Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 97


__ADS_3

Sebenarnya Ana melakukan kelakuan itu pada ibu Ratih kesal saja, kerena setiap gutu mapel ekonomi memberikan tugas pasti harus mengerjakan pr, Oke kalau PR jawabannya pendek, pertanyaan hanya satu jawabnnya pasti satu kertas harus penuh dengan jawabannya. Ditambah lagi ia juga tidak suka cara mengajar ibu Ratih membuat mwngantikndi kelas, tidak pernah bercanda. Otomatis ia tidak suka.


"Na, seharusnya kamu jangan begitu sih sama ibu Ratih," tegur ibu Elis mengingatkan Ana. 


"Nggak baik mengerjai guru, nanti nggak bermanfaat ilmunya," lanjut ibu Elis. 


Wanita 23 tahun itu menatap muridnya dengan tajam, ia juga mendengar kabar itu kalau Ana membuat onar kembali. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar nya, bukan sekali dua kali sih ia mendengar berita itu malah sering banget. 


Tapi bagaimana pun juga Ana muridnya jadi ibu Elis selalu gurunya maupun orang tua di sekolah berani menegur Ana. 


"Kamu jangan sekali kali lagi seperti itu ya Ana! Guru  itu orang tua di sekolah," 


"Iya, Bu. Tapi, ibu bilang sama ibu Ratih jangan bikin PR terus gitu!" Sela Ana memohon. 


"Itu bagaimana gutu nya Ana, ibu juga sering ngasih Ana PR tapi kenapa Ana nggak protes," ucap ibu Elis menatap Ana. 


Gadis berkacamata langsung diam saat ibu Elis mengatakan perkataan itu pada dirinya.'Habis, Ana suka sih sama ibu.' bisik hati Ana. 


"Jangan sekali sekali lagi ya Na," pinta ibu Elis lembut. 


Ana mengangguk. Ibu Elis langsung beranjak dari kursi meninggalakan Ananyang sedang membaca buku. Ia meninggalkan Ana kerena ada murid yang mau pinjam buku. 


'Bu Elis, tahu nggak sebenarnya Ana nggak suka sama ibu Ratih, kerena membosankan diajar oleh ibu Ratih ketimbang sama ibu,' bisik Ana dalam hati. 


Ya bukan Ana saja yang tidak suka sama guru mapel akuntasi/ekonomi, sebenarnya banyak murid yang protes tapi biarpun protes tetap saja wanita itu memberikan ilmunya lada siswa Siswinya. 


Ana sebenarnya saking tidak sukanya pada  ibu  Ratih memberikan banyak PR, ia akhirnya membuat jebakan dari terigu dan air, pinjam baskom ukuran sedang ke ibu kantin, setalah itu ia simpan diatas pintu yang dibuka sedikit, bibir bakom itu didekatkan ke atas dinding pintu. 


"Na buat apa itu?" Tanya Yayuk heran melihat Na membawa baskom dan air ke kelas 2. 

__ADS_1


"Sssst! Kamu diam saja nanti juga lihat sendiri." Ana menyuruh Yayuk diam. 


Yayuk heran melihat Ana seperti itu, hatinya bertanya tanya pada kelakuan Ana. Gadis berkacamata itu langsung menyatukan tepung terigu ke air yang ada di baskom. Diaduk pakai bambu yang ia temukan di WC, campuran air dan terigu itu diaduk sampai rata. 


Gadis itu menyuruh teman teman menurut sama dirinya untuk diam di kelas, setelah gadis berkacamata menjelaskan akhirnya mereka mengangguk dan mengiyakan apa yang dilakukan gadis itu. 


Sebenarnya Yayuk dan teman teman yang lain sudah melarang tapi  Ana kekeh tidak mau mengikuti anjuran dari Yayuk, Yayuk hanya mengelangkan kepala saja melihat Ana seperti itu, tapi buat siswa kelas 2A disetujui perbuatan Ana. 


Ana sengaja tidak masuk kelas juga ia malah nongkrong di kosan Ihah yang ada di depan SMU, supaya tidak ketahuan sama ibu Ratih, gadis itu sudah mempersiapkan sesuatunya. Dan ia tersenyum puas kalau jebakan bisa mengenai ibu mapel ekonomi dan akuntasi. 


Entah Ana juga tidak tahu kenapa ia begitu tidak sukanya pada ibu Ratih mapel ekonomi dan akutansi itu, sampai ia melakukan sesuatu untuk ibu Ratih. Setelah bel masuk berbunyi teman teman yang biasanya di luar kelas kini masuk duduk dengan tenang tapi hati sangat berdebar sangat keras, kalau kalau kalau jebakan itu tidak mengenai ibu Ratih. 


Tapi dugaaan Ana benar benar mantap. Tumpahan cairan adonan putih itu mengenai wajah dan seluruh badan ibu Ratih. Setelah mendengar kalau jebakannya mengenai guru mapel ekonomi tawa Ana lepas begitu saja mendengar cerita teman temannya. 


Ia benar benar bersorak dan merasa puas sekali telah mengerjai ibu Ratih dengan suksesnya. Ibu Ratih yang mendengar itu kelakuan  Ana langsung darahnya naik dengan tiba tiba, ia malu di depan murid murid yang lain dikerjai oleh Ana. Bukan itu saja ia juga harus balik ke kostan untuk ganti baju kerena baju yang digunakan sudah basah dan penuh dengan adonan tepung. 


BRAK 


Ana yang tidak menduga langsung kaget sekatika juga saat penggaris besi dipukul beberapa kali diatas meja. 


"Maafkan Ana, Bu."Terbata bata Ana mengucapkan kata kata yang sulit ucapan oleh dirinya 


🐝


Mawar baru saja mendengar kalau Ana bikin onar membuat ibu Ratih marah besar pada Ana sendiri. Gadis itu hanya menggelengkan kepala saja, kerena biarpun ia nakal dan usil tidak pernah membuat guru guru marah pada dirinya.


Hari itu ibu Ratih marah besar sama Ana, gadis berkacamata dengan rambut masih digerai hanya menundukkan kepalanya saja. Biarpun menundukan kepala nya, Ana hanya diam saja kerena mendengar nasehat dari ibu Ratih. Sedangkan Mawar yang masih di depan kelas 2 hanya menatap heran kepergian Arya yang cuek begitu lada dirinya. 


"Mungkin peletmu nggak berhasil," canda Cempaka. 

__ADS_1


"Aaaah! Sakit!" Teriak cempaka. 


Sebelum menyelesaikan bicaranya Cempaka menjerit kesakitan, ketika ia merasakan tangan Mawar dengan kuatnya mencubit lengan atasnya. Melihat itu Dahlia hanya senyum senyum saja, ya Mawar secara reflek mencubit lengan nya Cempaka. 


"Aku nggak mau pelet peletan, pengen murni!" Ketus Mawar menatap Cempaka. 


Cempaka hanya mengangguk saja, mengerti. Sedangkan di lain tempat Arya mencari tahu masalah yang Ana hadapi. 


"Kamu seriusan?' tanya Arya pada Rani..


"Iya kata Yayuk juga." 


Arya hanya mengelangkan kepala mendengar apa yang Rani ceritakan tentang Ana. Ia tidak pernah membayangkan kelakuan Ana pada  ibu  Ratih, ia hanya senyum saja saat Rani kalau Ana menyimpan satu baskom yang disimpan di.atas pintu yang tidak tertutup rapat. 


"Ada ada saja anak itu, bikin masalah dsn onar." Senyum Arya terdengar lucu. 


"Kalau kedengaran sama ibu Ratih kamu bisa bisa di bejek tahu," bisik Rani pada Arya. 


"Kenapa?" 


"Kanepa? Kamu bilang kenapa? Kamus bilang tadi lucu," sembur Rani lada Arya. 


Arya hanya mengelangkan kepala saja, dan sambil garuk kepala tidak gatal. 


"Gimana Mawar, kamu terima nggak tuh mawar," goda Rani. 


Pletak! 


Tangan Arya langsung mengenai kwoa Rani yang bersama dengannya, gadis itu menjerit kesakitan saat kepalanya dijitak keras oleh Arya. Rani langsung memukul Arya tapi cowok itu berlari menjauhi Rani.

__ADS_1


Pemandangan kejar mengajar antara Rani dan Arya terlihat oleh Mawar, gadis itu tiba tiba langsung wajahnya terlihat muram sekali.*


__ADS_2