Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 34


__ADS_3

Pernikahan bukan ajang untuk perlombaan tapi pernikahan adalah ajang untuk menggali pahala di setiap apa yang di haramkan jadi halal. 


Kata kata itu selalu terhiang di telinga Ana. Kata kata yang bakal menjadi tumpuan dsn harapan ia di masa depan yang ceria. Dan kata kata motivasi itu, akhirnya jadi acuan Ana buat menata kembali kehidupan mya sendiri yang pernah terombang ambing oleh sebuah pernikahan semu. Ia mulai menata kembali dengan menulis ya biarpun gagal dan selalu gagal kerena tidak ada satu pun penerbit yang mau menerima karyanya.


"Apalagi kalau penulis pemula,"


Ditambah kata kata itu makin drop salah ia untuk menulisnya. Ya menurut sebegian.orang penulis pemula itu gampang gamang sudah untuk masuk ke dalam penerbitan apalagi penerbit ternama, hanya untuk mengangkat nama berkibar itu paling susah sekali.


Kalau sudah mendengar penulis pemula ia hanya bisa mengeluh kerena keadaanya, dsn yang tidak mungkin ada juga yang mengatakan kalau ingin menerbitkan buku dengan cara mendekati editor nya. Itu makin rumit saja kerena tidak mungkin ia menemui editor ternama. Tulisan masuk juga sudah apalagi menemui editor, pasti makin rumit lagi apalagi penerbit Mizan. Gramedia dll.


"Terus kalau ingin menulis disana bisa, asal kamu terkenal dulu oleh salah satu editor disana."


Ana hanya bisa menghela nafas kasar. Ya perjalanan yang menurutnya bakal mulus malah banyak krikil tajam yang siap melukai kulitnya kalau memang tidak hati hati.


"Sudah puluhan mengirim karya tapi nggak ada titik temunya."


"Masih belum keras perjuangannya."


Mendengar omongan itu Ana hanya mengelangkan kepalanya, seberapa keras sih perjuangannya? Sampai semua orang kalau bilang Ana itu belum keras untuk berjuang. ia hanya bisa menghela nafas kasar.


"Jangan berhenti disini, perjuangan kamu belum selesai," ujar Fey waktu itu mengingatkan Ana.


Gadis itu hanya mengangguk saja mendengarkan kata kata Fey seperti tahu apa yang ia pikirkan.


"Perjuangan."


Sejak kapan ia berhenti berjuang, seingatnya ia tetap berjuang untuk meraih menjadi penulis. Tapi nyatanya tidak ada satu pun penerbit yang bisa di tembusnya malah menjadi ia terpuruk dan merasa gagal mencapainya.


🐝

__ADS_1


Hp Ana berteriak dengan kerasnya..Ana awalnya tidak mau menerima telpon kerena ia masih asyik di depan laptop nya. Beberapa kali dering hp terdengar kembali, mau tidak mau akhirnya ia mengangkat hpnya.


📱Assalamualaikum, Bu Aya naon?


Kata Ana saat ia tahu kalau yang menelpon itu ibunya.


📱Walaikumsalam, Na. Ada kabar bahagia Alhamdulillah Ita sudah lahiran anaknya laki laki, lahiran sc.


jawab ibunya, terdengar suara ibu Tri dengan suara riang sekali kerena mendapatkan satu cucu dari Ita. Cucu laki laki.


Ana tidak langsung merespon apa yang ibu Tri katakan, di hatinya yang paling dalam ada luka kembali. Luka yang tidak berdarah sama sekali, tiba tiba ada sebuah kerinduan. Kerinduan ingin punya anak, rindu hamil, melahirkan dan menyusui.


Tapi ia berusaha menepiskan semuanya kerena ia nyakin itu tudkammungkin terjadi pada dirinya. Dsn sampai sekarang Ana belum ada yang melamar, kalau bisa ia ingin sebelum.ponakan besar ia sudah punya anak tapi kenyataan nya jauh sekali.


📱Dimana lahir nya, Bu?


Ia menanyakan Ita lahiran dimana, hatinya ingin sekali menjenguk ponakannya yang baru lahir itu.


📱Ya nanti kalau Ana ada waktu kesana menengok Dede nya Ita.


Setalah mengucapkan salam Ana langsung menutup sambungan hpnya. Ia menghela nafas mendengar adiknya melahirkan dengan selamat, apalagi kalau melihat pernikahan adiknya bahagia ada rasa iri menyelinap dihatinya dan ingin cepat cepat menikah. Tapi menikah dengan siapa?


🐝


Siang itu Ana ke Rumah Dunia hanya untuk membaca buku di RD. Tapi disana juga banyak teman teman yang sedang membaca buku, tapi belum Ana membaca Fey datang menghampiri Ana.


"Na, ikut projects penerbitan dong, kemarin kan Ana nggak ikut projects penerbitan lebih baik Ana ikut saja temanya sih tentang wanita." dukung Fey.


"Takut nggak lolos, Fey." Ana pesimis. 

__ADS_1


Ia menyangka projects penerbitan itu pakai penerbit terkenal masalahnya ia pesimis dulu sebelum bertindak. Ya bukan kali ini saja sih ia mengirim karyanya ke penerbit, sudah banyak penerbit yang ia kirim novel karyanya tapi tidak ada satupun penerbit yang menerimanya. Wajar kalau Ana mengatakan itu kerena ia takut gagal lagi, ada sia sia yang menghampirinya. 


"Kegagalan adalah awal segalanya, sebenarnya kegagalan itulah adalah awal segalanya yang Ana raih," nasehat Fey menepuk bahu Ana dengan lembutnya. 


"Iya sih! Tapi kira kira aku bisa nggak yah menulisnya?" tanya Ana seperti pada diri sendiri. 


Saking banyaknya ia jadi lupa judul judul cerpen atau kumcer yang dibuat oleh ia sendiri, masalahnya cerpen cerpen itu sekarang tiada ada di komputernya.


"Bisa. Jangan menyerah, semuanya pasti berjalan dengan lancar dsn mulus." 


"Oke, deh Aku bakal coba sekarang bit menulis cerpen. Nanti kirim kemana?" tanya Ana. 


"Nanti kirim ke aku biar aku bantu." 


"Tapi Na minta mas Gong buat krisan beliau mau bantu yang ingin karyanya di krisan oleh beliau." 


Ana ibarat mahasiswi yang mendapatkan bimbingan skripsi, setiap seminggu sekali dua kali pertemuan dilakukan dengan mas Gong, meminta krisan dari cerpen yang bakal masuk ke Gong Publishing. Mas Gong dengan  lapang dada membantu Ana, bukan hanya mas Gong saja tapi Mbak Tias juga memberikan krisan pada Ana supaya tulisan Ana lulus langsung terbit 


Kedua suami istri itu tidak pernah bosan memberikan yang terbaik buat Ana, malah mbak Tias menyarankan gadis itu bertemu dengannya setiap hari hanya untuk krisan pada karya Ana. 


"Na, kata kerja dan kata sifat harus dibedakan ya jangan disamakan. Kata sifat itu misal di rumah itu katanya di dan rumah dipisah." jelas mbak Tias dengan teliti nya membaca cerpen yang Ana buat. 


"Mbak, Ana sering lupa itu kata sifat dan kata kerja sering kesalahan," jawab Ana. 


Gadis itu hanya mengangguk saja mendengarkan kata kata mbak Tias tentang kata sifat dan kata kerja yang harus dibedakan cara penulisannya. 


Akhirnya Ana langsung merevisi cerpen Ana dengan teliti supaya bisa diterbitkan oleh Gong Publishing. Sebenarnya ia benar benar semangat sekali mendengar cerpennya bakal di terbitkan dengan teman teman yang lain. Awalnya Ana.menyangka kalau projects ini adalah anak anak Rumah Dunia yang ikutnya. Otomatis Ana makin semangat dan antusias sekali. 


Mendengar khabar projects penerbitan yang akan dilaksanakan kembali oleh Rumah Dunia. Membuat satu keputusan yang tidak bisa diubah kembali oleh Ana dan orangtuanya.  Akhirnya penantian itu datang dengan semangat 45 yang berkobar ia akhirnya mengikuti projects penerbitan dengan judul cover Kado Untuk Ratu, tapi berubah menjadi Kunang Kunang dalam pelukan. 

__ADS_1


Kerena 18 penulis dalam Kunang Kunang Dalam pelukan itu semuanya adalah perempuan, dan hanya 5 orang yang ikut gabung projects penerbitan anak Rumah Dunia.*


__ADS_2