
Setelah kenyang menangis akhirnya ia pulang ke rumahnya. Tapi pikiran kotor itu masih ada di hatinya, tiba tiba ia berpikir mau menjerat Anton supaya tidur bareng dan nantinya ia minta imbalan yang layak dari sebuah kesucian yang ia gadaikan..
'Jangan Na, rugi di kamu untung di Anton. Kalau kamu hamil bagaiamana?' kata hatinya yang paling kecil.
'Cari uang halal juga susah lebih baik cari uang haram saja, Na. Lebih baik serahkan ke perlawanan kamu hanya untuk cita cita, kalau tudks sekarang kapan lagi?' kata hati Ana yang lain.
Pertentangan antara mendapatkan uang halal dan haram terus berkecil dalam hati Ana. Ada juga pikiran untuk mencuri uang hanya untuk biaya ke Serang. Tapi kerena Ana sejak kecil tidak pernah bisa mencuri akhirnya ia tidak melakukan mencuri uang.
"Trus aku bagaiamana?" Bisik nya.
Ana akhirnya duduk di gardu depan rumah dengan pandangan kosong. Kehidupan desa yang sepi yang membuat Ana berontak. Gadis itu menyenderkan badannya ke tiang yang ada, matanya terpejam seketika memikirkan nasib dan kehidupan dirinya sendiri.
Bisa ia nekad pergi juga tapi ongkos mobil? Bisa minta ke Anton tapi ia merasa malu untuk.inta biarpun Anton berjanji memberikan Ana uang juga. Mungkin tidak seberapa sih yang dikasih Anton untuknya.
Beberapa kali ia menarik nafas kasar. Kenapa tidak dari dulu ia punya uang sendiri ya Allah, pertanyaan yang selalu ditanyakan pada dirinya. Ya sejak kedatangan Anton ke rumahnya sejak itu pula ia tidak pernah mengutus pertanian di pekarangan rumahnya sampai tanamannya tidak keurus sama sekali.
Sejak Anton datang. Ana tidak pernah menanam tanaman kembali, ia lebih baik menyalurkan kegemarannya menulis dibandingkan bertani. Ada penyesalan dalam hatinya saat ia harus berhenti menjadi seorang petani kerena tidak ada pemasukan ke kantongnya.
Ada perasan kecewa sih saat ia tidak memengang ua sama sekali, ia merasakan hidupnya sangat tidak berguna. Cita cita yang tulis menurutnya harus hancur saat itu juga, ya tidak ada kesempatan sama sekali untuk berkembang.
Pikiran gadis itu dibutakan kalau uang adalah segalanya dan bisa menyelesaikan masalahnya ganda di kehidupannya. Ana sebenarnya lelah sekali untuk menggapai semuanya, kerena ia tidak bisa menggapai nya.
Ada helaan kecil di bibirnya. Banyangan nya tentang lomba Tralis memenuhi hatinya, keseruan itu ia banyangkan apalagi tawa canda mereka yang akan membuat hatinya gembira tapi Mimi itu harus gagal kembali.
Kemarin Rumah Dunia, FLP Pamulang sekarang tralis. Haruh! semuanya gagal untuk dijalani olehnya.
"Na," panggil Anton menghampiri gadis itu..
Ana hanya diam saja, ia hanya melirik ke arah Anton. Cowok beda usia 4 tahun itu duduk tidak jauh dari Ana.
__ADS_1
"Kenapa?" lanjut Anton menanyakan keadaan Ana.
"Bapak nggak mengizinkan Ana untuk pergi ke Serang untuk ikut lomba Tralis." tangkap Ana perih.
"Nggak apa apa Na. Mungkin bukan yang terbaik buat Ana." Nasehat Anton menghibur Ana.
"Kata Ana juga jangan Istikhoroh!" sembur gadis itu marah.
Ya gara gara ia harus Istikhoroh jadi semuanya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan oleh Ana sendiri. Itu yang dipikirkan oleh An saat itu, ya ia sangat kecewa pada Anton yang menyuruh sholat Sunnah itu.
"Tetap Istikhoroh Ana, insha Allah ada petunjuk dari Allah. Atau Ana bisa sholat tahajud sekalian, puasa juga." kata kata itu meluncur begitu saja dari mulut Anton.
"Malas!" sembur Ana langsung pergi begitu saja dari hadapan Anton.
Gadis itu langsung meninggalakan anton yang masih duduk di gardu. Melihat Ana seperti itu ia hanya menghela nafas. Ya Anton melihat sisi rapuhnya Ana, ia juga melihat gadis itu menangis. Ada helaan nafas di bibir Anton, perasaan iba melihat Ana merajuk Sepri itu.
Ana langsung pergi ke dalam kamar, sedangkan orang tuanya sejak Ana meninggalakan ruangan tamu tadi langsung pergi begitu saja.
Terdengar suara ketukan pintu di kamar Ana, gadis itu dengan malasnya langsung beranjak dari tempat tidurnya. Awalnya ia enggan membukakan pintu kamarnya, tapi ketukan pintu tetap berbunyi, akhirnya ia langsung membuka pintu. Terlihat Anton yang mengetuk pintu kamar, ia mengajak Ana untuk bicara.
Ana dengan malasnya mengikuti Anton ke ruang tamu.
"Na, lebih baik masuk FLP Depok saja, yang yang jadi ketuanya mbak Helvi Tiana Rosa, Ana mau kan ikut FLP ya nggak apa apa nggak ikut lomba Tralis juga asal ikut FLP Depok." ujar Anton menyerahkan brosur tentang FLP Depok.
Tibantiba ingatan Ana waktu di Pandeglang ia pernah menemukan brosur tentang FLP Depok. Tapi ia langsung menepiskan keinginan nya masuk FLP Depok.
"Nggak usah ikut, ibu cuma takut kalau disana Ana liar!" suara ibu Tri terdengar lantang.
Wanita itu langsung menghampiri ana dan Anton. Wajah ibu Tri tidak setuju dengan keputusan Anton untuk mengirim Ana ke FLP Depok.
__ADS_1
"Bu, Anton percaya kalau misal Ana berada di FLP Depok Ana nggak mungkin liar, dan bisa dapat ilmu juga," terang Anton menyakinkan pada ibunya Ana.
"Nggak! Ana nggak usah pergi keman mana?" teriak Ibu Tri geram sekali.
Ya ia sama sekali tidak setuju kalau putrinya pergi jauh darinya. Ana yang mendengarkan hanya diam saja, hatinya semakin teriris mendengar apa yang ibunya katakan..
"Kalau Ana ingin pergi, harus punya uang sendiri." sembur ibunya sambil pergi meninggalkan Ana dan Anton..
Wanita itu percaya kalau Ana tidak akan pergi apalagi ia tahu kalau Ana tidak punya uang sepersen pun. Jadi dugaan ibu Tri Ana tudks akan berangkat tanpa uang sepersen pun juga.
Melihat ibunya bicara itu hati Ana semakin sakit sekali, memang uang segalanya tanpa uang semuanya hancur. Anton yang melihat Ana.mwrasa iba sekali, apalagi ia juga mendengar kata kata ibu An sendiri. Ia menghela nafas kasar sekali, ada kesal dalam hatinya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa apa.
"Na, percaya ya sama kakak. Hanya Ana yang bisa lakukan ini, Ana tetap sholat Istikhoroh, tahajjud dan hajat." Anton mengatakan itu beberapa kali dihadapan Ana..
"Kak emang nggak bosen ya menyuruh Ana buat sholat?" tanya Ana heran.
"Nggak kakak nggak bosen kok malah senang kalau menyuruh Ana sholat."
"Tapi kalau hasilnya tidak sesuai?" tanya Ana.
"Kembalikan pada Allah, pasrahkan semuanya Ana."
Ana hanya menghela nafas panjang mendengarkan apa yang Anton ungkapkan dihadapannya.
"Kenapa sih! selalu itu yang kakak ucapakan," protes Ana..
Gadis itu benar benar cape sekali untuk mengulang kembali apalagi sholat Istikhoroh apalagi ditambah sahabat tahajud maupun Hajat..
"Na, kalau Ana punya hajat lebih baik sholat hajat 2 rakaat, insha Allah terkabul."
__ADS_1
Anton berusaha untuk Ana supaya tetap menjalankan sholat sunah, sedangkan gadis itu ia sebenarnya sudah diambang batas kesabaran kerena apa yang selalu Ana ingin kan sekali gagal.*