
Kejadian pengangkatan PNS besar besaran tahun 2004 tidak membuat Ana luluh, ia ingin membuktikan kalau penulis itu lebih baik dari pekerjaan yang lainnya. Ana juga tidak pernah membahas Maslah CPNS maupun PNS dengan bapak maupun ibunya.
Pak Mamat hanya bisa menekan perasaan yang penuh gejolak penyesalan kerena sebuah penolakan yang dinyatakan oleh putrinya sendiri.
Ana tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi, dsn kaan menjadi sebuah pelajaran buat diri sendiri dikemudian hari, jalan yang ditempuh penuh dengan sebuah perjuangan yang harus di lakukan oleh orang itu.
Tapi ada kata kata pak Mamat yang diresapi oleh diri Ana sendiri, sebuah kata kata yang jadi lecutan dan perinsip yang harus dipengang.
"Sukai dan cintailah satu pekerjaan kerena kalau kita sudah mencintai pekerjaan itu kita bakal tetap mencintai pekerjaan biarpun pekerjaan itu tidak menghasilkan apa apa." kata pak Mamat saat memberikan nasehat pada putrinya.
"Kerena kalau saat kita menyukai sesuatu, dsn butuh pengorbanan kita bakal mengeluarkan apa pun demi orang yang dicintai, begitu juga dengan pekerjaan," lanjut pak Mamat menatap Ana.
Apa yang dikatakan bapak pada dirinya sebagai lecutan semangat buat putrinya. Dan apa yang dikatakan pak Mamat pada Ana bakal dijalani dan ditempuh oleh gadi yang mengunakan kacamata itu.
Kejadian tahun 2004 telah selesai tapi kehidupan Ana tidak ada berubah sam sekali, ia sebagai seorang gadis rumahan yang cuma ada di rumah. Kadang kalau keluar ia hanya pergi ke sebuah perkampungan di Pamarihan sebuah kampung kecil dengan keadaan yang sejuk dan damai. Pamarihan nama kampung itu, sebuah kampung dimana Ana dan keluarganya menghabiskan waktu masa kecil yang penuh kegembiraan.
Pamarihan, entah nama itu disematkan oleh siapa. Semuanya tidak pernah dijawab sama sekali. Ya sebelum Ana dan keluarganya berada di kampung Ranca Jaya mereka lebih dulu tinggal di Kp Pamarihan ketika si sulung kecil.
Ana dan tiga adiknya pernah tinggal beberapa tahun di kampung Pamarihan, yang berada di desa Kramat Manik. Desa Kramat Manik bertetangga dengan Kp Ranca Jaya Desa Karyasari yang berada di sebelah timur. Untuk sampai ke kp Pamarihan bisa mengunakan jalan ke kp Ranca Jaya dulu, lurus kearah timur dan disana bakal ada jembatan bambu yang bisa dilalui oleh kendaran roda dua.
( Sekarang jembatannya sudah berubah menjadi jembatan gantung kerena banyak direnovasi beberapa kali kerena jembatan itu sering ambruk dan rusak oleh aliran air sungai ).
Desa Kramat Manik terdiri dari beberapa kampung yaitu; kp Kramat Manik, Kp Sukatani, Kp Bungur Jaya, Kp Ci Kareo, Kampung sawah, Lebak Indah, Pamarihan, Ranca Sari, Kp Heulang, dan Talang Tang.
__ADS_1
Sedangkan Ana dan keluarga pernah tinggal dan menetap di Kp Pamarihan yang dari sebelah timur menuju Kp Bojong Manik yang terpotong oleh air sungai. Kalau hendak menuju Bojong Manik atau Munjul dari Pamarihan harus mengunakan getek yang terbuat bambu yang disatukan.
( Sekarang untuk sampai ke Bojong Manik mengunakan jembatan gantung dan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ).
Ya kadang kalau Ana ada masalah sering main ke Kp Pamarihan kerena pemandangan indah sekali, apalagi sungainya yang selalu digunakan renang oleh anak anak lainnya. Dulu waktu Ana kecil sering mandi di sungai berenang dengan asyiknya.
Untuk sampai di kp Pamarihan ia jalan kaki. Kerena tidak ada kendaraan lain selain jalan kaki. Bisa mengunakan roda dua tapi kalau jalannya becek dan licin tidak bisa mengunakan motor bisa bisa jatuh. pak Mamat punya sebuah motor tapi Ana masih belum mengunakan motor apalagi medannya sulit seperti itu.
Kalau sudah puas bermain Ana bakal pulang ke rumah dan masuk kamar kembali dan disana ia mencurahkan hatinya melalui tulisan tanganya.
"Ana malah kuliah!" sembur gadis itu..
Ia begitu asing dengan kata kuliah, gadis 20 tahun lebih itu seperti nya tidak ada minat untuk kuliah apa lagi usianya 20 tahun sebenarnya bisa saja ia kuliah tapi masih terbentur dengan cita citanya.
"Ana kuliah terus kalau Ana berhenti bagaimana?" tatap Ana menatap wajah ibu Tri ibunya.
"Ya jangan berhenti! Apa kalau Ana kuliah ditengah jalan langsung berhenti, pasti udah ada niatan ya?" tanya ibunya.
Gadis itu hanya diam saja, mendengar apa yang ibunya ucapakan pada dirinya. Ia hanya menghela nafas panjang dan diam tidak banyak komentar lagi.
"Mungkin Ana nggak punya masa depan Bu," ketus Ana kesal.
"Na, ucapan itu doa!" jerit ini Tri mengincang tubuh Ana.
__ADS_1
"Bu, masa depan Ana nggak punya, kerena Ana hidup di kampung sedangkan hidup di kampung seperti ini," sembur Ana.
"Ana pengen beli komputer dan jaringan internet," lanjut Ana.
Gadis itu sebenarnya ingin tinggal di sebuah kota dengan keramaian yang meriah sekali,. Isa jalan ke mall, bisa beli buku di toko buku, banyangan itu begitu nyata sekali kali ia ingin hidup oleh fasilitas yang memadai.
Sedangkan hidup di kampung oke udaranya sejuk, pemandangan yang indah tapi kehidupan kampung yang sepi membuat gejolak hati Ana keluar seketika. Ia hanya ingin menikmati kehidupan seperti anak anak kota yang cuma di rumah saja sudah ada internet, komputer, dan semacamnya.
Ia tidak pernah menyangkal kalau hidup di kota itu indah penuh warna. Tapi Ana ingin hidup di kota menetap atau tidak bekerja sebagai IRT, ia hanya ingin kerja sebagai penulis saja di rumah.
Sebenarnya banyak orang kampung yang diam di kota itu sebagai IRT, kebanyakan nya seperti itu jarang ada yang kerja misal di toko, restoran. Intinya Ana ingin hidup di kota menikmati kehidupan yang penuh impian. Tapi semuanya gagal ketika ia harus kembali lagi ke kampung, sebenarnya kalau mau mengikuti hatinya, ia hanya ingin menetap di kabupaten Pandeglang tapi orang tua tidak pernah mengizinkan.
"Apa kalau Ana dibelikan laptop Ana bakal menulis?" tanya ibu Tri menatap wajah putrinya tajam..
"Mau, Bu. Tapi sama internetnya." sambut Ana gembira.
"Nanti ibu bilang dulu sama bapak, kalau bapak mengizinkan mungkin Ana bakal punya komputer," ujar ibunya tersenyum..
"Terimakasih Bu," ucap Ana gembira..
Ana langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat sekali, ia bahagia kalau ia benar benar bisa punya komputer, dan An.jani bakal mengunakan komputer dengan baik sekali.
Apa.yang dikatakan ibu Tri memang terjadi, seminggu kemudian pak Mamat membeli komputer. Dan ketika pertama kali punya komputer memang Ana.rajin menulis cerpen dan puisi maupun novel tapi tulisan pertama itu terlihat masih acak acakan. Tapi biarpun begitu ia senang sekali.
__ADS_1
Kerena ada fasilitas komputer ia berani mengirim novel pertamanya ke penerbit, tapi tidak ada informasi apa apa maksudnya diterima tidaknya tidak ada khabar sama sekali. Tapi semangat Ana untuk mengirimkan tetap ada biarpun sering ditolak.*