Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 101


__ADS_3

( Perjalanan Ana menuju Rumah Dunia, hanyalah keinginan gadis 17 tahun untuk menggapai harapan, mimpi dan cita citanya, hanya sebuah perjalanan itu lah harus ada proses yang kuat dari seorang gadis bernama Ana. Penuh Lika liku, halangan dan rintangan. Tapi Ana tetap optimis menghadapi segala yang terjadi dikemudian hari. 


Saya hanya melakukan apa yang bisa dilakukan di masa itu, ya kegiatan membaca dan menulis lebih menggila dibandingkan kegiatan apapun juga. Saya juga tidak tahu sebuah keinginan itu bakal tercapai😊 ). 


Cup! 


Seseorang mencium pipi Ana yang sedang menulis. Ia langsung melihat siapa yang menciumnya, sang gadis di sisi kanan  tersenyum manis. 


"Ria( samaran )!" Teriak Ana sambil mengusap pipinya bekas dicium Ria.


"Kenapa,Na. Apa aku nggak boleh suka ya sama kamu!" Tatap Ria lembut..


Ana merinding mendengar Ria berkata begitu. Tangan Ria langsung memengan tangan Ana lembut dan menciumnya. Gadis berkacamata itu merining melihat kelakuan Ria. Untung tangannya belum dicium ia langsung berlari tapi apes, pintu rumah tertutup rapat. 


Hati Ana ketar ketir, didekati oleh Ria. Gadis sebeya dengan Ana itu dengan tanpa rasa malu membuka bajunya, gadis berkacamata bebwrapa kaki merinding..


"Ria kamu kamu.mau ngapain?" 


Terbata bata gadis berkacamata berkata, ada sebuah ketakutan yang luar biasa yang menghinggapi diri, ia tidak bisa melakukan sesuatu..


Sebenarnya Ana hari itu ke rumah Ria hanya ingin mengerjakan kerja kelompok yang diberikan oleh ibu Ratih. Kerja kelompok ini di laksanakan di rumah Ria, bersama teman teman yang lain. Satu kelompok terdiri dari lima orang, ia kerja kelompok dengan Ria, Mawar, Rani, Cempaka, dan Dahlia. 


Awalnya sih Ana protes kerja kelompok dengan kelompok Mawar tapi terpaksa juga mengikuti kerena tidak ada kelompok lain yang mau tukeran orang. 


Oya Ria adalah murid baru yang baru datang ke SMU yang ditempati Ana, dan ia juga tidak mengenal siapa Ria yang sebenarnya. Ria pindahan di sekolah luar Pandeglang. 


Ana masih menatap wajah Ria yang telah membuka baju dan celana, hanya ada naku dalaman dan ****** ***** saja. Ditambah itu rumah Ria sepi, gadis berkacamata itu berdebar sangat hatinya apalagi melihat tubuh Ria yang putih dan mulus, ya biarpun tubuh Ria putih dan mulus ia tidak pernah berpikir untuk bermacam macam. 


"Na, kita sekali aja melakukan ini. Aku hanya ingin,"


( Jujur merinding saat menulis ini ) 


"Kita melakukan apa? Nggak aku nggak mau!" Teriak Ana ketakutan


Sejujurnya kalau memilih lebih baik ia milih bertengkar dengan Mawar. Ya itu lebih baik lagi dari lada harus melayani perbuatan bejat Ria, ia tidak bakal rela menyerahkan kesucian demi melayani nafsu bejat setan. 


Ria dengan santai berjalan menuju kearah Ana, ia tersenyum melihat korbannya ketakutan, melihat sang korba ia seperti punya sesuatu yang mengalir di tubuhnya..

__ADS_1


Ria memeluk tubuh Ana tapi Ana langsung berjongkok dengan cepat, otomatis Ria hanya memeluk angin. Ia menatap wajah Ana dengan ekspresi wajah yang sinis, Rianyangeoihat itu langsung jongkok berhadapan dengan Ana. 


Tapi Ana berusaha melepaskan pelukan tubuh Ria serta elusan yang membuat dirinya merinding. Ana berteriak keras tapi tidak ada yang mendengar, rumah itu benar benar sepi sekali. 


Ana berusaha menendang perut Ria dengan keras sekali, gadis berkacamata itu langsung mendorong Ria. Gadis itu langsung terjungkal dan ambruk! Ana berlari ke ruang tengah mencari pintu untuk meloloskan diri. Untung ada pintu yang mungkin lupa dikunci oleh Ria, akhirnya ia lolos. 


Tapi tidak lama kemudian teman teman yang lain datang dan menatap keheranan pada Ana yang sepertinya lingkung. Rani mengajak Ana kembali ke dalam rumah, saat itu juga pintu rumah Ria terbuka.


Ana tidak menceritakan apa yang terjadi,  akhirnya mereka mengerjakan sekolah dengan baik, dan Ria Juga telah mengunakan baju kembali, tapi Ana agak trauma sama Ria dan ia juga tidak mau dekat dekat dengan Ria. 


Ia malah berani dekat sama Mawar biarpun keduanya sering berantem tapi Ana lebih nyaman dengan Mawar. Ya kalau lebih memilih ia lebih memilih berantam sama Mawar dari lada harus berhadapan dengan Ria, kaku sama Mawar paling saling jambak tapi Rianlebih dari itu! 


🐝


"Kamu lagi haid ya?" Tanya Ria perhatian.


"Apaan sih kamu!" Hardik Ana. 


Gadis berkacamata itu langsung meninggalkan tempat itu, tapi Ria menarik tangan Ana dengan cepat otomatis Ana langsung duduk kembali ditempat semula, sambil memegang perutnya. 


Ya hari ini ia mengalami haid. Perut bagian bawah terasa kram dan punggungnya juga terasa pegal, pas Ana duduk depan perpustakaan ia beberapa kali mengusap pungungnya yang pegal sekali, tiba tiba Ria datang dan mengusap pungung Ana lembut. 


'Agak mending kalau diusapnsama pacar, ini malah diusap sama cewek,' bisik hati Ana. 


"Nggak apa apa kali diusap gitu, aku pijit ya." 


"Ria berhenti jangan berlebih!" Tolak Ana kurang nyaman. 


Gadis itu langsung berdiri, dan agak menghindar. 


"Kan kamu lagi haid, pasti sakit ya. Kalau sakit lebih baik," 


"Cukup! Sok tahu kamu, apa aku bilang kalau perutku sakit?" 


Tanpa menunggu jawab dari Ria, Ana langsung meninggalakan Ria. Ia tidak butuh jawaban apapun dari gadis itu, beberapa kali ia merinding mendengar suara ria yang perhatian. 


'Nasib!' bisik Ana dalam hatinya. 

__ADS_1


Ia masih kebayang adegan Rian Yang hampir memeluknya dan kata kata lembutnya. Ia hanya menghela nafas  mengingat itu semuanya. 


'Apa jangan jangan!' bisik Ana merinding! 


Kalau itu benar ia harus menjauhi Ria. 


( Saya korbanya, korban dari penyimpangan pelecehan seksual, jujur kalau ada sentuhan dari satu jenis saya kadang agak menghindar dari orang itu ). 


 


Tapi, biarpun saya menghindar Ria selalu membuntuti dirinya. 


Bruk!


Arghh!


Teriak Ana kesal kerena ia buru buru menghindar tidak seorang tahunya ia menabrak. 


"Makanya kalau jalan pakai mata!" Teriak orang yang ditabraknya. 


"Ngapain kamu!" Tanya Ana. 


Ia kaget sekali kerena menabrak seseorang tidak tahunya  orang itu adalah mawar. Mawar menatap wajah Ana tajam tapi hati gadis itu seperti menangkap sesuatu dari tingkah laku Ana. 


"Apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Mawar tajam. 


"Mau tahu aja urusan  orang!" Ketus Ana langsung meninggalkan Mawar. 


Gadis itu hanya mengerutu sama Ana. Mawar sebenarnya ingin mengucapkan terimakasih pada Ana kerena ia dan Arya kini sudah bersetatus pacaran, tapi ia masih ego untuk minta maaf, ia gengsi minta maaf pada Ana. 


Ana langsung berjalan menuju lorong lab fisika dan biologi, ia masih mengingat kata kata lembut Ria. Beberapa kali ia merinding, tapi ia tidak bisa menceritakan pada teman teman tentang Ria yang seperti itu. 


"Ana! Dicari ibu Elis!" Teriak Rani menghampiri gadis berkacamata itu. 


"Ada apa sih teriak teriak!" Ketus Ana. 


"Kamu kesambet apa Na, kok ketus amat jawabnya?" Tanya Rani heran. 

__ADS_1


"Nggak ada apa apa kok!" 


Ana langsung melangkah menuju perpustakaan, Rani juga mengikuti Ana dari belakang.*


__ADS_2