Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 16


__ADS_3

Sayup sayup terdengar suara yang membaca Alqur'an begitu merdu dsn indahnya. Ana langsung bangun dan mendengarkan alunan ayat suci Al Qur'an yang mengalun membangunkan dirinya yang tidur panjang.


Ia langsung bangun dan menatap dan langkah kecilnya menuju ruang tamu, disana ia menatap kamar yang tertutup oleh pintu. Suara Anton yang sedang mengaji membuat hatinya tenang dan adem sekali.


Ya biarpun ia Islam tapi masih mencari jati dirinya, sholat juga masih suka disuruh suruh dan tidak pernah ada niatan untuk sholat, kecuali kalau memang kalau butuh. Mendengar alunan ayat suci Alquran yang mengalun indah membuat hatinya tenang dan tentram sekali.


Tiba tiba hatinya berkutik kaku punya suami ingin punya suami yang membaca Alqur'an nya rajin, indah sekali alunan surat yang dibaca Anton ya biarpun ia sama sekali tidak tahu surat apa yang dibaca oleh cowok itu tapi rasanya tenang sekali.


Ana memang Islam dari kecil hanya sering dilakukan adalah puasa Ramadhan tanpa sholat wajib sama sekali🤦.


"Kak, kenapa sih kakak nggak nyentuh tangan Ana?" tanya polos Ana pada Anton waktu Anton duduk di teras sambil baca buku yang di pengang nya.


Ana benar benar tidak menduga kalau cowok Dihadapannya adalah kutu buku, sama sama suka baca kaya dirinya. Hanya yang membedakannya ia suka baca novel sedangkan Anton suka baca non fiksi.


Anton hanya diam saja waktu Ana bertanya seperti itu, ia mungkin merasa heran pada gadis yang ada dihadapannya. Ya tidak heran bagaiamana seorang gadis usia hampir 21 tahun malah bertanya seperti itu pada dirinya, seharusnya kan sudah tahu, kenapa ia dan Ana tidak boleh bersentuhan. Ini malah mengajar dan menanyakan nya.


"Haram pokoknya." ujar kekeh Anton tanpa penjelasan.


"Iya haram darimana nya? Masa persentuhan kulit sama An kakak nggak mau?" Rajuk Ana merasa heran.


Ya Ana baru ketemu mahluk seperti Anton yang tidak pernah menyentuh tangan wanita. Gadis itu berpikir kalau Anton sebenarnya nggak suka pada dirinya, kerena mungkin Anton berpikir Ana adalah cewek tudks benar makanya tidak mau salaman dengan dirinya.


"Kakak lucu, masa salaman itu haram. Haram dari mananya kak?" ketus Ana..


Tanpa diduga sama Anton, gadis itu memegang tangan cowok itu sampai Anton terkejut dan menepiskan tangan gadis itu, Anton marah dan langsung pergi begitu saja. Ana dengan cepat meraih tangan Anton tapi cowok itu menepiskan beberapa kali tangan cewek yang mengejarnya.

__ADS_1


"Kakak mau berangkat, udah kamu jangan seperti itu!" ketus Anton.


Anton langsung berlari ke halaman rumah dan menuju kendaran roda dua yang terparkir dan cabut di rumah itu. Sedangkan Ana.hanya begong saja melihat Anton seperti ke setan seperti itu, ia semakin penasaran pada sikap cowok yang baru beberapa hari di rumahnya.


Tingkah laku Anton selalu diperhatikan oleh Ana, dari kegiatan sehari hari di rumah, diluar dan kegiatan lainnya. Tapi pertanyaan masalah haram hukumnya menyentuh tangan wanita masih membuat gadis itu berkerut kulit wajahnya.


Sejujurnya seumur hidup Ana baru Kalai ini bertemu dengan cowok yang tidak menggoda dirinya, kehidupan Anton ini bakal menjadi jalan gadis menuju hidayah Allah.


"Kak, udah punya pacar belum sih!" celetuk Ana waktu Anton sedang melihat halaman rumah.


Gadis itu menyentuh bahu Anton dengan lembutnya.


"Astagfirullah Ana! Ingat pacaran itu hukumnya haram, dalam Islam itu haram untuk pacaran!" teriak Anton sambil menepiskan tangan Ana yang memegang bahunya.


"Pacaran haram, sentuhan haram, terus nikahnya kapan kalau semua nya haram," Dengus Ana kesal.


Sentuhan tangan haram juga belum beras, ditambah lagi pacaran itu haram, ya haramnya dimana?


"Na, lebih baik kamu menulis saja deh! Jangan nganggu kakak," usir Anton dingin.


Deg!


Hati Ana bergetar saat Anton mengatakan kalau ia harus menulis, ya secara diam diam laki laki itu sering memperhatikan Ana menulis, ia pernah membaca karya cerpen yang Ana buat tanpa gadis itu tahu sama sekali.


Hati Anton sebenarnya bergetar sat melihat tulisan tangan Ana yang membuat rangkaian kata yang bagus dan ceritanya menarik, ia tidak menyangka kalau gadis yang selalu membuat ia risi itu memiliki minat yang besar pada bidang menulis.

__ADS_1


Ya Anton tahu sebenarnya Ana bukan wanita yang nakal atau wanita yang seperti wanita wanita lainnya, itu yang dilihat Anton dari Ana apalagi kehidupan Ana yang menurutnya berasal dari keluarga baik baik tidak mungkin kalau Ana nakal apalagi ia melihat setiap hari Ana menghabiskan waktu membaca dan menulis dsn jarang melihat gadis itu keluyuran atau menghabiskan waktu dengan bermain.


Untuk beberapa hari Anton bisa melihat aktifitas gadis itu setiap hari, apalagi mereka satu rumah otomatis ia tahu tentang Ana sedikit demi sedikit. Mendengar itu Ana hanya manyun dan ia juga tidak menyangka kalau ada cowok selain bapaknya memperhatikan dirinya apalagi di bidang yang hampir ia lupakan sekali.


"Sayang, Na. Kalau bakat menulis Ana dibiarkan begitu saja, gali terus siapa tahu jadi penulis terkenal." kata Anton melirik Ana yang berada di depannya.


Ana hanya diam saja, ya selam ini ia tidak pernah menulis lagi. Tulisan yang Anton baca adalah tulisan yang pernah Ana buat sebelum Anton di rumah Ana, sejak Anton datang ke rumah Ana, ia hanya membaca novel saja tudks lebih dan kurang. Jadi waktu Anton mengatakan itu gadis berkacamata hanya bisa terdiam sejenak dan tudks bisa berkata kata lagi.


"Ya sayang sih! Kak, tapi apa Ana bisa jadi penulis?" tanya Ana pesimis..


"Jangan pesimis kaya gitu, optimis lah." hibur Anton.


Biarpun ia bungsu dari tiga bersaudara tapi dalam lubuk hatinya menganggap Ana sebagai adiknya ya biarpun umur Anton dan Ana hanya berpaut 4 tahun, lebih muda Ana. Dihati cowok itu ada sebuah kekaguman melihat aktifitas yang dilakukan Ana, apalagi seorang gadis yang seumuran yang harus main dan tidak kenal waktu.


Tapi menurut Anton, Ana gadis yang baik. Hanya butuh bimbingan dan sifatnya yang ingin tahu akan selalu tertancap sebuah kepedulian.


"Bagaiamana pun, Ana wajib berjuang untuk menggapai semua yang Ana inginkan, tetap optimis dsn semangat ya."


Nasehat dari Anton mengalir terus di setiap pertemuan kecil dengan Ana. Ia tidak bidan bosan memperhatikan Ana dari segi agamanya ya biarpun Ana sering bikin kesal hatinya tapi ia memaklumi kerena Ana tidak tahu apa apa apalagi dunia.luat yang benar benar luas.


"Pengen sih! Ana Pengan jadi penulis tapi bagaiamana kak, Ana hanya lah anak anak desa yang,," ujar Ana pesimis..


"Jangan ngomong kaya gitu, jangan mengeluh, jangan pesimis man Ana yang sellau optimis," Sanggah Anton.


Ana tidak berkutik mendengar ucapan halus Anton. Hati gadis itu merasa nyaman sekali berada di dekat Anton.*

__ADS_1


__ADS_2