
Arya masih belum percaya pada apa yang Mawar katakan, sebenarnya dua hari lalu Ana sudah bilang kalau Mawar mengatakan perasaannya pada dirinya. Tapi ia masih belum percaya apa yang Mawar katakan padanya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ada gadis secara diam diam menyatakan perasaannya pada dirinya.
Ia beberapa menghela nafas panjang. Tangan, pipi, kaki, dicubit tapi masih terasa sakit. Ia seperti mimpi saja.
"Ya, terima saja Mawar, sebenarnya dia gadis yang baik tapi mungkin kerena keadaannya lah ia seperti itu," suara Ana terhiang hiang ditelinga ya..
"Jangan sampai kamu menyesal, Ya." Lanjut Ana kembali.
Cowok itu hanya menghela nafas panjang. Dalam hidupnya baru laki ini ada seorang gadis menyatakan cinta pada dirinya, ia akhirnya senyum senyum sendiri. Dan bernajak dari tempat dilududknya.
"Arya!" Mawar memanggil Arya.
Cowok itu yang akan meninggalkan tempat duduknya langsung terdiam dan menatap Mawar yang menghampirinya.
"Ada apa?"
"Kamu mau nggak menerima aku jadi pacarmu?" Tanya Mawar.
"Aku sayang kamu, Ya." Lanjut Mawar..
Mereka tidak tahu kalau Cempaka, Dahlia, Ana dan Rani sedang melihat mereka. Keempat nya melihat ditempat berbeda, kalau Rani dan Ana di pinggir depan lab sedangkan Cempaka dan Dahlia berada di belakang ruangan kreasi.
Ana muncul mendekati mereka berdua..
"Arya terima Mawar, dia gadis yang baik kok!"
"Ana!" Bisik Mawar.
Ana hanya tersenyum."Kamu lantas kok memiliki Mawar," ucap Ana sambil.mwraih tangan Mawar dsn Arya. Kedua tangan itu disatukan oleh Ana, keduanya hanya diam saling memandang satu sama lain, setelah menyatukan kedua tangan mereka Ana mundur dengan teratur.
Tidak lama kemudian Cempaka, Dahlia dan Rani muncul bersamaan. Mawar tersipu malu melihat ketiga gadis yang melihat nya, awalnya ia ingin melepaskan genggaman tangan Arya tapi cowok itu malah menggenggam erat.
🐝
Semua kenangan yang indah dan yang buruk menyatu dalam perjalanan yang penuh dengan kegembiraan yang bakala terpatri indah begitu juga perjalanan anak SMU yang mulai mengenal sebuah arti cinta.
___
Ana bersorak gembira, ya biarpun ia bukan salah satu dari juara kelas, tapi ia inigembira sekali kerena bisa naik ke kelas 3 SMU. Tapi ia mulai garuk kepala, harus memilih jurusan. Ada dua jurusan waktu itu yaitu IPA dan IPS, ya sudah Ana masuk ke IPS ssaja biar tidak menemukan rumus rumus matematika, tapi biarpun tidak menemukan rumus matematika ia juga harus berhadapan dua mata pelajaran yang bikin tidak ****. Akuntasi dan ekonomi.
Dan yang paling membahagiakan dirinya wali kelasnya bukan ibu Ratih tapi ibu Elis. Sebenarnya kalau tahun tahun yang lalu kalau kelas 3 IPS itu wali kelas nya ibu Ratih kerena ia mengajar 9 jam pelajaran di kelas 3 IPS, dari Senin sampe Sabtu full pelajaran ekonomi dan akuntansi.
Ya biarpun begitu Ana masih bisa ketemu ibu Elis di perpustakaan dan di kelas, pelajaran ibu Elis juga banyak sekali di kelas 3 IPS yaitu agama dan sosiologi.
"Wah! Na kalau nanti.kuliah banyak jurusan, ada jurusan bahasa sastra, Kimia, Ekonomi, bahasa Inggris, pertanian, dan masih banyak lagi." Ujar ihah.
"Ribet banget sih kalau kuliah bagi jurusan," Dengus Ana.
Ia menyangka kalau kuliah nanti kaya SMU pelajarannya tidak tahunya malah ribet. ( Tapi kalau di pikir lebih baik kuliah sih satu jurusan tapi lebih mengutamakan pelajaran yang di ikuti. Contoh kita ambil jurusan DII perpustakaan jadi lebih banyak ilmu perpustakaan dibandingkan ilmu.lain yang dipelajari ).
__ADS_1
Tapi pas kelas 3, malah pikirannya kuliah habis kalau nonton sinetron lebih fokusnya anak kuliahan kalau anak kuliahan enak tidak belajar. Tapi kenyataan nya tidak sama sekali😂😂.
Ana dan Rani seperti biasanya di ruangan kreasi apalagi mereka sekarang berang di kelas 3, hanya beda tempat duduk, sedangkan Cempaka dan Dahlia satu kelas 3 IPA, Mawar kelas 3 IPS sedangkan Arya IPA.
Pagi itu!
Ana masih anteng di perpustakaan sedang melihat ibu Elis di perpustakaan, wanita itu dengan telaten menyampul buku mengunakan sampul plastik yang bening.
"Kegunaannya untuk menjaga buku dari debu," kata ibu Elis menjelaskan.
"Harus semuanya disampul?" Tanya Ana.
"Iya,"
Ana hanya mengangguk angguk kembali tapi ia masih belum.mwgerti angka angka yang ditulis ibu Elis, apalagi kertas kertas yang dikumpulkan oleh wanita itu.
Perpustakaan
SMUN 1 PANIMBANG
813.8
HAM
T
Itu yang dilihat oleh gadis 17 tahun itu. Ia pusing blank. Bukan itu saja yang dikerjakan oleh ibu Elis, ibu Elis juga menulis di kertas yang berbentuk sticker yaitu;
Perpustakaan
510
GUN
M
Dalam hati gadis berkacamata itu bertanya tanya, banyak pertanyaan yang benar benar masih di benak gadis itu.
( Pertanyaan pertanyaan yang dulu saya tanyakan dalam hati sekarang terjawab sudah, ibu Elis menulis desimal dewey cllasifcation untuk perpustakan sekolah, Alhamdulillah saya juga mengunakan sistem itu tapi yang revisinya.
Kalau ibu Elis
Contoh ddc ibu Elis dan saya sendiri ada perbedaan tapi tetap sama untuk kesustraan.
Perpustakaan
SMUN 1 PANIMBANG
813.8
__ADS_1
HAM
T
Kalau saya sendiri menggunakan revisi decimal dewey cllasifcation ya😊.
Perpustakaan
SMUN 1 Panimbang
899.221.3
HAM
T
Kalau dulu aku bertanya tanya masalah nomor ddc, tapi sekarang saya bertanya ibu Elis tahu darimana coba nomor klasifikasi perpustakaan? Sedangkan pada tahun 2001-2002 saya masih sekolah?
Dan sekarang buat nomor kalasifikasi perpustakaan mengunakan kalasifikasi 899.221.3 kerena setelah di revisi tapi yang belum revisi DDCnya 813.8 ).
"Na!" Bisik Rani menghampiri Ana yang ada di perpustakaan. Gadis itu melirik dan menatap Rani.
Rani tidak bicara ia langsung menarik tangan Ana dengan cepat menjauhi ibu Elis. Wanita itu hanya menatap anak muridnya dengan tajam.
"Kamu kaya nya serius melihat ibu Elis yang sedang beresin buku?" Tanya Rani menatap heran.
Ya dari kelas 2 ia sering banget melihat Ana sedang memperhatikan ibu Elis yang sedang mengerjakan sesuatu di perpustakaan, Ana hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Aku suka pekerjaan yang ibu Elis kerjaan, apalagi di keperpustakaan begitu nyaman."
Rani hanya diam saat mendengarkan Ana menceritakan kaku ia begitu nyaman di perpustakaan, ya tidak nyamanny bagaiamana. Perpustakaan jarang ada pengunjungnya ia sendiri atau orang orang yang rajin baca buku lah yang suka datang ke perpustakaan. Ditambah lagi orang orangnya tidak pernah usil sama orang yang suka baca.
Rani hanya mengangguk anggukan kepala saja kerna apa yang diceritakan Ana memang benar, bukan hanya Ana saja sih sebenarnya tapi banyak orang yang suka pada keheningan entah namanya.
"Memangnya ibu Elis lagi ngapain?" Tanya Rani penasaran.
"Itu menempelkan sticker di pungung buku, ditambah lagi sticker itu dikasih nomor nomor yang berbeda, anehkan?" Jawab Ana masih heran.
"Nomor apa maksudnya?"
"Entahlah, aku juga nggak ngerti?"
"Kamu nggak tanya Na?"
"Nggak lah malu," senyum Ana.
Rani langsung menjitak kepala Anandengan keras, ia menyangka kalau Ana menanyakan setiap Ana melihat ibu Elis yang sedang mengerjakan sesuatu tidak tahunya tidak tahu sama sekali.
"Kapan kapan saja bertanya ya," gumam Ana.
__ADS_1
( Tidak tahunya orang yang suka keheningan adalah orang introvert. Orang introvert lebih adem, nyaman di dalam dunia sendiri berbeda dengan orang ekstrovert ).