Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 76


__ADS_3

Pak Salwa kapsek SMU yang baru hanya menggelengkan kepala saja mendengar kenakalan Ana dan Rani. Ya kemarin ia mendengar dari ibu kantin mengadukan Ana  dan Rani yang berkelahi di kelas 2A, dua duanya mempertahankan prinsip masing masing. 


( Sekarang pak haji Salwa😊, dulu waktu saya kelas 2 dan 3 beliau belum naik haji. Jadi saya disini mau manggil bapak atau pak Salwa saja ya😊🙏, dan saya juga sejak lulus SMU sampai sekarang belum pernah bertemu dengan beliau hanya kabar burung saja yang saya dengar tentang beliau ). 


Sampai pak Salwa benar benar tidak bisa memutuskan siapa yang salah dan siap yang benar. Apalagi ia di SMU masih babarapa minggu jadi tidak tahu apa yang pernah terjadi di SMU ini, kerena pak Evi kepala sekolah yang dulu di pindahkan ke SMU Menes mutasi nya. Menurut kabar sih pak Evi asal Menes. 


Sedangkan pak Salwa pindahan dari SMU negeri  1 Munjul ( sekarang SMUN 7 Pandeglang ). Jadi ia sama sekali tidak pernah tahu apa yang ada di SMU ini, ditambah lagi ia baru beberapa minggu. Jadi bagaimana pun juga ia belum pernah tahu. 


Pak Salwa hanya menatap kedua gadis yang ada di hadapannya. Ya kemarin ibu kantin–Nining  namanya yang telah melaporkan kejadian kemarin pada diri pada hari Sabtu siang, jadi baru hari Senin keduanya baru di panggil kerena kalau hari Sabtu dipanggil segenap guru pada hari Sabtu nya rapat. Jadi aduan dari ibu kantin ditangguhkan dulu, dan digantikan pada hari Senin. 


Ana dan Rani pada pagi hari sebelum istirahat dipanggil oleh pak Salwa dan dibawa ke ruangan kepala sekolah, keduanya duduk saling berdampingan satu sama lainnya sedangkan didepannya pak Salwa sedang menatap keduanya. Ana dan Rani hanya menunduk saja kerena pak Salwa hanya menatap keduanya. Kadang Ana melirik Rani begitu juga dengan Rani. 


"Ada apa sebenarnya pada kalian berdua, bapak ingin mendengarkan alasan kalian bertengkar?" Suara pak Salwa lembut menatap kedua wajah anak didiknya. 


"Dia duluan pak," serempak keduanya menjawab.


"Kamu dulu yang bicara," tunjuk pak Salwa menunjuk Ana.


"Rani yang duluan pak, masa Ana bikin cerpen juga malah diganggu." Jawab Ana jujur. 


"Kamu bisa bikin cerpen?" Tanya pak Salwa menatap gadis berkacamata. Ana hanya mengangguk saja. 


"Pemar!" Sembur Rani tidak suka.


"Suka suka aku aja, kamu cuma iri bikin dong!" Solot Ana gemas. 


Rani sebenarnya ingin sekali menampar muka Ana tapi ia berusaha menahannya kerena dihadapannya ada pak Salwa, kalau saja tidak ada pak Salwa ingin rasanya merobek mulut Ana yang menurutnya sangat lancang sekali. 

__ADS_1


Sedangkan Ana hanya tersenyum puas kerena membuat Rani marah padanya, pikir Ana, Rani tidak akan mungkin lancang menampar dirinya apalagi dihadapan pak Salwa. 


BRAK! 


Pak Salwa memeluk meja kayunya membuat hati Ana dan Rani ketar ketir seketika saat mendengar meja kayu di pukul oleh tangan pak Salwa dengan keras sekali. 


Pak Salwa menatap tajam kearah keduanya.


"Maaf," keduanya bersamaan.minta maaf..


"Kalian satu satu menerangkannya biar saya bisa mendengarkan alasan kalian, bukan mempertahankan perinsip kalian!" Terima pak Salwa emosi. 


"Seharusnya kalian diberi kesempatan gunakan dengan yang baik malah seperti ini?" Lanjut kak Salwa. 


"Ayo kamu lanjutkan!" Suruh pak Salwa menunjuk pada Ana. 


Ya Ana merasa heran pada Rani yang selalu menganggu dirinya, aneh kadang ia juga penasaran kenapa Rani seperti itu. Sedangkan teman teman yang lain tidak pernah sama sekali. 


Pak Salwa hanya mendengarkan apa yang Ana ceritakan pada dirinya, ia hanya mengangguk angguk kepalanya saja mendengarkan cerita yang ada ceritakan, sedangkan Rani hanya diam mendengarkan Ana. 


Pak Salwa menatap Rani yang menunduk, lalu menatap wajah Ana yang masih menceritakan semua kejadian yang dialaminya, ya ia yang menyuruh nya untuk cerita dari awal sampai akhir. Pak Salwa hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan Rani masih tetap diam, hanya tanganya memainkan rok yang dipakainya 


"Kenapa kamu ganggu Ana, Rani?" Tanya pak Salwa tatapan matanya langsung menatap wajah Rani dengan tajam. 


Rani tidak langsung menjawab pertanyaan dari pak Salwa. Ia menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan kembali. 


"Cuma pamer, nggak pernah dimuat!" Ujar Rani pedas didengar oleh Ana. 

__ADS_1


Ana mendengarnya hanya bisa menarik nafas kesal dan geram tapi gadis itu hanya diam saja, ia tahu kalau ia bicara pasti pak Salwa marah lagi. Jadi ia menunggu apa  yang Rani katakan pada dirinya ia tidak mau kepancing oleh kata kata yang dilontarkan oleh Rani. 


"Kamu bisa nggak bikin cerpen?" Tanya pak Salwa menatap wajah Rani. 


Rani yang mendengar tantangan pak Salwa hanya terdiam seketika juga ia tidak menceritakan kalau ia juga suka pada menulis, Rani hanya melirik wajah Ana. Tapi gadis kecamata hanya diam saja tidak  ada reaksi sama sekali. 


"Ran, kamu dengar nggak apa yang saya katakan!" Suara pak Salwa meninggi kerena pertanyaan nya tidak langsung dijawab oleh Rani


"Kalau kamu mengejek berarti saya nyakin kamu bisa menulis cerpen, saya ingin kamu buatkan saya cerpen begitu juga dengan Ana!" Lanjut pak Salwa menatap kedua gadis itu. 


"Kalian sanggup!" 


"Insya Allah pak," keduanya menjawab dengan serempak. 


Akhirnya pak Salwa mengizinkan Ana dan Rani keluar dari ruangannya ya, tapi sebelum keluar ia memberikan nasehat pada keduanya untuk tetap akur dan jangan pernah membuat onar lagi. Tapi kemungkinan besar nasehat dari pak Salwa tidak pernah didengar😊. 


"Semuanya gara gara kamu!" Rani menyalahkan Ana. 


"Enak saja, kamu kerena kamu selalu ganggu aku terus. Memangnya kamu nggak bosen ya ganggu aku terus?" Tanya Ana heran. 


Ya ia tidak heran  bagaiamana kalau ketemu selalu perang dunia terus tidak mau berhenti. Keduanya langsung berpisah kalau Rani menuju kantin menghampiri teman temannya sedangkan Ana langsung ke perpustakaan kerena ia mendengar kalau di perpustakaan ada buku baru datang ia ingin sekali membaca buku apalagi buku baru.


Saat sampai di perpustakaan, buku buku itu masih ada di kardus. Ada lima kardus besar semuanya buku penyaangan, bukannya Ana langsung membaca buku tapi ia dengan antengnya  melihat aktifitas ibu Elis yang menggelitik hatinya. Ibu Elis saat ia datang sedang menyetempel buku buku yang baru datang. 


Ada tiga titik lokasi yang ibu Elis stempel yaitu kertas bagian dalam buku, halaman 36 dan halaman akhir. Dan yang Ana herankan ibu Elis menyetempel halaman 36 biarpun beda buku. 


Tapi gadis berkacamata itu SMA sekali tidak menanyakan keheranannya pada aktifitas yang ibu Elis lakukan. Tapi biarpun penasaran ia tetap memperhatikan apa yang ibu Elis lakukan kerena ia juga penasaran sekali untuk menanyakan masih malu. 

__ADS_1


( Na, kalau kamu malu nggak bakal tahu apa yang beliau kerjakan, plis nanya dong biar kamu tahu, siapa tahu nanti kamu jadi pustakawan😊🙏 ).*


__ADS_2