
( Tanjakan Pasir Muhun yang selalu dilewati saya waktu masa masa SMP, foto diambil 05 Februari 2023, 14.30 tapi kalau pada tahun 1996-1999 jalan ini tidak mengunakan hotmix, tapi aspal yang baru 2 Minggu hancur menjadi jalan yang penuh kubangan. Dan saya juga pada tahun 2015 sampai masih melewati jalan ini tiap hari kecuali Minggu 🤠).
Jalan Pasir Muhun sering ia lewati hanya dengan jalan kaki, tapi gadis berkacamata ini tidak pernah merasa takut di jalan ini, apalagi jalan ini sepi sekali kerena memang jalan ini bukan perkampungan hanya lahan tanah yang panjang ditanami oleh pohon jati.
Apalagi kaku musim hujan Ana kadang lebih baik kehujanan kerena memang tidak ada tempat berlindung sama sekali. Bukan Ana merasa berani melewati jalan itu, kerena ia juga sebenarnya takut terjadi apa apa pada dirinya tapi harus bagaiamana lagi ia harus sekolah dan pulang sekolah pada waktu nya.
Apalagi kalau ia mengikuti Pramuka otomatis pulang di SMP jam 15.30 sampai di rumah bisa jam 17.00 belum lagi pulangnya takut harus melewati dua hutan yang menurut orang lada seram apalagi dilewati oleh gadis seusia Ana.
Kalau bawa sepeda ia sering jatuh di tanjakan maupun pas turunnya, apalagi sepedanya juga kalau dibawa menanjak tidak menanjak kalau di paksakan bisa bisa jatuh tergelincir. Daripada jatuh lebih baik tidak mengunakan sepeda. Setiap pagi ia pergi jalan kaki atau jalan sawah kalau pagi banyak embun yang membasahi rok yang digunakan, ia hanya bisa.mwbgwjla nafas, seorang cewek untuk menempuh pendidikan berjalan sendirian melalui jalan sawah, jalan irigasi yang benar benar penuh dengan tantangan.
Paling pulang nya bajunya kotor kerena kalau jalan sawah harus mengunakan jalan setapak ditambah lagi jalan setapak ini yang membuat roknya basah kerena embun pagi hari.
Ya jalan pasir muhun bukan lah jalan satu satunya yang dilewati oleh Ana masih banyak jalan sawah yang dilewati Ana, ia berjalan sendirian saja, ya biarpun hatinya sering berdebar takut ada apa apa dijalan
( Kalau sekarang disuruh jalan sawah lagi, jujur nggak bakal berani, apalagi kalau mendengar di daerah yang lewati itu ada patung kudanya, entah benar atau tidaknya saya juga tidak tahu keburu takut apalagi katanya patung kuda itu daerah Kramat. )
Mungkin kerena melihat putri pertamanya sering cerita kalau ia sendirian jalan sawah, hati orang tua mana yang tudks was was mendengar cerita anak gadis nya. Akhirnya dengan pak Mamat dsn Ibu Tri Murwanti meninggalakan kp Pamarihan desa Kramat Manik menuju Kp Ranca Jaya. Titi mangsa pindah 06 September 1999.
"Mbak Ana pulang sekolah maupun pergi sekolah pengen ya jalan sawah terus Ita kan takut," ujar Ita mengadu pada kedua orang tuanya Maslah berangkat dan pulang sekolah.
"Ana benar apa yang Ita bicarakan?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Daripada uangnya buat ongkos mobil masalahnya ibu ngasihnya dikit aja, buat makan di sekolah juga belum cukup," Rengek Ana.
Apa yang dituturkan Ana memang benar, kalau sekolah ibu sering memberikan uang as saja. Apalagi kalau jajan di sekolah waktu istirahat harus makan nasi kerena lapar ia kadang makan nasi yang dibelinya..Jadi otomatis buat ojeg ia sama sekali tidak cukup.
Akhirnya diputuskan oleh bapak dan ibu untuk pindah ke Ranca Jaya biar enak sedikit tidak apa apa jauh buat mereka tapi untuk Ana dan Ita meras nyaman, jadi mereka berpikir kalau setalah pindah Ana naik ojeg di sekolah ke rumah langsung bayar di rumah saja.
Ya memang Ana berangkat dan pulang sekolah maunya jalan sawah atau jalan Ranca Jaya jalan kaki sedangkan Ita pulang dan berangkat menunggu mobil, perbedaan pendapat ini lah yang membuat kedua orang tua mengalah.
Mendengar pengakuan anak pertama dan anak keduanya, mereka hanya bisa mengelangkan kepala saja, akhirnya tugas mulai dijalani oleh kedua orang tua Ana.
Ana, Ita dan bapak di Ranca Jaya, sedangkan Bhakti, Yuliet dan ibu di Pamarihan kerena pada waktu itu Bhakti DNA Iyet masih sekolah di SD, kalau mereka pindah otomatis jarak antara sekolah dan rumah jauh sekali apalagi buat Bhakti dan Iyet.
Waktu itu Ana kelas 3 SMP, Ita kelas 1 SMP, Bhakti kelas 5 SD dan Iyet kelas 3 SD. Kalau sore ibu harus membawa nasi buat suami dan kedua putri mereka, sengaja ibu Tri bawa nasi yang banyak dan lauknya biar paginya bisa sarapan sisa nasi kemarin.
Dan yang lebih membahagiakan bagi Ana, di rumah barunya ada listrik itu tahun 1999. Viral listrik masuk desa. Ditambah lagi punya tv bukan tv hitam putih tapi tv berwarna. Apalagi kalau menyetel tv pake remote dan bisa dimatikan di jarak jauh.
Di kelas 3 SMP Ana masih menjalani rutinitas menulis dan kelas tiga ini nama Ana viral kerena cerpen Ana dijual oleh Ana sendiri. Ya otomatis ia senang sekali kerena dapat uang jajan.
"Na, beli cerpen satu lebar ya, nih uangnya." kata yang lain, sambil memberikan uang sebagai uang muka dulu.
"Aku juga ya Na,"
"Nih uangnya Na."
__ADS_1
Akhirnya Ana membuat beberapa cerpen dari tiga orang uang memesan cerpen karya sendiri. Banga otomatis bangga kerena ia dapat uang sendirinya..
"Na, aku cerpen dua lembar ya."
Banyak teman teman yang membeli cerpen cerpen Ana yang masih baru dibuat nya, akhirnya kerena tidak mau nikahin yang baru, ia menjual cerpen yang sudah dibukukan olehnya, sampai semua kumpulan cerpen Ana laris manis di jual ludes.
( Penyesalan terbesar saya waktu sekarang terasa banget, kenapa cerpen yang dulu saya buat tudks di foto copy dulu biar aku bisa punya arsipnya. Tapi saya tidak pernah berpikir seperti itu, dan baru terasa sekarang ).
Saking bahagianya dapat uang dari cerpen cerpen yang dibuatnya tanpa sadar Ana tidak punya arsip sama sekali. Dan pikiran Ana dari kelas 2 yaitu ; "Ah, nanti bikin lagi cerpennya, nggak apa apa yang itu nggak ada juga,"
Hati Ana senang sekali kerena bisa menghitung uang dapat keringat sendiri, dan kalau ada teman teman yang kesan itu dadakan menulis nya langsung diberikan begitu saja yang penting ada uang cerpen juga ada.
"Na, kamu jualan cerpen kamu?" tanya ibu Tri menatap Ana..
"Iya, ibu tahu dari siapa?" tanya Ana heran.
Keren ia sama sekali tidak pernah cerita kalau cerpen cerpen nya di jual Sam orang lain, ia menyembunyikan semuanya dari ibu kerena takut di marahi telah menjual cerpen cerpen yang ia tulis.
Ibu Tri terkejut mendengar pengakuan dari Ana, ia menyangka itu hanya kabar burung saja. Matanya menatap wajah Ana dengan tajamnya, Ana hanya menundukkan kepal kerena takut dimarahi oleh ibunya.
"Ibu bangga pada kamu, Na. Maafkan ibu dan bapak kerena tidak bisa memberikan fasilitas yang Ana butuhkan," suara ibu Tri bergetar menahan gejolak hatinya.
Sebenarnya ia bukan tidak mau melihat Ana maju dan berkembang tapi keadaan dirinya lah yang membuat Ana tidak bisa mengekspresikan keinginannya.*
__ADS_1