
Saya bersyukur pada Allah keenam pernah menjadi salah satu yang melihat laju perkembangan teknologi, saya juga bersyukur memiliki bapak yang selalu mendampingi saya untuk mengajari saya membaca dan menulis.
Ya sekarang memory **yang** indah maupun yang buruk akan selalu terekam dan menemani kehidupan yang fana ini, begitu juga perjalanan yang saya lakukan membutuhkan sebuah perjuangan yang tidak akan mudah dilakukan oleh sebagian manusia.
Semuanya butuh proses, kesabaran yang benar benar kuat. Anak anak jaman dulu yang pernah merasakan kehidupan tanpa android akan melihat lonjakan moderenisasi yang cukup cepat dan stabil.
Bersyukur lah anak anak yang lahir pada tahun 1980, 1990, sebuah prestasi yang harus digenggam erat oleh anak anak yang melihat laju perkembangan teknologi yang pesat. Indahnya anak anak yang melihat keindahan laju perkembangan dunia melalui Android dan media sosial.
Dan saya adalah satu orang yang pernah hidup di zaman itu, zaman yang penuh dengan keindahan yang hakiki tanpa ada media sosial, kecuali koran dsn buku. Sekarang koran dsn buku kalah pesat oleh android, internet dan semacamnya.
Sekarang perpustakaan perpustakaan harus menyediakan buku paket bukan buku bacaan yang dikonsumsi oleh semua orang, banyak para pustakawan yang jadi pensiunan kerena tidak ada minat baca untuk para siswa. Tapi sekarang di era zaman teknologi pustakawan harus berjuang untuk membangun minat baca pada para siswa siswinya, bersaing dengan aplikasi novel yang ada di android yang bisa di download dan dikonsumsi para remaja.
Yuk! Luangkan hari dengan membaca buku selama 15 menit tiap hari, atau bisa 1 jam membaca buku tiap hari. Semangat ya bara pembaca novel dimana pun juga.
🐝
"Na, kamu dengar nggak Ria diberhentikan di sekolah," adu Rani menatap Ana dengan tajam.
"Masa sih!"
Rani mengangguk dengan cepatnya. Melihat anggukan kepala Rani, gadis berkacamata itu hanya diam saja. Kejadian demi kejadian yang telah menimpah dirinya membuat dirinya kuat, Ana hanya menghela nafas panjang mendengra apa yang Rani katakan.
"Mungkin orang tuanya sudah tahu masalah ini, jadi dikeluarkan." gumam Ana lirih.
"Semoga saja nggak ada kejadian kembali," ujar Rani menatap Ana.
Ana hanya mengangguk saja. Rani langsung menuju ruang kreasi sedangkan Ana ke kelas duluan, tapi dalam kelas ia menatap kursi milik Ria. Ia termanggu menatap kursi dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan.
Dua temannya telah hilang dalam kehidupannya, bukan hilang sih tapi kapan bertemunya entah bagaimana. Dua temannya yang pergi adalah Melati dan Ria, kalau Dia tidak ada kata kata perpisahan sedangkan melati masih ada kata perpisahan ya biarpun terkesan biasa saja.
__ADS_1
"Na, aku nyakin kamu pasti bisa.menukis kisah yang aku alami tapi tolong nama aku dan nama Bram jangan ditulis, laki nama samaran saja. aku percaya dengan kamu Na." terhiang hiang kata kata Melati di telinga gadis berkacamata itu.
"Aku bukan untuk viral tapi untuk jadi contoh para remaja di masa mendatang.," lanjut Melati memeluk tubuh Ana dengan erat sekali.
Ana hanya mengangguk.
"Insya Allah bakal ditulis kok, tenang saja. Ana janji nggak bakal menulis nama kamu dan Bram, makasih ya sudah percaya sama Ana." ujar Ana menepuk tangan Melati.
Tuk tuk tuk
Ana menarik nafas panjang dan mengeluarkan kembali saat terdengar ketukan di mejanya, saat di lihat ada Rani yang tersenyum manis.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rani.
Ana hanya megekangkan kepala saja, ia tidak mungkin menceritakan pada Rani tentang kejadian Melati ya biarpun Rani pasti masih mengingat nama Melati atau mungkin telah lupa pada Melati.
"Pasti Ria lagi," tebak Rani sambil duduk di samping Ana.
"Tebakan bagus." puji Ana tersenyum..
Pagi yang hening pecah juga, geger. Ya Ria diberhentikan di sekolah kerena ia pernah melakukan penyimpangan seksual bukan hanya Ana saja korbannya. Banyak gadia gadis di pacari oleh Ria tapi semua gadis itu tidak ada yang mau malah sama Ria dijadikan nafsu semata.
Berita itu menyebar dengan pesatnya di kalangan siswa dan siswi SMU. Ana hanya diam tidak berkomentar sama sekali, ia tidak ingin menceritakan apa yang pernah Ria lakukan pada dirinya. Memang sih menurut dirinya Ria hanya meminta dirinya untuk memuaskan nafsu Ria sendiri, tapi gadis berkacamata beberapa kali menolak kerena buat apa melakukan perbuatan itu?
🐝
"Na kira kira lulus di SMU kamu mau kuliah dimana?" tanya Ihah menatap Ana dengan tajam.
"Entahlah! Bigung menentukan kuliah," kata Ana.
__ADS_1
"Ke untirta saja, katanya di Untirta cowok cowok nya ganteng ganteng lho! Terus juga cowok kaya banyak disana." ujar Ihah lagi.
"Masa sih!"
Tiba tiba banyangan Ana waktu itu kalau misal ia kuliah di Untirta pasti bisa menggaet cowok ganteng, kaya, sempurna, wah bisa dibawa ke puncak, bisa naik mobil dll pikiran Ana langsung ke sebuah villa yang bernada di puncak apalagi di puncak udaranya sejuk, pagi pagi sudah tersedia teh manis atau cemilan yang enak.
( 😂😂sampai lulus SMU juga sampai sekarang nggak pernah tuh ketemu cowok ganteng, punya mobil, atau tidur di villa di Bogor. Apalagi kuliah di Untirta, kalau masuk ke dalam kampus pernah dan pernah merasakan sholat taraweh di mushola Untirta, tapi untuk jadi mahasiswa belum kesampaian ).
"Hai malah melamun!" teriak Ihah mengagetkan Ana.
Ana hanya tertawa renyah.
"Mau sih tapi katanya masuk kampusnya harus nikah NEM yang benar benar murninya kalau di Untirta mah," ujar Ana menatap Ihah.
"Iya sih!"
"Tapi Ana ambil jurusan apa ya kalau kuliah?" tanya Ana berpikir.
( Mulai catur wulan 2 saya mulai blank kalau bicara tentang kuliah apa lagi harus mengambil jurusan yang dikehendaki, jujur saya tidak pernah berpikir kuliah sih! Apalagi kuliah di jurusan perpustakaan. Sebenarnya kalau niat sih ada jurusan pertanian juga di Untirta tapi jujur nggak minat jurusan pertanian, sebenarnya itu cita cita awal saya sejak SD 😂😂 ).
"Banyak jurusan Ana di Untirta juga," ucap Ihah.
Ana hanya mengelengkan kepala saja, kalau.massh kuliah memang ia mentok sama sekali tapi mendengar kalau di Untirta ada cowok ganteng dan kaya hatinya berdesir apalagi kalau cowok itu bawa mobil untuk jalan jalan wah pasti seru bisa dugem, tiba tiba pikiran itu muncul begitu saja. Ia hanya ingin melihat kota yang katanya penuh dengan kegembiraan.
"Ya salah Ana kok melamun lagi, kapan nih lanjutnya," kata Ihah kesal melihat Ana hanya diam saja dari tadi.
Ana hanya diam, ia sama sekali tidak berbicara apa apa masalah kuliah, memang dalam.oikiran gadis 17 tahun itu ingin kuliah, tapi kuliah mengambil jurusan apa? Ana juga gimana ngomongnya masalah kuliah, entah kuliah entah nggak sih.
Kalau kuliah di Untirta misalkan ia harus kost jauh dari orang tua sedangkan selama ini ia tidak pernah keluar kita sendirian, apalagi harus jauh dengan sosok bapak yang selalu memperhatikannya.
__ADS_1
Ihah yang masih berada disamping Ana merasa kesal sama gadis berkacamata itu, ia tanpa menegur Ana lanhsung beranjak dari tempat duduk nya dan meninggalakan Ana yang masih membanyangkan kalau ia misalkan jauh dari orang tua waktu kuliah.*