
Tahun 2003, pertengahan tahun, awal bulan Agustus.
Di meja tamu Ana melihat ada koran yang masih di plastik tapi, tanpa menunggu waktu lagi ia langsung mengambilnya dan merobek plastik yang membungkus koran itu.
Ia melihat lihat dulu isi koran itu tiba tiba matanya terbelalak oleh satu judul artikel yang terpampang dengan huruf besar.
Penulis asal Pandeglang telah launching novel pertamanya dengan judul MANA BIDADARI UNTUKKU karya Ibnu Adam Aviciena.
Deg!
Hati Ana bergetar saat menyelesaikan membacanya, Ibnu Adam asal Cibaliung kuliah di IAIN Serang sekarang belajar menulis di Rumah Dunia. Rumah Dunia dirintis oleh pasangan suami istri Gol A Gong dan Tias Tatanka asal wanita Solo. Dan yang lebih terkejutnya kalau Rumah Dunia dirintis pada tahun 2002, dimana saat itu Ana sering bapak balik Pandeglang dan Serang.
Setelah melihat berita itu, Ana mencari bapak dan ibunya ingin membicarakan masalah Rumah Dunia.
"Na, itu Rumah Dunia dimana?" tanya pak Mamat menatap putrinya.
"Di Serang, pak." antusias Ana menjawabnya.
Bapaknya hanya mwngelangkan kepala mendengar jawaban Ana yang polos.
"Na, Serang itu nggak kaya Ranca Jaya, Serang itu luas sekali." pak Mamat mengelus rambut putrinya lembut.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Serang itu kaya Pandeglang Ana. Pandeglang kan ada Menes, Saketi, Labuan, Tarogong, begitu juga dengan Serang. Serang itu ada pasar Rau, Pasar Royal, Ciceri, Ciracas, sekarang Ana tahunya alamat Rumah Dunia."
Ana nyengir mendengar apa yang bapaknya katakan. Ya ia tidak tahu dimana alamat lengkap nya Rumah Dunia kerena di dalam artikel itu hanya menyebutkan Rumah Dunia saja tanpa ada alamatnya. Akhirnya Ana pasrah saja keinginan ke Rumah Dunia kandas seketika kandas juga..Harapan masuk Rumah Dunia kini hanya mimpi saja. ( sebenarnya kalau saja Allah mengizinkan tahun 2003 masuk Rumah Dunia bisa saja, kerena sudah banyak tahu Rumah Dunia π ).
"Ya udah jangan masuk Rumah Dunia," Dengus Ana.
"Pasti ada jalan." ujar bapak sambil menepuk pungung Ana lembut.
Ana meninggalkan bapak yang ada teras belakang. Melihat putri pertamanya merajuk pak Mamat menggelengkan kepala, ia sebenarnya ingin sekali mendukung putrinya yang benar benar ingin jadi penulis tapi bagaimana kerena kondisinya juga tidak sesuai apalagi penghasilan bulanan sebagai guru, jauh dari mencukupi apalagi untuk membeli komputer ditambah lagi jaringan internet.
"Bu, apa bapak pinjam ke koperasi gitu buat beli laptop?" tanya Pak Mamat menatap istrinya.
"Pak, jangan dulu. Ya biarpun putri kita butuh juga tapi adik adik Ana juga butuh biaya buat kuliah, apalagi Ita " ujar istrinya menghela nafas panjang.
Ya ia sama saja. Anaknya bukan Ana seorang tapi ada tiga adiknya yang sangat butuh biaya, masih untung sekarang Ana tidak menuntut kuliah. Pak Mamat menatap wajah istrinya. Ia.mengertimap yang diucapkan wanita yang telah menemaninya.
Ia terlihat menarik nafas, lalu dihembuskan lagi dengan perasan kesalnya dalam hati. Sebuah penolakan dari orang tuanya. sebenarnya pak Mamat juga ingin sekali melihat putrinya bahagia dengan bidang yang diskusinya, bukan pak Mamat tidak mengizinkan anaknya pergi tidak, kerena artikel yang dibaca oleh Ana tidak mencantumkan alamat jelasnya. ia hanya takut kalau pas Ana kesana kesasar apalagi putrinya belum tahu serang. ( bapak nggak tahu sebenarnya saya waktu kursus komputer sering ke Serang π ).
Akhirnya gagal untuk ke Rumah Dunia kerena bagaimanapun juga memang sudah untuk menuju Rumah Dunia, apalagi gabung di sebuah komunitas literasi. Hanya sebuah keinginan yangbtidak ada kenyataan itu lebih pahit dibandingkan keinginan yang terlah tercapai.
Akhirnya Ana kembali lagi ke aktifitas menanam tanaman yang ada di halaman rumahnya. Untuk sementara ini ia melupakan keinginan untuk ke Rumah Dunia, ya Ana menyesal baru tahu sekarang tentang rumah Dunia. Dan gadis itu dalam benaknya bertanya tanya tentang Rumah Dunia, itu bentuknya seperti apa. Apa bulat seperti dunia dan diatasnya ada sebuah rumah, atau apa?
Dalam hatinya selalu mengingat sebuah nama Gol A Gong, Ana berpikir kalau nama Gol A Gong itu seorang laki laki renta, yang sudah tua. Kulitnya keriput, pakai kacamata, imajinasinya sangat kuat sekali.
__ADS_1
Ia tidak tahu apa Rumah Dunia itu, ya itu adalah imajinasi Ana tentang Gol A Gong dan satu lagi ia juga tidak tahu kalau nama Gol A Gong adalah nama penaπ.
"Bu, bagaiamana caranya Ana ke Rumah Dunia?" tanya Ana pada ibunya di dapur.
"Na, jangan bilang ke ibu, lebih baik bicarakan ini pada bapak. Biar bapak memutuskannya, Ana juga harus nurut sama bapak, kata bapak kan bapak nggak tahu alamat Rumah Dunia?"
Ibu Tri menatap anak nya dengan perasaan kasih sayang. Ia ingat percakapan dengan suamianya kemarin, ketika putrinya menunjukan sebuah koran tentang Ibnu putra Pandeglang yabgbtelah berhasil menjadi novelis. Wanita itu tahu kalau putrinya benar benar punya keinginan yang kuat untuk menulis, hanya keadaan saja yang belum mengizinkannya.
Sang ibu langsung memeluk tubuh putrinya dengan eratnya. Ana pun langsung memeluk tubuh ibunya, keinginan yang mengebu membuat Ana ini mencapai semuanya yang dilalui sebagai penulis. Ya untung bicara masalah cita cita ia hanya ingin sekali bukunya dibaca oleh semua orang apalagi kalau menghasilkan uang.
"Ibu doain semoga apa yang Ana inginkan menjadi kenyataan,"
"Aamiin ya Allah," jawab gadis itu sambil melepaskan pelukan ibunya.
Ia sangat terharu mendengar doa ibunya yang begitu tulus baginya. Ya wanita pertama lah yang selalu ada dihati gadis berkacamata itu, tanpa ibu nya tidak mungkin ia seperti ini.
****
Sebulan sejak kejadian itu! di tahun yang sama, ia membeli majalah di Labuan kerena di Labuan banyak pedagang kaki lima yang menjual buku buku bekas tapi masih layak di baca.
Di majalah itu Ana membaca kembali sebuah komunitas yaitu FLP Pamulang Jakarta Barat. Hatinya berdesir kuat saat ia membaca tentang Forum Lingkar Pena ( FLP ), hatinya berontak ingin mengikuti FLP Cabang Pamulang. Tapi keinginan itu terpendam seketika saat bapak dan ibu tidak mengizinkan dirinya pergi.
Alasannya keberadaan FLP Pamulang itu beralamatkan dimana?
__ADS_1
"Bapak nggak ingin Ana kesasar di Jakarta apalagi Ana belum tahu lingkungan di Jakarta," kata bapak.
Apa yang dikatakan bapak benar sekali. Ia sama sekali tidak tahu daerah Jakarta, Jakarta bukanlah sebuah kampung yang sepi, tapi Jakarta adalah sebuah kota yang ramai dan penuh dengan kehidupan malam. Seorang bapak tidak mungkin melepaskan anak gadisnya begitu saja, apalagi di kota besar sendirian.