi buat dibaca.
Sebelum jam istirahat Melati menghampiri Ana di perpustakaan, memang waktu itu jam kosong guru mapel Fisika sedang mengunjungi istrinya yang ada di Kuningan. Otomatis kelas 1A tidak belajar ada beberapa yang diluar, main, sedangkan Ana kerena Ana lagi ada niatan ia pergi ke perpustakaan membaca buku..
Tapi Melati malah datang.
"Na, dipanggil Bram sekarang di kantin."
Ana membulatkan matanya mendengar kaku Bram mengajak ketemuan di kantin, sebenarnya ia malas menuju kantin apalagi kantin penuh. Tapi, akhirnya Ana beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Melati untuk bertemu dengan Bram di kantin. Pas sampai di sana, ia terkejut sekali, di kantin hanya ada Bram dan ibu kantin nya juga di dalam..Biarpun ragu ia langsung menghampiri Bram dan duduk di depan Bram hanya terpisah oleh meja saja..
__ADS_1
"Kamu minum dulu ya." kata Bram sambil menyodorkan teh manis anget dihadapan Ana.
Teh manis itu sudah tersedia begitu saja ketika Ana datang, jadi tidak dibuat saat Ana datang. Gadis itu mwngelangkan kepala saja.
"Maaf, aku nggak bisa minum. Maaf."
"Kenapa nggak diminum?" tanya Bram.
"Aku ada niat saum hati ini," kata Ana lirih.
BRAK
Bram memukul meja mendengar penolakan Ana..
"Kamu sengaja kan seperti ini sama aku, kenapa sih Na, apa yang aku berikan pada kamu kamu tolak!" teriak Bram agak marah.
Di wajahnya tergambar kekecewaan atas penolakan Ana. Ia.menghela nafas kesal sekali tapi ia tudks bisa berbuat apa apa pada diri Ana.
"Maaf, sebenarnya ada apa aku dipanggil?"tanya Ana menatap wajah Bram.
"Itu juga aku nggak bisa Bram maafkan Ana ya," kata Ana langsung beranjak dari duduk..
Tapi sebelum pergi tangan Ana dipegang oleh Bram kuat sekali.
"Bram sakit!"
Gadis itu berusaha menghentakkan tangannya supaya terlepas dari ngengaman tangan Bram, tapi ngenggaman tangan Bram terlalu kuat sekali.
"Sakit!"
"Kamu tega, Na. Kamu nggak menghargai aku," ketusnya.
Bram, sakit!" Ana meringis kesakitan keren ngengaman tangan Bram terlalu kuat sekali..
"Hai, kenapa Bram?" tanya ibu kantin sambil menghampiri keduanya..
Bram langsung melepaskan ngengaman tangannya dari tangan Ana kerena ibu kantin menghampiri mereka berdua. Ana pergi begitu saja, sedangkan Bram masih terlihat kesal dan tidak puas. Ibu kantin menatap wajah Bram yang terlihat kusut sekali, seperti nya ia kecewa, tapi ibu kantin langsung meninggalakan Bram yang duduk di tempat semula.
__ADS_1
Bram yang masih kesal, kerena rencananya tidak berjalan mulus akhirnya membuang teh manis yang seharusnya di minum oleh Ana.
( saya bakal tahu setelah 5 bulan sejak kejadian di Anyer, kalau minuman yang di sediakan oleh Bram diberi obat tidur ).
Pulang sekolah teman teman yang akan pergi ke Anyer beberapa kali mengajak Ana, termasuk Melati. Bram apalagi ia seperti nya berusaha untuk Ana ikut ya biarpun saat itu ia tahu gadis itu dalam keadaan saum.
"Kamu bisa buka disana, Na. Aku traktir kok," bujuk Bram..
"Maaf, bapak jemput Ana kok, nggak enak kaku sudah di jemput masa nggak pulang," tolak Ana..
Untung pada waktu itu pak Mamat datang dengan sepedanya. Bram menatap Ana dengan pandangan kecewa kerena memang benar Ana hati itu di jemput oleh bapaknya..
Ana pulang ke rumah bersama bapak sambil memeluk dari belakang.
"Batal nggak saum nya?" tanya pak Mamat.
"Nggak dong, pak. Masa batal," ujar Ana.
Ya hari itu godaan nya banyak sekali, Bram menyediakan air teh, Melati mengajak makan bakso, dikasih teh botol dingin, untuk pertahanannya kuat kaku tidak mungkin ia gagal saum.
Ana tidak sama sekali pada teman temannya yaitu Melati dan Bram juga yang lain, apa mereka berangkat atau tidak kerena memang malam itu malam Jumat.
Ana menikmati magrib yang berbeda sekali, buka dengan bubur kacang ijo, teh manis dan gorengan yang dibuatkan ibu. Seharian saum menhan makan dan minum saat buka ia menikmati sekali makan dan minum dengan air teh manis buatan ibunya yang menarik benar telaten mengurus suami dan keempat anak anaknya.
Dan malam tahun baru itu momen paling indah kerena bisa berkumpul dengan keluarga yang menyanyangi nya.
Ana tidak tahu apa yang mereka yang merayakan tahun baru di Anyer, kerena tidak ada alat komunikasi jadi ia tidak tahu apa mereka menikmati indahnya malam itu atau itu salah satu bencana yang harus di alami oleh seorang gadis belia.
"Bapak bahagia punya anak seperti Ana, Ita, Bhakti dan Iyet, pokoknya kalian akur terus ya seperti ini," gumam pak Mamat mengelus tiga putri nya lembut.
"Eh, Na, itu yang tadi siang teman temanmu mau ngapain?" tanya bapak saat ia ingat kejadian pulang sekolah.
"Mereka ngajak Ana ke Anyer, tapi Ana nggak mau sih!" kata Ana menjawab pertanyaan bapaknya.
"Ya jangan ikut jauh, yang ikut juga teman teman saja kan nggak sama gurunya." tanya pak Mamat
Ana mengangguk. Laki laki itu mengusap kepala Ana lembut. ia tidak sia sia mendidik Aan supaya tidak ikut kegiatan diluar tanpa ada orang tua yang mendampinginya, atau guru.*
__ADS_1