Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 24


__ADS_3

Mimpi itu anehnya berulang kali diimpikan, mimpi yang sama, jam yang sama, membuat An bertanya tanya pada diri sendiri kenapa mimpi itu selalu berulang kali.


"Kalau mimpi jam 02.00 dini hari itu mimpi nyata yang Allah lihat kan pada kita." ujar Anton saat Ana menceritakan mimpinya pada Anton.


Ya sekarang Ana dsn Anton bisa menerima perbedaan mereka, mereka tidak bertengkar lagi harus bertengkar lagi beda pendapat satu sama lainnya. Ya kadang sering juga timbul kesalahan pahaman yang ada tapi tidak seperti awal bertemu. Pertemuan Ana dsn Anton merubah sikap Ana, cara pandangan Ana. Ya sebenarnya ia begitu menikmati sekali hidup seperti itu.


Nyaman banget.


Tidak seperti teman teman waktu SMP dan SMU nya yang selalu jail dan nakal. Kalau misal menghindar dari sentuhan pasti mereka bilang pada diri An sok suci sedangkan ia hanya menghindar dari tangan yang jail.


Melihat sikap Anton lada dirinya, Ana merasa nyaman biarpun berdekatan dengan Anton. Dekat tapi masih ada batas batas nya. Ya Anton mengajarkan banyak pergaulan dsn adab persahabatan yang sehat buat Ana.


Suatu ketika Ana sedang berjalan menuju sungai yang airnya sangat jernih sekali, ia sering main ke sana hanya untuk menumpahkan perasan hatinya di saat ada Anton. Kerana Anton siang itu sedang di tempat kerjanya, hanya tidur batu pulang jadi tidak sepenuhnya Ana bersama dengan Anton.


"Na, kalau Ana punya uang bapak izinkan Ana ikut lomba Tralis, keren bapak nggak punya uang untuk Ana pergi kesana," Ana masih ingat kata kata itu.


Kata kata yang membuat hati Ana hancur mendengar apa yang diucapkan pak Mamat pada dirinya. Otomatis persoalan uang lah yang jadi masalah, Ana tidak bisa berbuat apa apa lagi kecuali pasrah atas ketentuan bapaknya, bukan ketentuan Allah.


Di sebuah jembatan Ana berdiri dengan tatapan kosong, cairan bening mengalir di pipinya membuat wajahnya basah oleh air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Tanpa sadar tangan kirinya mengusut cairan bening itu yang keluar deras.


Tiba tiba matanya melirik sebuah cincin yang melingkar dari cari manis nya. Sebuah cincin hasil penjualan pertanian dulu kini terlihat jelas, akhirnya ia pulang ke rumah dsn mengeluarkan motor untuk ke Panimbang menjual cincin yang ada di jati manisnya.


Waktu itu rumah sedang kosong, ibu DNS bapaknya pergi ke sekolah belum pulang sampai ia sekarang. Ia hanya sendirian di rumah, otomatis gadis itu lolos dari pengawasan orang tuanya untuk menjual cincin.

__ADS_1


Alhamdulillah dari penjualan cincin itu ia pulang dengan hati riang gembira sekali. Sore ia akan mencoba minta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi ke acara lomba Tralis yang diselenggarakan di Kampus IAIN Serang.


Jam 16.00. Bapak sedang membaca buku, sedangkan ibu di dapur sedang masak untuk makan sore.


"Pak!" panggil Ana lembut.


Pak Mamat lanhsung menghentikan aktifitas membacanya, ia menatap putrinya dengan tajam. Ana duduk di lantai sedangkan bapak nya duduk di kursi.


"Pak, Ana besok berangkat ke Serang, Ana minta izin ke bapak untuk mengizinkan Ana pergi," suara An lirih tapi masih terdengar dengan jelas sekali.


"Nggak! Ana nggak boleh pergi, Ana disini saja!" teriak ibunya lanhsung menghampiri keduanya.


"Bu, dengarkan dulu Ana," sanggah bapaknya sambil melirik istrinya.


"Pak, tadi Ana menjual cincin yang An punya, masalahnya kalau nggak di jual pasti Ana nggak ikut lomba Tralis." jujur Ana..


Kedua orang tua Ana hanya diam saja mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ana, mereka tidak menyangka kalau Ana bakal menjual cincin dari hasil penjualan sayuran yang Ana tanam. Pengakuan Ana membuat kedua orang tuanya tidak menyangka kalau putrinya bisa menyisihkan uang dan di belikan cincin.


Ya Ana menceritakan itu lada orang tuanya, mendengar cerita Ana, pak Mamat dsn ibu Tri membisu seketika juga..


"Oke! Besok An boleh berangkat tapi dengan syarat?" akhirnya ibu Tri mengambil keputusan pada Ana.


Ana awalnya senang mendengar kata kata ibu nya mengizinkan lanhsung kalau besok bakal pergi ke Serang, tapi gadis itu pasrah kerena harus ada syarat yang harus dilakukan oleh gadis itu.

__ADS_1


"Syarat nya apa?" tanya Ana ragu.


Ia takut kalau syarat itu yang memberatkan Ana untuk pergi ikut lomba Tralis.


"Besok Ana boleh berangkat tapi harus diantara Sam bapak ke Serang." kata ibunya menatap sang putri tajam.


Ana langsung mengangguk seketika juga, ia riang sekali diizinkan pergi dengan bapak. Tanpa menunggu waktu lagi Ana mempersiapkan syarat yang harus dibawa untuk ikut lomba Tralis.


( Jujur saya juga tidak tahu kalau Tralis Training Menulis cerpen, puisi, artikel, jurnalistik, essai dan opini. Itu bagian dari kegiatan FLP yang merekrut anggota FLP, dan saya angkatan II FLP Cabang Serang yang diselenggarakan di kampus IAIN Serang di mesjid yang dulu sebelum renovasi ).


Malam hari Ana ingin membicarakan ini lada Anton tapi Anton malah menginap di rumah pak Asep Wahyudin kerena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal. Anton telpon ibu Tri.


Ada kekecewaan dihati Ana mendengar Anton menginap, ia sebenarnya ingin memberikan khabar pada Anton kalau ia mendapatkan izin dari bapak untuk ikut lomba Tralis. Tapi kerena Anton menginap jadi ia tidak bisa mengatakan apa apa pada Anton masalah ia berangkat ke Serang.


Akhirnya ia mempersiapkan beberapa cerpen untuk dibawa ke perlombaan tralis itu, ada dua judul cerpen, dan satu judul puisi. Malam itu An mendadak membuat dua cerpen dengan tema yang berbeda, satu tema remaja percintaan dan satu tema tentang remaja islami.


"Kalau lomba Tralis harus tema remaja islami, kerena mengangkat cerita yang berbau Islam. Kerena baru kali ini ia membuat tentang remaja islami jadi kesulitan sekali apalagi kehidupan Ana jauh dari Islam. Dan akhirnya ia mengangkat judul Sengenggam Cahaya untuk Sahabat. Cerpen ini dibuat untuk mengenang sahabat dirinya yang meninggal kerena mabuk. Tapi sebelum meninggal cowok itu membimbing si cewek ke arah yang lebih baik lagi.


( Sengenggam Cahaya untuk sahabat, adalah kisah nyata saya dengan 4 sahabat cowok sebelum kedatangan Anton. Kejadian ini terjadi sewaktu saya lulus SMU dan saya harus kehilangan salah satu diantara empat orang itu, kerena overdosis minuman keras ).


Sedangkan untuk cerpen keduanya, Ana menulis judul Mencari Cinta yang sesungguhnya. ( Cerpen ini diambil dari kisah nyata saya ketika masih SMU, saya baru tahu kalau ada salah satu cowok yang suka sama saya tapi saya tidak ladeni, akhirnya membuat nekad ingin merusak kesucian saya tapi pada malam itu saya tidak ikut acara tahun baru. Malah yang jadi sasaran teman saya sendiri. Cerpen ini dimuat di kumcer Gilalova#5 ).


Setelah semuanya beres Ana memasukan kedua cerpen, dan satu puisi nya ke dalam plastik supaya rapi. Ia mengerjakan sampai jam 22.00 akhirnya setelah selesai langsung tidur di kamar sambil peluk guling.*

__ADS_1


__ADS_2