
Setalah upacara bendera merah putih, Ana langsung masuk ke kelas 2A. Pas dilihat ada jadwal ibu Ratih. Ya sejak kejadian pak Evi kepala sekolah yang mengejar Ana dan teman temannya, sedikit demi sedikit Ana mulai masuk sekolah. Tapi kalau ada jam kosong ia langsung masuk perpustakaan, semua guru selalu memberikan arahan pada Ana supaya bisa masuk pada waktu ada gurunya. Hari itu Ana benar benar masuk. Sudah siap menerima pelajaran dari ibu Ratih.
"Horeee!'' teriak teman teman lain bersorak gembira seketika juga.
Banyak teman teman yang tadi masuk kembali keluar lagi dengan wajah wajah senang dan gembira.
"Yu, ada apa?" tanya Ana heran.
"Ibu Ratih nggak masuk." jawab Yayuk tersenyum.
"Lho kok nggak masuk?" ekspresi Ana lucu.
Baru kali ini ia begitu terpukul mendengar ibu Ratih tidak masuk, kemarin kemarin ia senang kaku ibu Ratih tidak masuk tapi sekarang malah terbalik, ada sedikit kecewa dalam hatinya saat ibu Ratih tidak masuk kelas.
"Pokoknya tiga bulan kita nggak diajar sama ibu Ratih." Sorak Yayuk sambil memukul meja yang ada dihadapannya.
Ana masih belum konek apa yang dibicarakan oleh Yayuk, ia hanya bisa melongo saja melihat Yayuk seperti itu.
"Ibu Ratih lahiran tadi malam, bayi perempuan. otomatis cuti selama 3 bulan lamanya," jelas Yayuk.
Ana menepuk jidat nya baru mengerti apa yang dibicarakan oleh Yayuk. Kemarin kemarin ia sebenarnya menunggu momen dimana ibu Ratih lahiran kerena ia ingin sekali tidak diajar oleh ibu Ratih dan sekarang doanya terkabul sama Allah.
( Seingat saya PNS waktu itu kalau guru melahirkan ada cuti selama 3 bulan berturut turut, tapi sekarang mau PNS mau honor juga hanya 40 hari sudah masuk lagi sambil bawa bawa bayi 40 hari sekolah.
__ADS_1
Untung waktu saya belum sama sekali, masalahnya fokus mengurus anak dulu, baru setelah anak umur 2,5 menjadi pustakawan di SMPN 1 Angsana.
Sebenarnya kalau niat sih melamar ke SMP pas lulus kuliah saja 2013, kerena bertepatan pada tahun ajaran baru 2013/2014, tapi saya menolak kerena ingin fokus memberikan ASI eksklusif dulu pada kakakš„° ).
Akhirnya jam pelajaran ini Ratih benar benar kosong, antara senang dan kesal saat itu yang Ana rasakan. Sedangkan teman teman lain langsung nongkrong di kantin pinggir sekolah.
Yayuk pun pergi keluar gabung Sam teman teman lainnya, sebenarnya ia tadi mengajak Ana untuk gabung dengan teman taman lainnya tapi Ana menggelengkan kepala salah diajak gabung. Ana mengambil buku dan pulpen untuk menulis, ia hanya menulis cerpen kembali di buku kumcer yang dibuat sendiri.
"Alah, dia Na. Nulis pagawean na, naon eweuh deui pagawean!" sembur Rani sambil merobek buku yang di pengang oleh Ana.
Entah setan mana yang ada di tubuh Rani, dengan cepatnya merobek buku yang ada tulis, Rani merampas buku yang ada di meja. Rani yang melihat Ana masih di kelas langsung masuk dan mengambil buku yang Ana tulis.
Tapi tiba tiba Rani datang tanpa ba bi bu lagi gadis sebaya dengan Ana itu langsung merampas buku Ana langsung di sobek begitu saja.
Ana yang tidak menduga hanya mengelangkan kepala saja, ia menatap wajah Rani yang begitu sinis pada dirinya..
Gadis itu langsung mengambil buku yang dirobek oleh Rani. Ana dengan kesalnya langsung mendorong tubuh Rani. Masih untung Rani tidak terjatuh juga, secara diam gadis itu menitikkan cairan di pelupuk matanya.
Gadis berambut panjang sepinggang itu dengan kasarnya langsung menyepak laki Rani dengan kerasnya, Rani tidak menduga langsung menjerit seketika saat kakinya di sepak dsn diinjak oleh gadis berambut lurus itu.
Setelah itu Ana meninggalkan Rani dengan puasnya, ada senyum sinis di wajahnya terhadap Rani. Ana langsung pindah tempat untuk menulis, ia kadang tidak suka sama orang yang suka jail padanya. Ia sama sekali tidak pernah melawan lalu ada orang yang jail dana menyakiti hatinya, tapi untuk sebuah tulisan ia murka kalau karyanya di sobek atau di hina.
Ana hanya menghela nafas kasar, saat melihat sobekan kertas yang berisikan cerpen yang ia tulis, ia hanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
'Ya Allah aku ingin jadi penulis,' bisik Ana dalam hati.
'Aku harus bisa menulis!' ujarnya dalam hatinya.
Keinginan Ana hanya satu ingin bukunya dibaca oleh orang tapi bagaiamana? Mau dibaca juga susah banget, malah cerpen cerpen yang ia tulis malah disobek oleh Rani. Rani bukan sekali dua kali menganggu dirinya menulis, tapi ia membiarkan saja. Kerena dirinya selalu diam mungkin Rani penasaran pada gadis 16 tahun itu.
'Aneh baru kemarin dia bilang ke aku kalau suka nulis tapi nggak pernah menghargai karya orang," gerutu Ana kesal.
Ana hanya mengelangkan kepala nya saja melihatnya kelakuan Rani, seperti ingin diperhatikan. Sebenarnya ada perasan marah, kesal, kecewa, tapi ia hanya diam saja dan melabuhkan hatinya melalui buku yang dibacanya. Rani sudah sangat keterlaluan pada Ana sampai ia sendiri yang menyerang balik gadis itu. Kalau tidak berlebih mungkin Ana tidak akan melakukan pembalasan pada Rani. Entah ada setan' mana, Rani selalu bully dirinya dengan kata kata kasar, fisik dan mental.
Bukan sekali dua kali sih Rani melakukan itu pada Ana, jadi tadi ia sengaja membalas perilaku Rani supaya membuat gadis itu jera. Dan tidak akan pernah mengulang perilaku pada dirinya. Tapi disisi lain yang paling dalam ia hanya ingin membuktikan kalau ia bakal berhasil.
Tapi caranya bagaiamana supaya ia bisa membuktikan pada Rani kalau ia memang bisa menulis dsn terkenal, kalau misal ia seperti ini juga Rani bakal mencemooh dirinya semakin menjadi jadi.
Memang sejak Rani selalu mengejar, merendahkan dirinya, Ana hanya ingin membuktikan lada Rani supaya Rani malu sendiri kerena telah mengejek dirinya. Tapi ia benar benar buntu untuk melakukan semua yang berhubungan dengan aktifitasnya, sebenarnya bukan tidak ada jalan tapi ia belum menemukan jalan itu.
Ia melihat buku yang disobek oleh Rani, di dalam hatinya ada semangat untuk meraih dan membuktikannya kalau ia sebenarnya mampu untuk melakukannya.
Ana mengusap cairan bening yang membasahi pipinya, ada rasa kecewa, kesal, geram, pada Rani kerena apa yang Rani lakukan padanya membuat ia merasa tersisih dan tidak diakui itu yang tidak pernah di rasakan oleh Rani sendiri.
Memandang sobekan kertas membuat hatinya perih sekali, apa yang ia lakukan selalu salah Dimata manusia.
'Ya Allah kalau memang Rani nggak suka lebih baik diam saja jangan ganggu aku," jerit hati Ana perih.
__ADS_1
Ya hatinya kadang bertanya tanya orang lain kalau melihat dirinya sering menganggu diri saat, mau ia baca, menulis sellau aja diganggu terus. Dan yang tidak habis pikir kaku memang Rani suka menulis seharusnya Rani membiarkan ia menulis, ya yang Ana inginkan sih sebenarnya ia hanya ingin punya teman penulis supaya saling menghargai ini kalau Rani tidak sama sekali.
Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam hatinya Ana tentang kenaikan Rani serta Rani yang suka menulis tapi nyatanya? Ana hanya menghela nafas kasar.*