Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 111


__ADS_3

Ana hanya termenung di ruangan perpustakaan, bayangan kejadian kemarin membayang dengan sempurna di pelupuk matanya. Gadis berkacamata itu tidak bisa membayangkan kalau sampai ia kenapa kenapa di ruangan kreasi, apalagi kemarin Ria berhasil merobek baju yang ia gunakan sampai bajunya robek sangat besar sekali.


Ia mengusut cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya yang tiba tiba mengalir begitu saja, ya Ana tidak menyangka bakal punya kehidupan seperti ini.


"Na, panggil Rani mendekati Ana yang diam saja.


Ana hanya tersenyum samar. Saat Rani menghampiri dirinya, tiba tiba Rani memeluk tubuh Ana dengan erat sekali, Ana pun membalas pelukan Rani dengan erat.


"Kamu bakal melewati semuanya Na," ujar Rani sambil melepaskan pelukannya.


Ya Rani tadi mendengar cerita yang disampaikan oleh Cempaka pada dirinya tentang kejadian kemarin yang menimpah nya. Rani yang mendengar langsung terkejut sekali, dsn ia langsung mencari Ana di ruangan kreasi tapi di ruangan itu hanya ada kelas 2 saja, ditanyakan sama kelas 2 sang adik kelas hanya mengelangkan kepala. Rani mencari ke kantin tapi gadia berkacamata itu tidak ada, akhirnya ia mencari ke perpustakaan.


Rani melihat Ana sedang diam saja pandangannya kosong sepertinya ada pikiran yang menganggu dirinya, sebenarnya ia ragu mendekati Ana tapi hatinya merasa iba pada Ana akhirnya ia mendekati Ana dsn menegur gadis berkacamata itu.


"Aku harus bagaimana?" tanya Ana.


"Intinya kamu yang sabar saja, sesuatu saat nanti kamu menemukan jalan yang lurus." nasehat Rani.


"Sampai kapan?"


Rani menepuk bahu Ana lembut. "Kejadiannya gimana sih sampai kamu terkunci sama Ria?" tanya Rani menatap Ana.


Tanpa menunggu waktu lagi Ana menceritakan kejadian kemarin sampai selesai, Rani hanya mwndengrakan saja apa yang diceritakan oleh Ana sampai gadis itu menhan nafas supaya bisa mendengarkan secara rincinya.


Rani tidak menyangka kalau Ana bakal mengalami itu, beberapa kali Rani mengelus tangan Ana.


"Menurut aku sih itu sudah keterlaluan kerena telah membuat tidak nyaman para gadis," kata Rani setelah Ana menyelesaikan ceritanya..


"Aku betah sekolah, tapi aku juga takut ketemu Ria," jawab Ana jujur.


Bel pergantian jam pelajaran berdering dengan nyaringnya membubarkan siswa dan siswi yang sedang merumput di kantin, perpustakaan maupun di tempat tempat lainnya. Begitu juga dengan Ana dsn Rani keduanya langsung menuju kelas keren ada mapel akuntansi dan gurunya ada.

__ADS_1


šŸ


PLAK


Ria berteriak histeris ketika sebuah tangan langsung mendarat di pipinya. Ia meringis kesakitan kerena pipinya terasa sakit dan panas, saat melihat siapa orangnya yang berdiri ia terkejut sekali kerena Arya yang melakukannya.


Ria menatap tidak mengerti lada Arya yang tanpa hujan dan angin malah membuat cap stempel tangannya.


"Cinta yang tidakĀ  seharusnya diungkapkan, ya begini lah," sindir Arya menatap Ria.Ā 


Mata Ria terbelalak dengan kagetnya kata kata itu! kata kata yang keenam diucapkan oleh Mawar kemarin pagi dihari Minggu ia masih ingat kata kata itu!


"Arya kamu kenapa sih!" sembur Riantidak suka.


"Kamu yang kenapa? main sisir sama Ana, emang nggak ada cowok yang mau ya sama kamu!" hardik Arya.


Arya kaget saat mendengar dari Mawar kejadian Ana waktu kemarin pagi di ruang kreasi. Awalnya Arya tidak percaya apa yang di dengarnya, tapi Cempaka dan Dahlia yang memberitahukan semuanya kejadian Ana dan Ria sampai baju Ana robek. Mata Arya terbelalak mendengar cerita Cempaka dsn Dahlia dsn di iya kan oleh Mawar.


"Kalian hanya main keroyokan bisanya juga!" Sembur Ria tidak suka.Ā 


"Keroyokan mau nggak itu urusan kami, kamu juga hanya bilang cinta pada cewek nggak pada tempatnya. Coba kalau berani bilang cinta pada cowok bukan lada Ana." Tantang Arya menatap Ria.Ā 


"Jangan ikut campur urusan aku, kamu hanya ikut campur saja!" ketus Riantidak suka.


Langsung meninggalakan kantin, tapi Arya dengan kasar meraih tangan Ria supaya gadis itu tidak pergi. Untung kantin sepi keenam belum ada siswa yang di luar. Mungkin hanya beberapa saja yang di luar yang kelasnya kosong tidak ada gurunya.


"Lepaskan!' teriak Ria menepiskan tangan nya dari tangan Arya tapi cowok itu malah menganggam nya dengan erat sekali.


"Aku nggak kan melepaskan kamu, sebelum kamu minta maaf pada Ana." tekan Arya.


"Buat apa?"

__ADS_1


"Oh, jadi kamu ingin semua tahu kelakukan bejat kamu!" Teriak Arya keras.


"Arya ngapain sih kamu ladeni gadis jadi jadian kaya dia!" teriak Cempaka yang tiba tiba datang ke kantin bersama Dahlia.


Keduanya menatap wajah Cempaka dan Dahlia yang tiba tiba datang ke kantin, Arya masih menganggam tangan Ria, gadis itu berusaha melepaskan tangannya dari Arya tapi genggaman tangan Arya sangat kuat sekali.


"Ya percuma ngomong sama dia, dia nggak bakal berubah. dasar gadis jadi jadian!" sembur Dahlia mengulang kata kata dari Cempaka.


"Kalian yang jadi jadian!"


Hahahaha


Tawa kedua gadis itu melengking, mendengar kata kata yang keluar dari mulut Ria. Gadis itu benar benar marah mendengar ala yang diucapkan oleh Cempaka dsn Dahlia, kalau saja tidak ada Arya masih memegang tanyanya, Ria pasti bakal menghajar kedua gadis itu. Apalagi sejak kemarin kedua teman itu selalu menyindir dengan kata kata membuat ia emosi dan menampar pipinya.


Kemarin juga kalau tidak ada Ana dan Mawar yang menghalanginya mungkin ia sudah melempiaskan kemarahannya pada kedua gadis itu. Dan sekarang juga kedua gadis itu menyindir saja, ia berusaha untuk melepaskan genggaman tangan nya dari Arya tapi cowok itu malah mempererat pegangannya membuat dirinya tidak bisa melakukan balas dendam.


Ria ingin sekali menampar kedua mulut itu tapi dia sia saja kerena ia hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan apa apa.


"Kalian jangan bergerak! Diam ditempat!" teriak Ria marah.


"Lepaskan! Biar ku hajar mulut lancangnya!" teriak Ria berontak.


Tapi Arya sepertinya tidak mau melepaskan tanganya dari tangan Ria biarpun gadis itu berontak pun.


"Cemen cuma berani pada cewek!" ujar Cempaka mengejek.


Begitu juga dengan Dahlia. kedua gadis itu tertawa tawa melihat Ria berteriak teriak memohon supaya dilepaskan oleh Arya.


"Biar kapok!"


"Gimana nikmat ya tubuh seorang gadis," ejek Dahlia mencipir kan bibirnya mengidap Ria.*

__ADS_1


__ADS_2