
Pagi yang indah.
Ya biarpun agak mendung, tapi gadis berkacamata tetap semangat untuk pergi ke sekolah mengunakan sepeda nya, angin yang sejuk menyentuh kerudung yang ia gunakan, seperti memberikan elusan lembut ke tubuh Ana yang bermandi keringat.
Udara pagi itu terasa dingin sekali, kerena tadi malam hujan telah menguyur bumi dengan lebatnya, jadi pantas kalau sang mentari begitu malasnya untuk muncul ia lebih baik berselimbit awan yang menghangatkan tubuhnya. Tapi buat Ana gadis 17 tahun, biarpun mendung tidak menghalangi dirinya untuk ke sekolah pagi itu.
Setelah memarkirkan sepedanya Ana langsung ke ruangan kreasi, tapi ia shock melihat keadaan ruangan kreasi yang sedemikian rupanya. Seingatnya ia dan Rani kemarin sebelum pulang sekolah telah membersihkan ruangan kreasi. Tapi kenyataannya ruangan yang kemarin di bersihkan seperti kapal pecah. Ya Ana masih ingat, kemarin sepulang sekolah mereka langsung membersihkan ruangan itu sampai bersih, bukan hanya disapu tapi di pel juga, jadi biar paginya mereka enak tidak bekerja beberes lagi
Tapi Ana mata Ana terbelalak hampir keluar bola matanya saking tidak menyangka kalau pagi ini ruangan kreasi seperti kapal pecah yang telah terjadi peperangan yang hebat.
Betapa tidak pintu ruang kreasi terbuka dan barang barang yan ada di dalamnya hilang, dan yang lebih terkejutnya, banyak kertas kertas berwarna hitam seperti ada orang yang membakar kertas di ruangan itu, tapi tidak ada asap maupun api yang ada hanya debu pembakaran saja.
Tubuh Ana mendidih melihat semuanya yang terjadi, sedangkan ia tahu kemarin ia dan Rani yang mengunci dan kuncinya masih ditangannya.
"Mawar!" Bisik hati Ana terasa panas.
Ya gadis berkacamata itu langsung menuduh Mawar yang melakukannya, karena hanya Mawar lah yang selalu membuat keributan pada dirinya membuat gara gara, belum sempat Ana keluar di ruangan kreasi. Rani yang baru datang menatap penuh keheranan, gadis berkaca mata hanya mengangkat kedua bahunya kerena ia juga tidak tahu apa apa.
"Aku nyakin kalau Mawar dan kedua temannya," tuduh Ana.
"Na, jangan menuduh dulu kita bicarakan baik baik saja dengan mereka," cegah Rani memegang tangan Ana.
__ADS_1
"Pokoknya aku nyakin Ran kalau mereka yang melakukannya, siapa lagi coba. Dari kelas 2 sampai kelas 3 kelakuannya seperti itu," cerocos Ana kesal.
"Na, dengarkan aku dulu, kamu ada bukti?" Tanya Rani.
Ana hanya menggelengkan kepala saja mendengar kata kata dari Rani. Memang sekarang tidak ada bukti tapi kemarin kemarin Mawar yang selalu melakukan semuanya jadi bagaimanapun ia pasti menuduh Mawar dsn teman temannya yang melakukannya.
Rani tidak bisa dicegah, gadis itu langsung pergi dari ruang kreasi dengan perasaan yang berkecamuk tapi sebelum mencari mawar ia menyimpan tasnya dulu di kelas, ia nyakin kalau Mawar sudah tiba sebelum dirinya tiba. Apa yang dipikirkan olehnya terbukti, Ana melihat tas Mawar dan kedua temannya tapi mereka tidak ada di dalam kelas, hati nya berkata pasti di kantin. Akhirnya Ana langsung menuju kantin, benar dugaannya Mawar dan kedua temannya ada di kantin sedang menikmati sarapan pagi dengan canda tawanya.
Tanpa ba bi bu lagi gadis berkacamata itu menghampiri mereka bertiga, ketiga tamannya menatap kedatangan Ana dengan perasaan yang heran sekali. Tanpa menunggu waktu lagi,
PLAK!
Ana merasa kesal sama Mawar. Mawar telah melakukan pemusnahan menghilangkan karya karya orang yang ada di ruangan kreasi. Ana yang menduga kalau Mawar melakukan itu langsung tanpa ba bi bu lagi menampar pipi Mawar yang sedang sarapan di kantin. Kehebohan terdengar nyaring di telinga semua orang. Mawar menarik kerudung Ana dengan sangat kuat sampai kerudung terbuka.
( Saya sebenarnya tidak tahu kalau semuanya ini perilaku Ria, Ria tidak senang kalau Mawar selalu bantu saya, kerena Mawar tahu siapa Ria. Ria melihat situasi yang membuat dirinya tidak aman dengan cara melenyapkan berkas cerpen cerpen di ruangan kreasi.
Dan ia menduga kalau saya menyalahkan mawar dalam masalah ini, ya memang saya menyalahkan Mawar. Tapi saya juga Mawar tidak tahu itu, dan ini adalah titik awal kami akhirnya baikan dan membuat Ria tidak berkutik ).
Rani yang melihat kedua temannya langsung menarik Ana untuk menjauhi Mawar, tapi saat ia menarik Ana, mawar langsung datang dan memukul Ana dengan ganasnya. Begitu juga sebaliknya.
PLAK
__ADS_1
Rani akhirnya memukul wajah Ana dan Mawar bergantian, kerena keduanya tidak mengikuti perintahnya untuk tidak bertengkar apalagi di sekolah. Keduanya langsung diam dan menatap Rani dengan tatapan yang berbeda.
"Dahlia batuan dong jangan lihatin aja!" Teriak Rani terlihat kesal.
Ana yang di pukul oleh Rani tidak mengubris begitu juga dengan Mawar. Mereka berusaha melepaskan genggaman tangan Rani, tapi Rani berusaha memisahkan Ana dan Mawar. Melihat itu semuanya Dahlia yang mendengar teriakan Rani langsung menuju Mawar untuk ia tarik supaya menjauhi Ana. Tapi gadis itu berontak ingin rasanya mawar menampar muka Ana dengan keras supaya kapok. Tapi Rani berusaha menghalangi Ana, Mawar gemas sebenarnya pada Rani yang berusaha untuk melindungi Ana.
Bukan hanya Dahlia dan Cempaka yang memisahkan Ana dan Mawar tapi ibu kantin juga turun tangan untuk memisahkan Ana dan Mawar.
Akhirnya keduanya bisa dipisahkan, ibu kantin membawa Ana duduk di kursi yang telah dibenarkan olehnya. Mereka duduk di kursi dan meja yang sama. Ana di samping ibu kantin dsn Mawar, Rani, Cempaka dan Dahlia di depan Ana dsn ibu kantin. Sedangkan teman teman yang lain sesudah Ana dan Mawar di pisahkan mereka pada bubar meninggalkan kantin.
Setelah keduanya duduk dengan tenang. Ibu kantin menatap wajah Mawar yang merah padam kerena menahan marah dsn malu, kerena memang ia sedang makan tiba tiba Ana datang langsung menampar pipi Mawar ya otomatis mawar marah dan membalas kelakuakan Ana.
"Kalian kenapa? Apa sih yang kalian ributkan?" Tanya ibu kantin ingin tahu.
"Ruang kreasi ada yang merusak, pintu juga rusak, ya kalau bukan Mawar siapa lagi coba?" Tanya Ana pada ibu kantin dsn menatap teman temannya.
"Na, percaya aku dan teman teman nggak pernah melakukan itu lagi," bela Mawar pada Ana.
Ia berusaha menjelaskan pada Ana kalau memang dirinya tidak pernah melakukan apa pun juga, tapi melihat wajah Anak yang tidak percaya membuat Mawar frustasi. Dan ia mengutuk orang yang membuat keonaran, serta memitnah dirinya.
Ia hanya mengepalkan tanganya merasa kesal, ia harus menjelaskan semuanya pada Ana ya biarpun gadis itu mau percaya mau tidak itu terserah.
__ADS_1
"Kamu duluan!" Teriak Ana sambil mengebrak meja yang ada dihadapannya.*