Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 35


__ADS_3

Pernikahan bukan ajang perlombaan buat kita, tapi pernikahan adalah ajang indah pada Allah kerena apa yang haram dilakukan jadi halal dilakukan.


Kata kata itu tertanam kuat dalam hati Ana. Dengan slogan kalau pernikahan bukan lah ajang perlombaan, Ana akhirnya mengikuti projects Kunang Kunang dalam pelukan. Semua yang ikut anak anak Banten dan kebanyakan di luar Rumah Dunia.


( Alhamdulillah saya bisa bertemu dengan Fitri Suciwiati Zien pendiri TBM Lentera Qalbu, dan saya juga perintis TBM Pustaka Cakrawala NKS. Bukan itu saja Fitri dan suaminya perintis TBM Dihya di Pandeglang, saya kenal pertama kali di Rumah Dunia dengan beliau😊 ).


"Selamat Ana!" Seru Fey sambil memeluk tubuh Ana dengan erat.


Dalam hati gadis itu ada haru, bahagia saat pertama kali cerpen yang di terbitkan oleh Gong Publishing.


"Tapi Ana Pengan nikah!" suara polos Ana menatap wajah Fey.


Ana manarik tangan Fey dan menyatakan kalau ia ingin menikah, tapi susahnya minta ampun mencari jodoh yang benar benar tulus mencintainya. Fey hanya gelengkan kepal mendengar curhatan Ana, ia melihat jelas memang mata Ana tidak pernah berbohong.


"Na, kalau memang siap menikah Allah juga bakal mempertemukan Ana dengan jodo yang bakal dikirim sama Nya." hibur Ana.


Sebelum meninggalkan Rumah Dunia, Ana.malah curhat ke Fey Tatang pernikahan. Apalagi ia mengatakan kalau adiknya Ita sudah punya anak bayi.


"Aku Pengan." lirih Ana mengelus perutnya.


Fey Menghela nafas kasar. Melihat Ana yang ingin menikah, ya pernikahan sesuatu yang sakral di dalamnya penuh dengan ibadah serta keikhlasan. Melihat Ana ngebet nikah ia hanya gelengkan kepala, bisa saja ia mengenalkan Ana laki laki untuk melihat dulu.


"Oke, insya Allah aku carikan." sanggup Fey.


"Tapi dia bukan seorang penulis," lanjut Fey menatap Ana.

__ADS_1


"Nggak apa apa bukan seorang penulis juga, yang penting Sholeh, mandiri dan bekerja yang halal," mantap Ana tersenyum.


Tapi anehnya saat ia mengucapakan kata kata itu ada sedikit keraguan yang menyelinap di hatinya. Ia ragu kalau misal cowok yang dikenalkan oleh Fey tidak memenuhi kriteria dirinya. Apalagi pernikahan itu ibadah yang sangat lama sekali, dan ada keraguan tapi ia tidak menyatakan pada Fey. Ia hanya mengangguk saja.


Kalau misal ia jadi menikah dengan laki laki yang dijodohkan Fey bagaimana ia hidup, jauh dari orang tua, mengikuti suamianya. Keraguan keraguan itulah ia adukan pada Allah, ia berniat kalau ia menikah hanya sekali dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin ada perceraian kecuali kematian yang memisahkannya.


Keraguan itu tidak pernah disampaikan sama siapapun juga termasuk Fey yang akan mencarikan cowok buat Ana. Apa yang ditakutkan oleh Ana terbukti Fey mengenalkan Akan dengan cowok.yang benar benar tidak dikenalnya. Cowok itu pendiam banget beda dengan Ana yang rame.


"Wawah, asal petir, kerja apa saja, insha Allah masalah sholat full lima waktu," perkenalan singkat padat telah dimulai di rumah Fey.


"Ana, asal Panimbang, nggak kuliah, nggak kerja juga, anak pertama," gadis itu memperkenalkan diri pada Wawah laki laki yang menurutnya pendiam banget.


Kalau dibandingkan dengan dirinya, dirinya lebih rame banget, sejak perkenalan itu bukannya mantap hatinya malah ada ketakutan, keraguan apalagi pas ia menjalankan Istikhoroh ya sholat Sunnah itu ia gunakan untuk jalan alternatif memilih yang terbaik buat dirinya.


Selama 3 bulan perkenalan tidak ada yang berubah sama sekali dari Ana dan Wawah, Ana sebenarnya meminta kalau laki laki itu se-Riau datang ke rumah meminta dirinya pada orang tuanya.


Ya ia lebih tegas. Masalahnya ia merasa condong dengan sms sms cowok itu tanpa ada kepastian. Dan itu lebih buruk kerena ada virus virus cinta yang sebenarnya tidak boleh dilakukan oleh Ana apalagi mereka belom menikah.


Tapi Wawah tidak mau mendatangi rumah Ana kerena ia belum siap untuk melanjutkan ke.jenjang pernikahan yang serius. Akhirnya gadis berkacamata itu langsung memutuskan hubungan SMS / telpon dengan cowok itu ia ganti nomor supaya tidak dihubungi oleh nya.


( Intinya Allah telah menyiapkan jodo yang terbaik buat Ana, yang sabar, yang perhatian, yang Sholih, yang terbaik menurutNya ).


"Na, kok ganti nomor?" tanya Fey.


Fey memandang wajah An.hwran sekali melihat nomor hp Ana ganti. Akhirnya Ana menjelaskan ia kenapa ganti nomor, Fey yang mendengar hanya mengelangkan kepala saja, ia tidak menyangka kalau gadis itu memutuskan hubungan dengan Wawah.

__ADS_1


"Aku nggak mau pacaran Fey, aku juga nggak mau tiap malam ia telpon bilang kangen. Kalau memang serius datang aja," Ana merenggut.


Ana sebenarnya yang ia inginkan itu, Wawah datang dulu ke rumah bukan lamaran hanya datang mengenalkan diri ke keluarga nya. Setelah mengenalkan dirinya pada keluarga Ana, otomatis kalau mau ketemu juga tidak apa apa, tapi Wawah sama sekali tidak mau datang ke rumah, bukan lamaran sih tapi mengenalkan diri saja.


( Kalau inget kadang kesal juga sih kelakuan dirinya, tidak datang ke rumah saya, saya dari awal juga tidak begitu nyakin dengan apa yang ia perbuat. Tapi Allah memberikan yang terbaik buat semua ).


Sejak itu ia malas untuk mencari jodo apalagi meminta dicarikan jodo Sam orang lain, ia pasrah apa yang harus diterimanya..Biarpun hatinya tetap ingin menikah tapi kalau Allah tidak berkenan ia menikah ya sudah.


"Daripada mikirin nikah, lebih baik Ana kuliah saja." kata Pak Mamat sewaktu Ana pulang ke rumah.


Ya selama ini Ana menetap tinggal di Serang, dsn malah semakin betah saja. Sedangkan bapak dsn ibunya memikirkan kehidupan Ana dimasa depan nanti. Mereka hanya ingin melihat Ana kuliah dan bisa bekerja sesuai ilmu yang ia dapatkan di kampus.


Deg! Hati nya bergetar saat ia mendengar kata kata kuliah, kuliah yang seharusnya dilakukan sewaktu lulus SMU dulu malah ditinggalkan begitu saja, teman teman seangkatannya sekarang sudah S1 malah Ana masih berkutat di dunia menulisnya.


Kalau membicarakan kuliah memang ia selalu menghindar apalagi kalau mengambil jurusan yang harus diambil. Memikirkan kata kuliah ia sebenarnya malas sekali, apalagi harus belajar, mengerjakan PR dan Mac macam lagi.


"Kok kuliah, kuliah dimana?" tanya nya seperti pada diri sendiri.


"Ya Ana mau kuliah dimana?"


Gadis itu hanya mengelangkan kepala mendapatkan pertanyaan dari bapaknya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk kuliah, sama sekali tidak pernah. Tidak ada mimpi untuk kuliah apa lagi mengambil jurusan yang semakin susah.


"Bagaiamana kalau jurusan Perpustakaan." usil pak Mamat pada putrinya.


"Ana bisa bekerja sebagi tenaga pustakawan," Pak Mamat menatap wajah Ana.

__ADS_1


Ia melihat kejut dimata putrinya itu, ya ia menunggu reaksi Ana untuk kuliah atau tudks, tapi laki laki itu mengharapakan kalau putri nya bisa kuliah seperti adik adiknya.*


__ADS_2