Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 19


__ADS_3

Ana hanya mengangguk angguk saja saat Anton menjelaskan tentang Liqo memang telinga Ana asing dalam masalah Liqo itu sendiri. Menurut Ana yang penting kita tidak melakukan kesalahan yang fatal itu udah benar.


Menurut gadis itu tidak apa apa pacaran yang penting tidak terjerumus pada hubungan yang dilarang, tapi kadang ia juga berpikir unik juga ya kalau nikah tanpa pacaran itu rasanya bagaiamana, apa bedanya dengan nikah paksa yang tidak pernah merasakan cinta ujug ujug menikah.


Tiba tiba Ana ingin di jodohkan dengan cowok yang baik yang menerima Ana apa adanya. Tapi untuk bicara pada orang tuanya ia tidak berani sama sekali.


( saya baru berpikir menikah pada usia 21 tahun lho! )


Hatinya ada perasaan indah kalau dirinya benar benar di jodohkan tidak buruk sih kalau dijodohkan yang penting kita melihat dulu calonnya, apalagi saat pertama ketemu dengan Anton dan cowok itu tanpa sadar telah membimbing hati Ana untuk tetap mencintai Allah.


Kedatangan Anton yang merubah Ana setahap demi setahap, dari sholat, awalnya gadis itu cuma sholat magrib doang akhirnya ia mulai terbiasa sholat 5 waktu biarpun itu berat sekali. Belum lagi Anton kadang sering menyetel murrotal, ia akhirnya mengikuti apa yang Anton lakukan.


Sedikit demi sedikit Ana mulai mengunakan kerudung, ya biarpun di rumah masih dilepas. Kalau dibandingkan tidak ada Anton, ada perubahan kecil dari gadis itu.


"Baca surat pendek dulu seperti juz Amma," kata Anton.


"Jus? Emang jus alpukat ya enak tuh!" canda Ana tersenyum.


"Juz bukan jus." tekan Anton kesal.


"Hahaha.." tawa Ana lepas begitu saja.


"Hus, jangan ketawa keras keras, cewek itu kalem," sanggah Anton mendelik.


"Islam ribet ya," celetuk Ana.


"Islam itu nggak ribet, malah adem." elak Anton ia tudks suka kalau Islam dikatakan ribet.


"Iya ribet, makan harus berdoa, masuk WC harus berdoa, tidur harus berdoa," kets Ana.

__ADS_1


"Astagfirullah, Ana sadar apa yang kau katakan! Islam itu indah, adem, kamu nggak tahu saja! Suatu waktu nanti bakal tahu semuanya tentang Islam," hardik Anton tidak suka.


Ana menghela nafas panjang, ia juga kenapa harus berkata dengan Anton seperti itu. Sebenarnya ia hanya ingin bercanda dengan Anton, eh malah Anton serius. Kalau mau jujur ia nyaman sekali mengenal Islam, apalagi kalau ada yang membimbingnya.


( Apa yang dikatakan kak Anton, bakal saya temukan saat saya berada diantara teman teman FLP dan Rumah Dunia apalagi saat saya bertemu dengan teh Najwa Fadia.


Dari beliau lah saya belajar, bukan hanya belajar menulis saja tapi belajar banyak tentang kehidupan yang harus dijalani seorang wanita ).


"Nggak jelas nih orang!" Dengus Anton kesal.


Ia langsung meninggalkan Ana, sedangkan gadis itu hanya manyun.'Sudah banget sih candaan sama dirinya, semuanya dianggap serius," bisik Ana dalam hati sambil mendengus kesal melihat tingkah laku Anton.


Eh! Belum apa apa Anton balik lagi kehadapan Ana ia duduk di kursi dekat pintu depan sedangkan Ana masih duduk di tempat semula.


"Apa lagi!" tanya Ana heran.


"Na, lebih baik kamu fokus pada menulis ya, pokoknya kalau ada jalan kakak Pengan batu Ana." kata Anton tiba tiba.


"Ada tempat yang bagus buat Ana, Ana cocok berada dilingkungan itu, lebih baik keluar dari sini kalau kamu lama lama disini bakal nggak nyambung sama dunia luar." celoteh Anton sambil meninggalkan Ana. Nggak sopan.


Ana hanya melonggo saja mendengarkan apa yang dibicarakan Anton. ia harus keluar dari rumah ini maksudnya apa? Trus kalau keluar ia harus keluar kemana? Ana hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang Anton katakan, ia sama sekali tidak berniat mencari tahu apa yang Anton maksud bisa bisa perang dunia kembali.


Memang Anton itu seperti itu, bicara tapi tidak ada jawaban yang memuaskan yang penting ia sendiri yang puas sedangkan dirinya kebingungan atas panjang diucapkan oleh Anton.


Ana tidak tahu apa yang direncanakan oleh cowok itu, kerena ia sendiri tidak mencari tahu atau bertanya lada Anton. Sedangkan Anton sejak bertemu Ana dan tahu apa yanga sering Ana lakukan yaitu menulis hati kecilnya ingin melihat Ana meraih cita cita nya. Dan dalam hati ia punya niatan mengirim Ana ke suatu tempat yang benar benar supaya gadis itu belajar.


Kerena Anton nyakin kalau Ana cocok berada di lingkungan itu dibandingkan lingkungan yang sekarang, keingintahuan Ana telah di lihat oleh Ana sendiri dari pertanyaan pertanyaan yang Ana lontarkan pada dirinya itu membuktikan kalau keinginan Tahuan Ana sangat besar sekali hanya kerena lingkungan yang ditempati Ana yang tudks pernah mendukung nya.


***

__ADS_1


Kreatifitas Ana menulis oleh Anton diacungi jempol. Dan ia juga menemukan cerpen cerpen Ana yang selalu dikirimkan ke penerbit tapi selalu gagal, niat cowok itu sungguh mulia mengirim Ana kesebuah tempat yang berbeda dengan lingkungan yang Ana diami.


"Na, kakak tadi malam SMS Ana ke tadi malam datang nggak?" tanya Anton.


Hari itu Anton datang ke rumah Ana, kerena hari itu ia masuk kerja keliling desa, Anton sering pulang ke rumah orang tuanya dihari Sabtu dan Senin pagi pulang. Dan pas datang ia malah memberitahukan kalau ia sms Ana. Ana yang sedang membaca buku menghentikan membaca dan hanya mengangkat bahu, Anton langsung duduk di kursi sambil memeriksa hpnya.


"Kakak di SMS Ana? Kak sadar Ana nggak punya hp. Kakak mengajak Ana, mentang mentang kakak punya hp?" sembur Ana tidak suka.


Anton malah tertawa renyah saat Ana marah marah, ia sebenarnya becanda mengatakan itu. Tiba tiba Anton mengambil sesuatu di dalam tasnya, sebuah kertas berisikan tulisan lalu di sodorkan ke hadapannya Ana.


Ana langsung menatap wajah Anton tajam dan melihat sebuah pamflet yang disodorkan oleh Anton dihadapannya. Anton mengangguk seketika juga saat melihat Ana menatap kertas itu. Akhirnya Ana meraih kertas dan membaca apa isi di dalam kertas itu.


Pembukaan Tralis yang diadakan pada tanggal 03 Juni 2005 di Kampus IAIN Serang. Kegiatan ini di lakukan pada pukul 13.30 di mesjid.


"Tralis? Maksudnya lomba?" tanya Ana..


"Iya, tralis ( training menulis ) diadakan di kampus IAIN Serang, kaku boleh kamu ikut aja Na, siapa tahu menang." kata Anton mendukung Ana untuk ikut Tralis.


"Gratis," lanjut Anton membujuk.


"Pengen sih! Tapi?" tanya Ana ragu.


Ya ia ragu kalau bilang sama bapak pasti takut tidak diizinkan oleh bapak, bukan sekali dua kali sih bapak menolak kegiatan seperti itu kemarin kemarin Rumah Dunia, FLP Pamulang dan sekarang Tralis.


"Tenang masalah biaya kakak yang atur yang penting Ana mau dulu," dukung Anton antusias.


"Iya Ana ikut." kata Ana semangat.


"Mati uangnya pas Ana mau berangkat saat ya,"

__ADS_1


Ana hanya mengangguk. Hati nya senang sekali ikut Tralis yang diadakan di mesjid IAIN serang, apalagi kampus itu tidak.asing lagi buat dirinya.*


__ADS_2