Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 89


__ADS_3

Rani menemukan kejanggalan saat membaca cerpen yang diberikan Cempaka pada dirinya. Ana yang mendengar penjelasan dari Rani hanya melonggo ia sama sekali tidak menduga kalau Rani berkata seperti itu, Rani hanya tersenyum melihat Ana shock mendengarkan penjelasan yang ia sampaikan.


Rani akhirnya menerangkan kalau Mawar pasti bereaksi kembali. Hati Ana langsung bergetar seketika juga, mendengar Mawar akan bereaksi kembali. Ana menatap wajah Rani dengan tajamnya kerena tidak ia sama sekali tidak menyadari semuanya apa yang akan dilakukan mawar.


"Aku nyakin kalau Cempaka pasti bakal ke sini kalau kita menunjukan bukunya yang digunting, aku nyakin ini plagiat masalahnya aku pernah baca cerpen karya seseorang tapi diambil oleh cempaka." Jelas Rani geram seketika.


"Kita pura pura saja ya Na jangan sampai Cempaka melakukan tindakan apapun juga, aku nyakin kalau misal kita heboh tentang cerpen yang diberikan Cempaka pasti kelompok mereka menyerang kita," lanjut Rani kemudian.


Ana hanya mengangguk setuju pada Rani, apa yang ditakutkan oleh Rani memang benar seketika juga. Ini hanya jebakan yang dilakukan oleh Mawar pada Ana dsn Rani.


Ana mengikuti saran yang diberikan oleh Rani, ia tidak melakukan sesuatu yang menarik perhatian Mawar. Ia menganggap cerpen Cempaka tidak ada apa apa yang serius, itu yang jadi pertanyaan pada Mawar dan kedua temannya.


Ya dua gadis itu heran kerena tidak mendengar keributan di ruangan kreasi, Ana dan Rani seperti biasanya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ruangan reaksi. Bagitu juga Ana ditambah lagi Naa dan mawar memang beda kela jadi itu lebih enjoy dibandingkan Rani mungkin.


Mawar dan kedua temannya sangat heran tidak melihat ada perubahan yang terlihat, kerana Ana dan Rani biasa saja seperti kemarin kemarin tidak mengurus masalah cerpen yang diberikan pada Ana.


"Kamu ngasih yang benar kan?" Tanya Mawar menatap cempaka tajam.


"Aku ngasih yang benar kok, dalamnya yang telah kamu gunting semuanya, dan sebagiannya di coret coret?" Ujar Cempaka membalas tatapan mawar.


"Tapi Ana nggak komplen masalah cerpen itu, kan kalau ada kesalahan kadang Ana sering membicarakan pada penulis nya." Gumam Mawar berpikir.


Mawar sering melihat Ana kalau misal ada kesalahan tulisan, atau tulisan tidak mengerti Ana selalu memanggil siswa yang pada hari itu memberikan cepennya pada Ana. Ana kadang memberikan arahan pada siswa tersebut, begitu juga kalau ada kesalahan misal ceritanya tidak menyambung, tapi sekarang malah Ana diam saja. Sedangkan ia sendiri yang mengunting beberapa halaman cerpen setelah ditulis.

__ADS_1


"Memangnya apa sih yang kalian bicarakan?" Tanya Dahlia yang merasa heran pada Cempaka dan Mawar.


"Aku sebenarnya mau jebak Ana tapi gagal," lirih Mawar.


"Maksudnya?"


"Argh! Dahlia! Fokus dong!" Teriak Mawar kesal.


"Aku kemarin ngasih cerpen tapi dalamnya ku gunting, lalu dikasihkan ke Ana." Jelas Mawar manatap Dahlia.


Dahlia yang ada dihadapannya Mawar, akhirnya mengerti dan mengangguk anggukan kepala mendengarkan penjelasan dari Mawar. Ia kemarin sebenarnya ingin menanyakan tapi tidak berani, tapi sekarang ia baru mengerti kalau Mawar sebenarnya akan menjebak Ana melalui cerpen.


Tanpa mereka bertiga sadari, secara diam diam Ana yang menguping hanya diam saja mengetahui kejujuran Mawar dan dua temannya yang akan menjebak dirinya. Ia hanya menghela nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja, hati Ana ada perasaan sakit mendengar semua yang diucapkan oleh Mawar.


Tadi sebenarnya Ana ingin menuju ruangan perpustakaan kerna empat hari kaku ia meminjam buku untuk di baca, ketika ia melewati ruangan lab tiba tiba matanya menangkap pungung Mawar yang menghilang di belakang ruangan lab. Ia sembunyi di dinding ruangan lab sedangkan Mawar dan kedua temannya langsung duduk dengan anteng sambil mendengarkan apa yang mawar bicarakan.


Ia tidak benar benar fokus untuk membaca, sedangkan buku yang ia pinjam adalah buku yang belum ia baca.


Sedangkan Mawar yang tidak menyadari kalau Ana telah menguping melanjutkan pembicaraan dengan dua temannya, ya mereka tidak tahu kalau selama ini Ana sebenarnya tahu tidak tanduk yang dilakukan Mawar tapi ia lebih memilih diam begitu juga dengan Rani.


"Terus rencana kita bagaimana sekarang?" Tanya Dahlia penasaran lada rencana Mawar.


"Ya untuk sementara kita hanya diam dulu, lihat dulu korban," kata Mawar.

__ADS_1


Sebenarnya tadi ia akan mengatakan rencananya kembali tapi ia ragu untuk mengungkapkan nya, akhirnya ia mengatakan itu pada kedua temannya.


"Bagaiamana kalau rencananya kita jangan menyerang ruangan kreasi sih, tapi sering perorangan aja?" Ujar Dahlia.


Mawar dan Cempaka langsung menatap wajah Dahlia dengan tajam, Dahlia mendekati kedua temannya dan berbisik di telinga keduanya. Mawar dan Cempaka yang tidak menyangka kalau otak Dahlia encer akhirnya mengangguk anggukkan kepalanya.


Mereka tertawa riang sekali mendapat ide dari Dahlia, ia tidak menyangka kalau Dahlia punya otak yang brilian sekali, Mawar sangat setuju usul dari Dahlia. Akhirnya mereka berlarian menuju ke kelas mereka dengan senyuman dan wajah ceria mereka.


🐝


Sejak kejadian cerpen yang di kirim cempaka yang tidak pernah terungkap sama sekali, membuat Mawar bertanya tanya kerena tidak ada keributan oaaoakun juga. Ketiganya akhirnya membuat keputusan yang hanya mereka bertiga yang tahu, kerena Ana yang mwndengrakan pembicaraan mereka akhirnya ke perpustakaan setelah mendengar pembicaraan yang menyangkut cerpen yang dikirim oleh Cempaka.


Ana sekarang tahu dalang permasalahan yang terjadi di ruangan kreasi, sebenarnya ia dan Rani tidak pernah bermusuhan dengan Mawar hanya mawar saja yang membuat permusuhan yang terjadi.


"Biarkan apa yang dilakukan oleh Mawar," kata ibu Elis menasehati Ana.


Jam istirahat Ana menuju perpustakaan, disana melihat ibu Elis sedang membereskan buku buku yang tercecer tidak karuan sama sekali. Gadis berkacamata duduk di kursi biasanya, ibu Elis langsung menghampiri nya.


Dan mereka tidak menyangka akan terlibat dalam percakapan tentang mawar, ia menceritakan sepak terjangnya yg dilakukan oleh Mawar, guru PAI itu hanya memberikan nasehat pada Ana untuk membiarkan segala tingkah laku yang Mawar lakukan pada Ana.


"Ana sebenarnya nggak mau seperti ini," keluh Ana.


"Kamu jangan sampai tersulut emosi oleh Mawar, lakukan apa yang perlu kamu lakukan." Kata ibu Elis lembut sekali.

__ADS_1


Ana hanya mengangguk. Wanita muda berusia 23 tahun itu tidak mau terlibat masalah anak remaja, ya ia memaklumi masalah Ana dan Mawar kerena mereka hanya anak remaja yang labil dan masih mencari jati dirinya. Baginya yang penting menasehati Ana untuk lebih baik lagi bagaimanapun Ana dan Mawar adalah anak didiknya, yang harus mendapatkan perhatian.


Dan ia tidak ingin memihak satu dari keduanya. Ya ibu Elis hanya menjadi kenangan diantara Ana dan Mawar, ia juga tudan mihak ke Ana atau ke Mawar. Baginya Ana dan Mawar masih bisa diarahkan ke yang lebih baik lagi.*


__ADS_2