
Ana menerima dengan perasaan heran kerena ibu Elis memberikan info tentang penulisan cerpen, ia tersenyum bahagia melihat di secarik kertas tantang perlombaan cerpen se SMU. Gadis itu tidak menyangka kalau ada perhatian kecil dari ibu Elis yang begitu mendalam sekali. Hati Ana benar benar terharu sekali menerima selembar kertas yang berisikan lomba cerpen.
Ibu Elis menatap wajah Ana dengan tajam, ia sebenarnya ingin sekali kalau melihat Ana bisa menggapai cita cita yang diharapakan oleh gadis itu. Sebenarnya secara diam diam ia memperhatikan Ana, kerena gadis itu selalu ke perpustakaan ditambah lagi ia juga mengajar Ana dari kelas 1 sampai sekarang jadi tidak heran kalau ia tahu kegiatan yang Ana lakukan.
Ya dibandingkan anak anak lain Ana lebih aktif di perpustakaan sekolah, biarpun teman teman selalu berada di kantin ia selalu berada di perpustakaan diwaktu istirahat maupun tidak ada gurunya.
Jadi sadar tidak sadar ia mengetahui sedikit tentang gadis berumur 16 tahun itu, ibu Elis hanya tersenyum tapi dalam hatinya ia merasa senang sekali memberikan sesuatu yang menurutnya tidak ada artinya tapi bagi Ana sendiri penuh arti.
"Makasih, Bu atas dukungannya."
Ujar Ana, saat ia mengucapakan itu ada keharuan yang hadir dalam hatinya, apalagi diperhatikan oleh ibu Elis. Ia gembira mengenal ibu Elis di sekolah kerena ibu Elis selalu memberikan dukungan dsn semangat buat dirinya.
"Iya sama sama, sukses buat Ana ya." senyum Ibu Elis ramah.
Kata kata itu muncul begitu saja di hati ibu Elis, kata kata yang seharusnya diungkap dari dulu untuk Ana, tapi abru sekarang kata kata itu keluar dari hatinya. Ana mengangguk dan mencium tangan Ibu Elis dengan takzimnya, setelah itu ia pamit mau menyimpan kertas itu. Wanita 23 tahun itu menganguk mengizinkan muridnya pamit, saat Ana melangkah kan kaki menuju kelas, ia hanya tersenyum tanpa sadar ia mendoakan gadis itu supaya mencapai mengejar cita citanya.
Setelah meninggalkan ibu Elis, dalam hatinya sangat gembira sekali mendapatkan informasi tentang lomba, ia tidak berpikir bagaimana menulisnya kerena terlalu senang sekali menerima kabar tentang perlombaan. Ia merasa nyakin kalau ini jalan yang bakal tempuh. Dan banyak orang orang yang peduli dengan dirinya sekarang ya biarpun ada juga yang tidak senang.
( Tapi saya tidak jadi ikut lomba kerena kertas yang ada info cerpen di robek oleh Rani dan genknya, entah kenapa mereka melakukan itu lada saya. Saya kadang pengen banget lihat Rani menderita seperti yang ia lakukan pada saya ).
__ADS_1
Ana dengan riangnya langsung menyimpan kertas yang berisikan info lomba itu ke tasnya. Tapi sebelum Ana menyimpannya tiba tiba Rani datang menghampiri Ana yang berjalan menuju ke kelas. Tapi Rani dengan cepat merampas kertas itu, Ana mempertahankannya. Tapi nihil Rani malah merobek kertas itu dan membuang.
Tanpa Rani ketahui. Tiba tiba.
BUG
Ana dengan kerasnya memukul wajah Rani dengan tanganya. Mawar dan teman yang lain yang melihat Ana menerjang langsung terbirit lari ketakutan sekali, apalagi Mawar yang kemarin kepalanya harus di perban melihat Ana seperti itu langsung beribu ribu lari. Begitu juga dengan dua orang temannya. Ana marah sekali melihat Rani seperti itu, kerena sebenarnya harapan satu satunya untuk ikut lomba cerpen tapi saat ada lomba cerpen malah dengan sengaja langsung di sobek.
"Ana, Rani!" ibu Elis yang melihat keduanya langsung menghampiri.
Ana yang berhasil meninju wajah Rani, tersenyum sinis kearah Rani. Sedangkan Rani yang gagal menghajar Ana merasa kesal dan geram sekali. Apalagi melihat ibu Elis yang berteriak memanggil kedua gadis itu!
"Bu, kertas yang dikasih ibu malah di robek!" adu Ana pada ibu Elis.
Tatap wanita itu dengan tajam kearah wajah Rani, Rani hanya mengangguk saja tanpa tidak ada komentar sama sekali. Melihat anggukan kelapa Rani, ibu Elis hanya mengelangkan kepala saja.
"Rani kamu ikut ibu ke ruang guru!" perintah ibu Elis dengan tegasnya.
Ana yang mendengar ibu Elis menyuruh Rani mengikuti ibu Elis hanya mencipir kan bibirnya pada Rani, Rani yang melihat Ana mencipir kan bibirnya kearah dirinya hanya menatap sinis pada gadis berkacamata itu.
__ADS_1
Rani langsung mengikuti ibu Elis ke ruang guru, Ana malah pergi begitu saja, ibu Elis hanya melirik wajah Ana yang terlihat kesal dan geram pada Rani, ya ia tahu kalau Ana kesal kerena tidak bisa ikut lomba itu.
Ana langsung menuju kelasnya sedangkan Rani berjalan dibelakang ibu Elis, sedangkan teman Rani yang lainnya entah pergi kemana, Ana tidak mau tahu pada teman Rani yang telah pergi saat ia menghajar pipi Rani. Dan Ana sama sekali tidak tahu apa yang ibu Elis bicarakan pada Rani tapi lama lama nanti nya Ana tahu kerena Rani memberi tahukan semuanya pada diri Ana.
Sepulang sekolah Ana berjalan dengan santai menuju rumahnya, sebenarnya Ana malas berjalan dari sekolah menuju sekolahnya kerena sekarang tidak mengunakan sepedanya, tapi bagaiamana pun ia harus pulang. Kalau pulang naik ojeg, ojeg jarang ada dan ongkosnya juga agak mahal dari lada naik mobil. Kalau menunggu mobil itu butuh perjuangan, maksudnya kalau pulang jalan kaki, dan menunggu mobil itu sama sama lama. Kerena menunggu mobil bisa 1 dan 2 jam untuk mendapatkan mobil, sedangkan kalau jalan kita udah pasti sampai sebelum mobil datang.
Jadi Ana lebih baik jalan kaki menuju rumah. Sinar raja siang benar benar barang sekali, semua kepanasan sekali, apalagi angin tidak datang juga tidak mengusir panas yang benar benar bagaikan di panggang di oven.
Ana sebenarnya celingukan mencari titis kerena memang titis kadang sering menemani dirinya jalan kaki, tapi gadis yang dicarinya tidak ada. Ditambah lagi kelas mereka berpisah.
Ya terpaksa Ana berjalan sendirian pulang, keringat membasahi baju yang ia kenaikan, wajah juga terkena dengan keringat. Tidak angin yang memberikan kesejukan pada Ana.
Ana tertegun sesaat saat matanya melihat Rani sendirian berdiri di tempat dimana ia di keroyok oleh genk Rani beberapa hari yang lalu, ia sebenarnya khawatir kalau Rani DNS genknya bakal melakukan sesuatu lagi pada dirinya.
Awalnya Ana mau balik lagi ke arah sekolah tapi ia takut kalau Rani curiga kalau ia merasa takut ya terpaksa ia bakal meladeni Rani kalau misal gadis itu menyerang dirinya..
"Kamu mau apa lagi, memangnya kamu belum puas ya," kata Ana menghampiri Rani.
"Ya aku belum puas menyakiti kamu, kenapa sih kamu begitu sempurna dibandingkan aku?" tanya Rani.
__ADS_1
Maksudmu?" tanya Ana heran atas apa yang keluar dari mulut Rani.
Rani menghela nafas kasar. Ia memandang wajah Ana, ia melihat wajah Ana basah oleh keringat, Samoa keringatnya menetes ke baju yang dipakainya, ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rani. Gadis itu menarik tangan Ana untuk duduk di sampingnya. Akhirnya mereka duduk dibawah bangunan yang tidak digunakan lagi oleh pemiliknya.*