Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 73


__ADS_3

Titis yang akan ke perpustakaan melihat Ana di depan perpustakaan sedang duduk di bawah pohon dekat pojokan. Gadi itu akhirnya mengurungkan niatnya masuk ke perpustakaan kerena melihat An yang duduk sendirian, pandangannya kosong menatap kearah depan dengan tubuh menyandarkan ke sebatang pohon yang rindang.


Sebenarnya ia ingin mengantarkan buku yang kemarin dipinjamnya, kerena sudah selesai maka ia mengembalikan kembali ke perpustakaan. Tapi waktu hendak ke perpustakaan, matanya menatap kearah Ana, akhirnya ia mendekati Ana yang tidak menyadari kedatangan Titis.


"Kenapa Na, apa yang kamu pikirkan?" tanya Titis. 


Titis mengatakan itu secara lembut ke telinga Ana, Ana langsung kaget kerena dihadapannya ada Titis yang tersenyum manis kearah dirinya.


"Ada apa?" tanya Titis ia akhirnya duduk disamping Ana.


Akhirnya ia memutuskan untuk menemani Ana di bawah pohon yang rindang depan perpustakaan.


"Tis, aku heran sama Rani," ungkap Ana. 


Ana langsung menceritakan tentang Rani pada Titis. Titis langsung diam seketika juga kerena Ana sedang menceritakan tentang Rani lada titis, keheranan Ana diungkapkan oleh dirinya pada Titis yang sih anteng mendengarkan cerita Ana.


"Dia katanya suka menulis tapi kalau aku menulis kayanya di nggak suka kenapa ya?" 


"Dia suka menulis, kamu tahu dari mana?" Titis balik nanya.


Titis bukannya memberikan solusi lada Ana malah ia menanyakan tentang Rani kalau Rani suka menulis, diwajah Titis ada keheranan terlihat jelas oleh Ana. Tapi Ana hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Dia sendiri yang ngasih tahu Ana," kata Ana menjelaskan. 


Titis langsung diam mendengar kan kata kata Ana tentang Rani. 


"Kalau memang dia suka menulis seharusnya kan dia menghargai karya orang lain," 


Titis mengangguk apa yang dikatakan oleh Ana apalagi kalau benar Rani memang suka menulis seharusnya ia pertama kali yang mendukung dan memotivasi An bukan orang lain. Titis mengangguk angguk kan kepala mengerti penjualan Ana. 

__ADS_1


"Mungkin ada sesuatu yang kamu belum ketahui Na. Jangan mudah percaya sama orang," akhirnya Titis mengatakan itu pada Ana..


Titis mengatakan itu pada Ana supaya Ana tidak mudah percaya pada orang lain, apalagi Rani telah mengatakan kalau ia suka menulis tapi kenyataannya malah Rani sendiri lah yang membuat keributan dengan Ana..


Ana hanya mengangguk setuju. Dan keanehan itu ia sampaikan pada Titis, gadis itu hanya bisa diam saja mendengarkan apa yang Ana ucapakan. 


"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kamu lanjut bikin cerpen nya." kata Titis tersenyum. 


Ana mengangguk. Tapi biarpun Titis mengatakan itu lada Ana tapi gadis itu masih merasa heran atas tingkah laku Rani yang sebenarnya. Apalagi melihat Mawar, Cempaka dan Dahlia, masa selam mereka satu tahun mengenal Rani mereka tidak tahu Rani, aneh kan.


Sedangkan Yuyuk, Titis, Ihah yang biasa saja sama Ana malah telah mengenal Ana kalau gadis berkacamata itu suka menulis dsn membaca. Malah ketiga temannya itu mendukung dsn memotivasi dirinya.


Ana hanya menghela nafas panjang, sedangkan Titis sudah lama pergi menuju kelas. Ana tidak habis pikir pada tingkah laku Rani seperti itu lada dirinya, pikiran demi pikiran menganggu dirinya.


"Intinya Rani cuma bicara doang hanya cari perhatian kamu," kata Yayuk waktu itu masih terdengar jelas sekali.


Ya Ana waktu istirahat kemarin ia menceritakan pengalaman dirinya waktu Rani bicara tentang Rani. Yayuk hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ana.


"Aku heran saja kenapa bisa dia bicara itu padaku?" tanya Ana.


"Selidiki apa sih maunya dia pada kamu Na, aku nyakin ada yang ingin dia lakukan pada kamu hanya ingin melihat kamu percaya dsn menjatuhkan kamu."


Yayuk mengingatkan Ana. Kerena apa yang terjadi pada Rani benar benar tidak normal ya tidak normalnya kalau memang ia suka menulis kenapa harus membuat cerpen cerpen Ana rusak olehnya? Kalau dipikir lagi aneh juga sih sebenarnya.


Ana langsung beranjak dari tempat duduknya langsung menuju kelas. Apalagi kelas bagian ibu Ratih masih belum sekolah ini Ratih.


( Saya akan tahu kenapa Rani melakukan itu pada saya. Kerena sebenarnya Rani iri sama saya kerena nama saya waktu itu saya viral di SMU. Sebenarnya Rani lebih pintar dari saya, ia telah mengirim ke majalah Aneka Yess! majalah remaja trend masa itu.


Dan dia juga pernah menyabet juara pertama penulisan cerpen. Ya seharunya saya yang iri pada Rani, bukan Rani pada saya. Hanya kerena nama ia tidak pernah tersebut di sekolah sebagai penulis

__ADS_1


Ya sejak kelas 1 SMU ia telah mengirim cerpen ke majalah dan mendapatkan uang saku dari hasil menulis sampai lulus ia berusaha sekuat tenaga untuk mengirimkan ke majalah sedangkan saya waktu itu? ).


🐝


Sejak subuh hujan mulai turun dengan derasnya, Ana yang sudah berpakaian rapi hanya mematung saja, hujan yang turun sejak malam dini hari membuat ia masih berada di rumahnya menunggu hujan reda. Hujan bukannya reda malah semakin deras saja, Ana hanya menghela nafas kasar kerena hati ini seharusnya masuk sekolah kerena hujan ia menunda berangkatnya ke sekolah. 


"Na, pakai mantel saja!" seru ibu dari dapur. 


"Terus bapak berangkatnya bagaiamana, mantelnya ada satu," ujar Ana. 


"Nggak apa apa, bapak pakai plastik saja, kamu berangkat saja ke sekolah." kata pak Mamat mengizinkan Ana mengunakan mantel.


Ana pergi ke sekolah ditemani hujan rintik rintik ke sekolah. Pagi itu sang mentari pun enggan untuk menampakkan wajahnya ke bumi.


BUG


Tiba tiba sebuah kayu menghantam tubuh Ana dari belakang, gadis itu yang tidak menduga ada yang memukul tidak bisa mengimbangi tubuhnya, akhirnya sepeda yang ditumpangi Ana tidak bisa seimbang dan BUG


Tubuh Ana dan sepeda nya jatuh ke pinggir jalan.


Hahaha


Tawa keempat gadis itu renyah. Ana langsung bangkit biarpun tubuhnya terasa sakit apalagi pungungnya yang telah dipukul oleh Mawar. Ya kelompok mawar lah yang mencegah Ana di tempat dimana Ana di keroyok oleh mereka.


Dalam keadaan tubuh sakit Ana melihat Mawar, dan genknya tertawa renyah. mereka tidak peduli hari mendung hanya untuk menganggu Ana.


"Kalian, kenapa kalian sellau ganggu Ana terus!" teriak gadis berkacamata itu dengan nada kecewa.


Ya kecewanya ia tidak berangkat sekolah, apalagi bajunya sudah basah masuk parit dan sekarang dihadang oleh mereka. Sedangkan mereka hanya mengunakan baju kaos dan celana bahan pendek.

__ADS_1


"Aku nggak mau kamu jadi sainganku, hentikan apanyang kamu lakukan kalau nggak urusan denganku."


Rani mengatakan perkataan itu lada Ana. Gadis berkacamata itu menatap langsung wajah Rani, tapi Ana tidak peduli dengan kata kata Rani. Ia tidak mau berurusan dengan Rani, tanpa pikir panjang lagi Ana membangunkan sepeda dsn pergi pulang kembali ke rumahnya.*


__ADS_2