Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 96


__ADS_3

Pagi itu!


Ibu Ratih dengan muka merah padam, menahan emosinya bolak balik antara ruangan OSIS, ruangan kreasi, ruangan gitu, Tu, Lab, dan ruangan ruangan lainnya.


Baju, rok dan kerudung yang ia gunakan sudah tidak karuan, baju yang tadi pagi di ganti dengan baju sekolah ( saya sebut baju pdh saja ya😂😂 sebenarnya bukan pdh sih ). Harus basah dan lengket oleh adonan tepung yang dicampur air. Ia tidak menduga harus menerima itu semua.


Siwa siswi yang melihat itu menahan tawanya yang hampir saja tumpah, mungkin kalau bukan ibu Ratih yang jadi korban, siswa siswi kelas 2A pasti tertawa lepas berbahan bahak melihat kejadian itu!


Ia langsung menatap kearah siswa siswi yang ada di depannya, wajahnya merah padam menahan malu dihadapan siswa, hatinya bergemuruh dengan kuat sekali.


Tawa tertahan siswa siswi terlihat sangat jelas sekali, ia melempar pandangan kearah ketua kelas seperti ingin bertanya padanya.


"Ana, Bu!" Teriak seseorang memberitahukan ibu Ratih.


Mendengar nama Ana disebut tiba tiba bola matanya hampir keluar seketika juga. Dengan perasan yang tidak dilukiskan olehnya ia langsung keluar dari dalam kelas diikuti oleh tatapan dan derai tawa semua siswa kelas 2A.


( Maaf kalau salah,🤔🤔🤔saya lupa saragam yang digunakan waktu dulu 1999-2002. Entah ada batik atau tidak, dan warna putih juga entah ada atau tidaknya? Seingat saya kalau tidak salah saragam guru waktu tahun segitu, Limas dipakai Senin dan Selasa, PDH dipakai Rabu dan Kamis, Jumat dan Sabtu lupa sih! Ya udah kita gunakan saragam tahun sekarang saja ya🤭🤭 ).


Hatinya bergedumel, bibirnya yang tipis bicara apa entah tidak kedengaran sama sekali seperti berkomat kamit tidak karuan sama sekali.


Kadang berjalan di ruang guru, matanya menatap lurus, kadang masuk ruang TU disana ia hanya mematung saja. Untung semua ruangan tidak ada gurunya, ia seperti mencari Ana kerena gadis itu tidak masuk di kelasnya.


Ia juga masuk ke ruang perpustakaan tapi balik lagi. Ibu Elis yang melihat hanya melongo saja melihat baju yang digunakan ibu Ratih penuh dengan cairan putih yang menempel, wajahnya juga penuh dengan adonan itu, mau bertanya ia ragu kerena melihat wajah ibu Ratih ditekuk sedemikian rupa. Ia hanya mengelangkan kepala saja melihat kelakuan guru seniornya itu. Ya ia datang ke SMU ini, ibu Ratih sudah ada di sekolah itu.


"Anaaa!"

__ADS_1


Teriak wanita mengunakan kacamata dengan emosi yang membludak, kerena ia merasa kesal, marah, gemas, ia berteriak di ruang guru. Teriakannya terdengar nyaring sekali, apalagi waktu itu masih menunjukan pukul 08.00. Ini Elis langsung keluar dari ruangan perpustakaan melihat apa yang terjadi, tapi wanita itu hanya diam saja di ambang pintu.


Guru guru yang lain sudah masuk ke kelas masing masing sedang memberika pelajaran sesuai dengan mapelnya. Sebenarnya ibu Ratih juga sudah masuk di kelas 2A, tapi ia terkejut sekali tidak tahunya Ana mengunakan jebakan air dan tepung diatas pintu yang hanya terbuka sedikit. Otomatis saat pintu olehnya dibuka lebar, dua ember berisi tepung dan air langsung mengenai tubuh dirinya.


Baju yang digunakan nya basah dan kotor sekali akibat dua larutan yang dicampurkan itu, siswa dsn siswi kelas 2A semuanya tertawa, sedangkan Ana tidak ada ditempat.


🐝


Hahahaha


Tawa Ana dengan renyahnya, ketika Yayuk memberi tahukan kalau ibu Ratih marah dan mencari dirinya. Ia sebenarnya membayangkan wajah ini Ratih yang pastinya merah padam menahan marah dan malu apalagi kejadian itu dilihat oleh semua kelas 2A.


"Ibu Ratih nyari kamu Na. Kenapa sih kamu kaya nggak suka kalau ibu Ratih masuk?" Tanya Yayuk.


"Aku nggak suka sama ibu Ratih, masalahnya tiap itu harus ada PR yang harus di kerjakan. Kalau tidak dikerjakan pasti ngomel, aku nggak suka." Ujar Ana merasa kesal.


"Na, kamu gila ya kenapa sih kamu lakukan itu!" Tiba tiba Rani datang menghampiri Ana yang berada di depan ruang kreasi.


Ya tadi ia menerima berita kalau Ana mencari masalah dengan ibu Ratih. Gadis yang ditegur hanya tersenyum saja, Rani yang melihat itu langsung memukul tangan Ana dengan kerasnya.


"Sekarang ibu Ratih pulang, semoga saja nggak usah balik lagi," celetuk Ana.


"Nggak mungkin ibu Ratih nggak balik lagi pasti balik lagi," gerutu Rani.


Sebenarnya bukan hanya Ana saja yang berkomentar seperti itu, Rani juga. Apa Yang dipikirkan sama dengan yang pikirkan Rani. Kalau ibu Ratih itu sering memberikan PR tidak tangung tangung membuat dirinya kadang pusing apalagi mapel akuntansi dan ekonomi yang bikin pusing, ya kalau ekonomi agak mending kerena jarang menggunaKan rumus rumus seperti matematika.

__ADS_1


"Na, dipanggil sama ibu Ratih," cempaka menghampiri Ana.


Ana langsung menatap wajah Rani dan Yayauk saling bergantian satu sama lainnya. Rani mengangguk mengiyakan, sedangkan Yayuk hanya mengangkat kedua bahunya saja tanda tidak tahu. Akhirnya dengan kerasan was was Ana langsung menemui ibu Ratih.


Hati nya sangat berdebar tidsk karuan sekali, Mawar yang melihat Ana seperti itu hanya memandang heran melihat kelakuan Ana. Memang ia tidak mendengar apa yang terjadi pada Ana jadi ia hanya diam saja tidak komen atau bercicit.


"Kenapa sih cewek cupu itu?" Tanya Mawar pada kedua temannya.


"Entah aku juga nggak tahu," elak Dahlia.


"Kamu yang disuruh manggil Ana kan?" Lanjut Dahlia pada Cempaka.


"Aku juga nggak tahu apa apa sih!" Cempaka mengangkat kedua tanganya.


Mawar saling pandang satu sama lainnya, mau gabung dengan Yayuk Rani ia maulu kerena ia juga sering membuat onar. Tidak bertanya ia penasaran sendiri.


"Eh! Yan kamu tahu Ana dipanggil oleh ibu Ratih ada apa ya?" Tanya Mawar seperti pada diri sendiri.


Aryan yang akan melewati Mawar hanya menggelengkan kepalanya, ia langsung meninggalkan Mawar tapi gadis itu dengan cepat langsung menangkap tangan Arya.


"Ya, gimana dengan perasaan aku padamu?" Tanya Mawar tanpa rasa malu.


Ia meraih tangan Arya den bergelayut mesra, sedangkan kedua temannya melonggo melihat Mawar seperti itu. Cempaka hanya mencipirkan bibirnya, sedangkan Dahlia tersenyum sambil agrik agrik kepala tidak gatal melihat kelakuan Mawar.


"Eh apaan sih kamu," Arya menarik tanganya dari dekapan tangan Mawar, apalagi bukit mawar menyentuh lengan tangan atasnya terasa hangat.

__ADS_1


Arya menipiskan tangannya, mawar langsung mempereratkan pelukannya, Arya benar benar tidak bisa berbuat apa apa, ia langsung menjitak kepala Mawar dan mencubit lengan mawar.


Setelah terlepas dari tangan Mawar, Arya merinding saat merasakan bukit kenyal milik Mawar yang begitu kenyal dan lembut ya. Tapi gadis itu seperti nya tidak pernah merasakan semuanya, beberapa kali cowok itu merinding.*


__ADS_2