
Perjalanan yang telah menemukan sebuah jalan tidak mudah untuk dilalui keren di sana ada sebuah perjuangan yang harus selalu diraih biarpun itu tidak semudah apa yang dibayangkan. Ana tidak pernah menyangka bakal seperti sekarang melewati semuanya melalui motivasi, dukungan semuanya.
Kalau ingat masa itu, ia hanya bisa mengelangkan kepala nya tidak pernah mempercayai sebuah perjalanan yang penuh dengan sebuah keringat yang bercucuran dan semangat. Sebuah perjalanan yang kalau dilihat kembali tidak mungkin rasanya sampai di tepi kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan satu sama lainnya. Tibantiba dengan hatinya Ana masih bisa merasakan masa masa yang telah dilewati oleh dirinya..
Mimpi yang tidak pernah tergapai kini menjadi nyata, bisa tergapai oleh tanganya yang ia ngenggaman. Kenangan masa kecilnya hadir bagaikan semangat yang tidak pernah putus begitu saja.
"Indah masa itu yang tidak pernah aku duga sama sekali, sebuah perjalanan yang indah saat semuanya telah tergapai, banyangan waktu kecil nya kembali hadir diantara ingatannya. Ya biarpun kenangan itu bagaikan punzle puzle yang saling bertautan satu sama lainnya membuat ia begitu menikmati masa itu mas dimana ia masih dalam proses pencarian yang tidak selamanya jelek.
Kilas Balik kehidupan Ana tahun 1990-1996
Gadis yang suka sama rambutnya di kepang dua ini, berlarian berlarian kecil menuruni jalan setapak menuju sebuah sungai yang tidak jauh dari rumahnya, mungkin kalau jalan ke sungai hanya 5 menit jauhnya. Dengan lincahnya ia berlari dan turun ke air yang mengalir deras, berenang kesana kemari menikmati jernihnya air sungai yang berwarna jernih sekali.
Ana kecil tidak pernah menyangka kalau kehidupannya bakal seperti sekarang, ya cita cita dari awal memang sudah terlihat sekali dari kecil. Tapi keinginan hanya dipendam di sanubari kecil Ana yang hanya punya mimpi yang tidak pernah ada diantara anak anak desa lainnya
"Ana mah hayang jadi anak kota," celoteh nya ruang ( Ana mau jadi anak kota ).
"Sieun di kota mah, loba culik, terus daging na di jieun bakso," ( takut di kota, banyak culik, terus dagingnya dibikin bakso )." Cipir yang lainnya mengejek Ana kecil..
PLAK!
__ADS_1
Tiba tiba Ana melayangkan tanganya ke wajah Kinah yang menyela omongan dirinya. Kinah yang tidak.meyangka langsung meraung kesakitan akibat pukulan Ana yang keras mengenai matanya. Untung gadis itu tidak memukul mata Kinah kalau sampai mata Kina sampai kena bisa fatal akibatnya.
Keren takut akhirnya Ana langsung pulang ke rumah langsung sembunyi di kolong ranjang, kerena takut dimarahi oleh orang tua Kinah. Ana sebenarnya orangnya jail dan kadang nakal juga tapi orang orang sering mengadukan kenakalan Ana pada orang tuanya otomatis Ana takut di marahi sama pak Mamat bapaknya.
Begitu juga dengan kejadian tadi, Ana langsung pulang ke rumah dan.masuk kolong biar tidak ketahuan sama orang tua, ia masuk ke kolong kamar ibu kerena kalau ia masuk ke kolong kamarnya pasti ketahuan.
Apa yang ditakutkan oleh Ana terbukti ibu mencari Ana untuk dihukum tapi bocah itu tidak ketahuan, malah pak Mamat yang tahu persembunyian Ana. Pak Mamat menghukum Ana dengan menulis kejadian tadi di kertas yang ia berikan buat Ana. Ini lah awal Ana menulis dari bapaknya.*
Apalagi kalau liburan sekolah ia dan keluarganya selalu pergi ke rumah Mbah di Yogyakarya tepatnya kabupaten Sleman.
Kehidupan kabupaten Sleman atau disebut kota pelajar itukah yang membuat Ana terkesima sekali. Lampu yang terang sekali, sedangkan kalau di Banten tepatnya di Kp Pamarihan lampu hanya mengunakan lampu kecil mengunakan minyak, kalau mau terang pake lampu patroma.
Kemegahan kota pelajar itu membius gadis desa yang haus akan keramaian kota.
"Mbak tuh yang pake bahasa planet," tuduh Ana sengit.
Ya Ana menganggap bahas Jawa solo adalah bahasa planet yang tidak.leenah ia mengerti sama sekali, mbak sepupunya Sari malah menjitak kepal la Ana dengan gemasnya, ia tidak ikhlas kalau bahasa sehari harinya di sebut bahasa planet atau bahasa apalah. Begitu juga dengan Ana, yang tudks suka bahasa sundanya diinjak injak.
Biarpun hanya beberapa hari Ana di Yogya tapi ia merasa puas sekali berada di Yogya, kata ibu Tri kalau Ana lahir di Yogyakarta. Yupz ijazah dan akte lahir juga di Yogyakarta.
__ADS_1
"Bu, Ana hoyong Cicing didieu, sakola na geh," ujar Ana minta untuk pindah sekolah dari Banten ke Yogya. ( Bu, Ana mau diam disini, sakolah juga ).
Ibu Tri yang sudah lama diam di Banten otomatis mengeri apa yang putrinya katakan, tapi ini Tri hanya mengelangkan kepala mendengar apa yang Ana omongkan. Ia tidak mau kalau Ana sekolah jauh tanpa diperhatikan oleh dirinya.
Akhirnya kita kelahiran Ana ditinggalkan begitu saja, mereka menuju sebuah kota di Jawa Barat yaitu Tasikmalaya, ya bapaknya Ana asal Tasik tepatnya Kp Anto. Ana juga betah kerena biarpun pengunungan tapi kalau di bandingkan tempat tinggal Ana lebih baik Kp Anto.
Di Tasik Ana tidak kesusahan bicara keren disana mengunakan bahasa Sunda halus, sedangkan ia sendiri mengunakan bahasa Sunda kasar.
Kalau dibandingkan Tasik dan Yogya, lebih baik memilih Yogya kerena dekat dengan kampus UII dan dekat sama akses dan mudah untuk menuju pasar sedangkan Tasik hanya perkampungan kecil yang asri jauh dari keramaian.
Mungkin cita cita hidup di kota hanya keinginan semata saja, ya ia harus kembali ke kampung masa kecilnya dulu berada. Tapi ia tidak mengikuti kalau hidup di kampung juga mengasyikan juga bisa renang di sungai, loncat dari atas sampai terjun ke bawah sungai, naik pohon dan segala macamnya.
Ya satu hal yang tidak dimiliki oleh anak kota yaitu bebas main tanpa takut diculik. Tapi keindahan kampung malah sirna.oleh gadis berkacamata itu kerena keinginan hidup di kota yang membuat terbuai. Ia ingin hidup di kota kerena buku yang dibacanya kalau kota itu indah tapi nyata nya tidak indah banyangan Ana.
Akhirnya melalui buku juga Ana sering melihat kemegahan Jakarta yang super sekali, siang dan malam tidak ada bedanya sama sekali, apalagi fasilitas yang membuat ia mabuk kepayang.
Masa kecil yang biasa seperti yang lainnya, hanya satu cita cita yang dipengang teguh olehnya yaitu ingin jadi sarjani pertanian. Ditambah lagi waktu kecil ia sering menanam tanaman ya biarpun tidsk.lernah menghasilkan, hanya satu yang membedakan dengan anak anak lainnya, ia sejak kecil telah menyukai baca buku.
Ya mungkin semangat Paka mamat lah yang mengajari Anak membaca dsn menulis Kalai itu, ia tidak pernah berpikir kalau ia bakal mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Sarjana pertanian," ujar bocah kecil 10 tahun itu dengan senyuman manisnya.
Entah kenapa ia ingin jadi seorang sarjana pertanian sedangkan ibu dan bapaknya seorang pendidik. Apa keren kedua kakek dsn neneknya seorang petani?