Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 102


__ADS_3

Mau tidak mau akhirnya Ana ke ruangan ke ruangan perpustakaan. Sedangkan Rani menuju ruangan kreasi, ia tidak mengikuti Ana, ia lebih baik membereskan ruangan kreasi. Memang selama ini ruangan kreasi di urus sama dirinya, kalau Ana sekarang lebih banyak bantuin ibu Elis. Entah ia juga tidak tahu apa yang di kerjakan Ana di ruangan perpustakaan. Tapi kalau Ana di tanya dijawab juga, kerena ia buru buru jadi lupa untuk bertanya pada Ana.


Sedangkan Ana langsung ke ruangan perpustakaan, saat sampai di ruangan itu, ruangan perpustakaan sepi sekali, ya mungkin murid murid masuk semuanya, tapi biarpun istirahat perpustakaan memang sudah sepi dari sananya.


( Bagi orang orang introvert mungkin ruang perpustakaan adalah ruangan yang ternyaman dan ruangan yang selalu di rindukan dibandingkan ruangan yang ramai dan ruangan syurga untuk orang orang yang suka di dalam keheningan ).


"Assalamualaikum." Ucap Ana memberikan salam pada ibu Elis.


"Walaikumsalam,"jawab ibu Elis menyambut salam Ana.


"Na, tolong ya bantuin ibu, kasih sticker sticker ini di pungung buku yang ini," tunjuk ibu Elis pada buku yang menumpuk dihadapan Ana.


"Iya, Bu. Memangnya ibu mau kemana?" Tanya Ana heran.


"Ibu ada rapat di ruang guru, makasih ya Na." Jawab ibu Elis sambil meninggalkan Ana yang siap siap menempel sticker itu ke pungung buku.


Di perpustakaan hanya ada Ana, Rani sudah pergi entah kemana, tapi Ana menduga kalau Rani berada di ruangan kreasi. Kelas Ana tidak ada gurunya itu, otomatis membuat Ana dan Rani keasyikan kerena tidak ada guru sama sekali di dalam kelas.


Semua buku hampir dikasih sticker sama Ana, dalam sticker itu banyak nomor nomor yang asing buat Ana. ( Kalau sekarang Alhamdulillahntudaknasing lagi😊 ). Tapi ia tidak pernah menanyakan apapun juga, ia hanya diam saja. Sekarang ia juga begitu biarpun banyak pertanyaan yang dilontrakan tapi tetap saja bibirnya diam saja tidak pernah bertanya pada wanita 24 tahun itu.


Mungkin satu jam ia melakukan penempelan sticker di pungung buku. Tapi dalam keadaan seperti itu ia merasa nyaman sekali kerena tidak ada suara apapun juga, hanya ada suara angin yang terdengar lembut.


Setelah selesai menempel sticker Ana langsung mencari tempat untuk.membaca, apalagi angin siang begitu sejuk kerena tadi malam hujan menguyur dengan derasnya membuat ia betah banget membaca buku Sengsara Membawa Nikmat.


BRAK!


"Astagfirullah!" Jerit Ana kaget saat ada suara yang keras menghantam rak buku. Ia langsung memandang orang yang datang.


"Mawar apa apaan sih kamu!" Teriak Ana keget ketika melihat Mawar berdiri dengan tatapan heran.


Gadis itu langsung menghampiri Ana yang sedang duduk di kursi dekat pojok! Hati Ana berdengkup dengan kencang saat Mawar menghampiri apalagi ditangannya membawa kayu kecil, ia beberapa kali menelan ludah. Ketar ketir rasanya.


"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari aku dan teman teman!" Tatap mata Mawar.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Ana nggak ngerti."


"Kamu tahu kan Melati?" Tanya Mawar seperti menyelidik Ana.


"Melati? Maksudnya?"


"Kamu tahu kan kalau Melati hamil?" Tanya Mawar.


"Mawar! Jangan menuduh kalau tidak ada bukti nanti fitnah."


"Aku tahu kalau Melati hamil, Rian yang bilang."


"What? Apa hubungannya dengan Melati?"


Ana otomatis shock! Mendengar pengakuan dari mawar tentang Melati. Apa lagi tahu dari Ria? Ditatap wajah Mawar, ada kecamuk dalam hatinya Na.


"Ria cerita semuanya."


"Terus kamu percaya begitu saja? Siap tahu dia bohong!" Elak Ana berusaha menutupi yang terjadi.


"Kenapa kamu kepo?" Tanya Ana menatap Mawar.


"Kalian lagi bicara apa?" Tanya ibu Elis tiba tiba menghampiri kedua gadis itu.


Ana dan Mawar saling bertatapan satu sama lainnya agak terkejut kerena tiba tiba ibu Elis datang tanpa mereka sadari, Ana hanya menggelengkan kepala begitu juga dengan Mawar kedua gadis itu saling tatap satu sama lainnya.


"Apa yang kalian bicarakan? Masalah apa? Kenapa kalian malah diam ketika ibu datang?" Pertanyaan bertubi tubi yang dilancarkan ibu Elis.


Wanita yang baru saja menyelesaikan rapat di ruang guru menatap kedua gadis yang ada di hadapannya ia sangat nyakin kalau keduanya saling bicara entah apa yang dibicarakan ia juga tidak mengetahui sama sekali.


"Bu, sueeer nggak bicara apa apa kok! Bu, kerjaan udah beres sekarang mau ke kelas dulu," hindar Ana langsung beranjak dari duduknya dan pergi menarik tangan mawar.


Hati Ana sudah tidak karuan sama sekali, apalagi kalau sampai ibu Elis tahu kalau melati hamil diluar nikah bisa bisa urusannya panjang. Sebenarnya ia nyakin kalau ibu Elis mendengar nya tapi mungkin sebagai guru bisa saja pura pura tidak mendengar. Ya ini privasi Melati dan Bram.

__ADS_1


Ibu Elis begong melihat Ana pergi begitu saja tanpa pamit, ia juga lupa untuk mengucapkan terimakasih pada Ana. Kerena tadi membantu dirinya untuk menempel sticker di punggung buku. Sedangkan Ana langsung beranjak dari duduk sambil menarik tangan Mawar yang ditarik Ana hendak menepiskan tangannya dari genggaman tangan Ana tapi genggaman tangan sangat kuat jadi mawar tidak bisa melepaskannya. Setelah di luar perpustakaan akhirnya Ana melepaskan tangan Mawar.


"Apa apaan sih kamu, sakit tahu!" Teriak Mawar sambil menepiskan tanganya dari tangan Ana.


"Maaf!"


Ana langsung meninggalkan Mawar begitu saja, sedangkan Mawar yang ditinggalkan oleh Ana hanya garuk garuk kepal saja, akhirnya ia menyusul Ana menuju kelas 3. Sebenarnya Mawar tahu kalau Ana menarik tanganya hanya untuk menghindar dari ibu Elis. Apa yang di duga oleh Mawar tepat sekali, Ana hanya takut kalau ibu Elis bertanya tentang Melati lada Mawar dan agak memojokan dirinya.


Akhirnya Mawar menuju ke kelasnya, dilirik Ana yang sedang membaca. Mawar hanya menghela nafas saja melihat Ana.


🐝


"Ria apa apa an sih!" Teriak Ana kaget.


Ana sangat terkejut ketika ia sedang berdiri di depan perpustakaan tiba tiba Ria dengan cepat memeluk tubuh Anndari belakang.


Ana berusaha melepaskan tangan Ria yang mencium rambutnya, ia merinding sekali melihat perilaku Ria seperti itu, untung ia bisa melepaskan dari pelukan Ria.


Plak


Tiba tiba Ana dengan geramnya menampar pipi Rian dengan kerasnya, ia tidak mau dilecehkan begitu saja oleh Ria.


"Na, aku sayang kamu please!"


"Ria Istigfar!" Jerit Ana.


Ana benar benar tidak menyangka kalau pagi itu Ria bakal datang ke sekolah se pagi itu, kalau ia tahu dari awal mungkin ia tidak bakal pergi pagi.


"Na, boleh ya sekali ini aja," pinta Ria..


"Ria lebih baik kamu cari cowok, yang mencintai mu jangan aku, kita sama sama cewek!" Ana merinding.


"Cowok? Nggak level, banyak cowok yang mempermainkan cewek!" Teriak Ria berapi api menatap wajah Ana.

__ADS_1


"Tapi nggak semua nya Ria, kamu harus sadar apa yang kamu lakukan ini nggak baik!" Ana berusaha menasehati Ria.


Bukan mendekati Ria sebenarnya, ia hanya takut kalau ria melakukan hal yang diluar batas dirinya sendiri. Kalau mau jujur lebih baik ia bertengkar dengan Mawar seperti kemarin dari pada harus berhadapan dengan Ria seperti ini. Dalam hatinya ia memohon pada Allah supaya ada teman teman yang datang ke sekolah daripada ia harus berhadapan dengan Ria.*


__ADS_2