Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 21


__ADS_3

"Sebenarnya sayang sih Na kaki Ana nggak ikut,"


"Tapi kalau Ana kesana sendirian, ibu nggak ngasih izin? Nunggu bapak pulang dulu, ditambah lagi Ana juga nggak punya uang," ujar Ana..


Anton langsung terdiam seketika Ana bicara masalah uang, ia bisa sih memberikan Ana uang untuk ongkos, seperti yang dijanjikan ya tapi keadaan Ana disana bagaiamana? Ya bagaimanapun juga ia juga berpikir. Ana pulangnya, berangkatnya.


"Ana tahu nggak tempatnya?" tanya Anton.


"Tahu, mesjid IAIN yang ada di Ciceri itukan?" balik tanya Ana.


Anton mengangguk dengan cepat.


"Ana bisa sendiri kok berangkat dari sini kalau nggak salah sih! Dari sini ngojek ke Panimbang, dari Panimbang naik mobi ke Pakupatan dari Pakupatan naik mobil jurusan Rau, Royal atau Kebon Jahe lalu turun di IAIn Ciceri." Ana menerangkan rute perjalanannya yang bakal ditempuh.


Sebenarnya hati Ana gelisah banget kerena bukan hanya izin ibu Tri yang harus ia kantongi tapi izin pak Mamat juga yang wajib dikantonginya. Mungkin kalau ada izin dari bapak nya Ana, gadis itu akan aman sekali bisa bisa gadis berkacamata itu bakal diantar oleh pak Mamat.


Tapi kalau tidak diizinkan pasti Ana akan mendekap di kampung saja, tanpa tahu dunia luar yang ramai sekali.


"Kak, boleh pinjam hpnya?" tanya Ana tiba tiba.


"Mau apa?" ujar Anton heran.


"Mau telpon bapak dulu, kalau misal diizinkan Ana berangkat tapi kalau Ana nggak diizinkan ya udah lah," jawab An pasrah.


Ia benar benar pasrah mengatakan itu semua, kerena Ana hanya ingin tahu saja kalau bapak mengizinkan atau tidaknya. Itu saja. Anton yang mendengarkan apa yang Ana katakan hanya bisa memberikan hpnya, tapi sebelum memberikan hpnya ia mencari kontak pak Mamat di hpnya, setelah itu memijit tanda telpon untuk menghubungi pak Mamat.


Ana memperhatikan apa yang Anton lakukan setelah sambungan telpon menyambung Anton memberikan hpnya pada Ana.


📱Assalamualaikum.


Ana langsung memberikan salam pada bapaknya. Hatinya bergemuruh sangat cepat sekali, seperti dikejar setan di siang bolong. Ia berusaha tenang, ya biarpun hatinya masih berdebar keras. Ini keputusan dirinya untuk bangkit.

__ADS_1


📱Walaikumsalam, ada apa Ana telpon bapak. Insha Allah bapak sore pulang, bilang ke ibu ya.


Kata bapak ya menanyakan kenapa anak pertanyannya menelpon kerena selam ini Ana tidak pernah telpon dirinya lalu ia pergi jauh. Otomatis saat Ana telpon laki laki setengah baya itu heran sambil mengkerutkan wajahnya.


📱Pak, boleh nggak kalah Ana ikut lomba Tralis di mesjid IAIN Serang.


Kata kata itu mulus meluncur dari bibir gadis usia 21 tahun. Ia hanya ingin tahu jawaban apa yang bakal diberikan bapaknya pada dirinya.


📱Itu acaranya kapan Na?


📱Tanggal 03 Juni pak, pukul 13.00.


Ana langsung memberikan tahukan tanggal dsn jam pada pak Mamat tentang kegiatan lomba Tralis itu. Debaran hatinya mulai turun seketika tapi kalau dibandingkan yang tadi agak mendingan yang ini.


📱Ana nurut sama bapak ya, nanti sore jawabnya, setalah bapak sampai rumah.


Pak Mamat langsung mematikan hubungan telponya dengan Ana. Gadis itu agak kecewa berat kerena bapaknya tidak lanhsung memberikan izin malah ia harus menunggu bapak pulang. Ya bapak nya pulang sore berarti datang ke rumah besok, ya lama lagi deh keluh Ana kecewa.


Ana langsung memberikan hpnya ke Anton yang masih melihat wajah Ana miring sekali.


"Kak, kalau Ana Istikhoroh terus Allah tidak ngasih Ana izin bagaimana?" Ana ragu.


Hati Ana bimbang sekali kalau misal ia melakukan Istikhoroh terus Allah tidak memperlihatkan tralis sebagai apa yang ia cita citakan bagaimana? , itu yang ia takutkan sebenarnya.


"Na, Istikhoroh itu meminta yang terbaik buat kita. Buat Ana. Kalau Tralis yang terbaik insha Allah Dia bakal menunjukannya." nasehat Anton.


Ketika Anton melihat Ana terlihat ragu sekali untuk Istikhoroh.


"Kak, bagi Ana tralis yang terbaik. Kak, bisa nggak kalau Ana nggak Istikhoroh. Ana takut kalau An Istikhoroh bakal gagal ikut Tralis." ujar Ana bimbang.


"Jangan begitu Ana, apa yang terjadi sebenarnya itu yang terbaik buat kita. Lakukan Istikhoroh hanya dua rakaat." imbuh Anton memotivasi Ana untuk Istikhoroh.

__ADS_1


Mau tidak mau An harus Istikhoroh, tapi ia tidak menemukan apa apa dari sholat Sunnah itu hanya yang anehnya hatinya begitu adem, tenang dan ringan banget melalui hati itu.


Hati yang di tunggu Ana tiba juga, jam 17.00. Ana, bapak, dan ibu duduk di ruang tamu. Dengan kerasan yang berdebar takut tidak diizinkan Ana mengatakan kalau ingin ikut Tralis.


"Ibu nggak punya uang buat ke Serangnya!" sembur ibunya.


"Bu!" jerit Ana.


Gadis itu sudah menduga kalau kata kata itu bakal jadi penghalang jalannya untuk meraih cita citanya. Bapak hanya diam saja saat sang istri menyela pembicaraan Ana.


"Na, apa yang dikatakan ibumu benar, bapak nggak punya uang. Apalagi bapak baru sampai di Tasik jadi uangnya dipake oleh bapak." jawab pak Mamat membenarkan kata kata istrinya.


Mendengar kata kata pak Mamat, Ana runtuh seketika juga. Ada tangis di bibirnya keputusan bapak tidak bisa digugat oleh siapapun juga. Masalah uang dan ongkos ke Serang jadi perdebatan sengit antara Ana dan bapak serta ibu.


Tanya menunggu lagi, ia beranjak dari duduk dan pergi begitu saja dari ruang tamu meninggalkan.orangntuanya. Pak Mamat menghela nafas secara kasar saat melihat Ana seperti itu, ya apa yang ia katakan pada putrinya benar sekali.


"Ibu hanya takut kalau ada disana ikut pergaulan bebas, apalagi kota Serang, ibu khawatir pak," ujar ibu Tri merangkul tubuh suamianya.


"Bu, apa yang kamu khawatirkan bapak juga khawatir apalagi Ana tidak tahu kota, apa yang ibu rasakan bapak juga rasakan." Hela pak Mamat.


Orang tua mana sih yang yang begitu tega melepaskan kepergian seorang anak gadisnya yang tudks pernah tahu kota, ya mereka hanya takut kalau anak pertamanya yang mereka.sayangi kenapa kenapa, apalagi kehidupan kota yang jauh berbeda dengan desa.


Sedangkan Ana lari ke pinggir sungai, dan duduk di bawah pohon dengan tatapan mata lurus sambil melihat riakan air sungai yang tertiup angin.


Kata kata pak Mamat sebenarnya membuat hati Ana hancur seketika juga.


"Terus buat apa aku Istikhoroh kalau jawaban ini yang aku dapat!" teriak Ana menangis frustasi.


Pikiran pikiran kotor mulai menyelimuti hati Ana hanya untuk mendapatkan uang kilat.


"Kalau di kota kota bisa saja aku menjajakan kesucian yang penting mendapatkan uang mau berapapun juga," bisik hati Ana.

__ADS_1


Ya kalau misal hidup kota bisa saja malam hari ia mencari om om untuk mendapatkan uang 1 juta, dengan tidur dengan laki laki yang butuh dekapan seorang gadis seperti nya tapi apa di kampung bisa seperti itu? Kalau saja sekarang ada laki laki yang mau memberikan uang ia akan menyerahkan kehormatannya.


Ya biarpun Anton berjanji memberikan uang untuk perjalanan Ana untuk ikut lomba Tralis tapi uang itu tudkammungkin mencukupi kebutuhan dirinya. Pikiran pikiran kotor terus ada di lubuk hatinya, ia benar benar tidak bisa berbuat apa apa. Kecuali menangis.*


__ADS_2