
Gadis berkacamata itu! Dengan antengnya di ruangan perpustakaan, membaca novel Hamka, ia tidsk.lernah peduli dengan pelajaran yang diberikan oleh semua guru mapel. Memang kalau dipikir sebenarnya iantidak pernah melakukan apapun yang merugikan sekolah, ia jarang bolos di sekolah, pergi dsn pulang sesuai jam sekolah..
Kalau pergi ke sekolah ia lebih awal sedangkan jarak antara rumah dsn sekolah 1,5 kilo meter dari rumah. Masalah berangkat dan pulang ini lah Ana yang pikirkan kerena ia harus melewati hutan yang ada di desa Kramat Manik, kata gosip hitam itu tempat persembunyian penculik yang bakal membawa anak ABG untuk di jual organ tubuhnya. Otomatis Ana yang masih berusia 14 tahun takut sekali, tapi bagaimana juga ia harus sekolah.
Bisa jalan Ci Sudang tapi itu sama saja kerena hutannya lebar banget. Pagi jam 06.00 sudah mulai berangkat hanya jalan kaki ke sekolahnya, kalau hujan sepatu dan kaos kakinya tidak dipakai hanya dimasukan ke dalam tas supaya tidak kotor saat ke sekolah.
Kp Pamarihan sebuah kp yang jauh dari keramaian kota, biarpun masih termasuk kabupaten Pandeglang, tapi kp itu sangat terpencil jauh sekali untuk ke sebuah kota kabupeten. Jadi wajar saja kp Pamarihan sebuah kp yang tertinggal apalagi pembangunan nya juga sangat lambat dibandingkan dengan kota lainnya..
Mungkin di dalam peta juga tudks ada dan tidak bakal ada yang namanya Pamarihan kerena memang kampung yang terpencil sekali. Desa Kramat Manik adalah desa yang terasing sekali, apalagi dibandingkan kampung kampung lainnya.
Ranca Jaya adalah kampung yang suka Ana lewati kerena tiap hari Ana sekolah pasti kp itu sering di kunjungi oleh Ana tiap harinya, kadang kalau musim hujan dan sepatu nya dibuka, Ana sering mencuci kaki di rumah orang.
Kalau musim kemarau ia suka sekali mengunakan sepeda untuk berangkat ke sekolah, ya di pamarihan ia sendiri yang sekolah jadi berangkat dan pulang sendirian saja tidak ada teman ngobrol begitu juga kalau hujan.
"Pak, Ana pengen berhenti sekolah," ketus Ana pada pak Mamat saat ia sudah lelehan harus jalan kaki ke sekolah.
"Kalau Ana berhenti sekolah terus Ana mau ngapain di rumah?" tanya pak Mamat menatap Ana dengan tajamnya.
Ana langsung diam seketika juga mendengar kata kata pak Mamat, ia juga tidak bisa menjawab sama sekali, memang benar kalau ia tudks sekolah dan berhenti lalu ia ngapain di rumah? Masa bakal di rumah saja.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar dalam benaknya, diusia 14 tahun yang seharusnya sekolah dsn belajar malah berhenti sekolah, terus kalau ia berhenti sekolah ia harus melakukan apa?
"Kecuali Ana nikah Na," ujar ibunya tersenyum .
"Ha! Harus nikah."
__ADS_1
Tiba tiba ia merinding harus menikah diusia 14 tahun. Boro boro mikirin nikah, punya pacar juga belum, ia benar benar belum siap untuk menjalani hidup rumah tangga apalagi usianya juga dibawah 17 tahun.
"Iya menikah, nanti bapak cari cowoknya yang siap nikah dengan Ana." canda pak Mamat.
Ana langsung cemberut, belum apa apa ia sudah bertraveling kemana mana, saat mendengar pernikahan. Ya ia tidak bisa membanyangkan kalau misal ia menikah, apalagi kaku menikah dengan laki laki usianya misal 20 tahun habis deh.
"Nikah itu nggak enak Na," kata Kinah..
"Serem, juga sih!"
"Bukan serem lagi, tapi lebih serem dari ketemu hantu,"
"Kenapa gitu? kan nikah itu kata teteh aku sakit."
"Sakit?"
Akhirnya kerena ia takut menikah atau di nikahi oleh orang lain maka dengan antusias nya ia sekolah lagi.
( saya sebenarnya sudah cape berangkat ke sekolah jalan kaki atau bersepeda juga, belum lagi kalau hujan pasti kehujanan begitu juga dengan panas pasti kepanasan.
Hampir saya berhenti sekolah kerena jarak tempuh di sekolah dsn ke rumah yang benar benar jauh sekali, apalagi saat itu saya masih remaja belasan tahun. Beda banget dengan sekarang anak anak ABG pergi ke sekolah mengunakan kendaraan roda dua semuanya ).
Bukan itu saja ia paling malas kalau melewati jalan Kramat Manik di dekat jembatan itu ada hutan karet yang luas sekali. Di sana Ana sering takut sekali apalagi hutan itu sepi dari orang orang, ia takut kalau ada orang yang jahat bisa bisa tidak ketahuan.
( Kerena kondisi seperti itu, akhirnya bapak saya mengalah untuk saya. Pas kelas 3 SMP pindah ke Ranca Jaya ).
__ADS_1
"Nanti kalau bapak punya uang kita pindah," bujuk pak Mamat pada Ana.
"Benar pak?" tanya Ana bertanya.
"Iya masa bapak bohong sih sama Ana," jelas pak Mamat mengelus lembut tangan Ana.
Ana tersenyum mendengar omongan pak Mamat, hatinya riang sekali keren aja bisa pindah rumah ke tempat yang baru. Ia bakal semangat lagi sekolah ya. untuk sementara ia sekolah hanya jalan kaki atau naik sepeda juga tidak apa apa yang penting sekolah.
Ya Ana sebenarnya di sekolah tidak ada kendala apa apa, hanya perjalanan ke sekolah itu kah yang membuat Ana berontak. Di sekolah Ana juga tidak ada masalah serius hanya kenakalan anak anak remaja yang mencari jati diri sendiri.
Kenakalan Ana hanya sebatas kabur dan tidak pernah belajar di sekolah saja. Itu tidak pernah merugikan orang lain tapi merugikan diri sendiri.
"Ana! Kamu mau sekolah atau mau main sih di sini!" Teriak Ibu Tri Indrayani asal Indramayu.
Biarpun nama nya sama dengan ibunya Ana sendiri tapi nama belakanganya beda. Kalau Ibunya Ana bernama Tri Murwanti asal Yogyakarta, sedangkan ibu Tri Indrayani adalah guru Ana di SMP, tapi keduanya mengajar mapel Matematika.
Guru mapel matematika kesal pada jawaban Ana yang seenak saja.
"Ya sekolah Bu, masa main?"
"Kalau kamu ingin belajar jangan banyak main di sekolah!" ketus ibu Tri Indrayani masih kesal.
"Iya Bu, tapi kalau ibu ngajar jangan ngasih PR sih Bu, puyeng ngerjain pr," protes Ana..
Ya menurut Ana sudah memberikan materi matematika juga sudah tapi harus mengerjakan pr lagi otomatis otaknya ngebul diatasnya. Kadang Ana tidak mengerjakan PR yang diberikan oleh ibu Tri Indrayani malah ia memberikan puisi pada Bu Tri, otomatis mapel matematika murka lada Ana.
__ADS_1
Dan hari itu juga Ana dipanggil oleh ibu Tri Indrayani ruang guru kerena gadis itu tidak mengerjakan pr yang ia berikan malah memberikan puisi.*