Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 88


__ADS_3

Sejak malam hari, hujan telah turun dengan deras sekali, angin tertiup dengan lebatnya membuat suara bergemuruh. Untung tidak ada halilintar dan geledek yang menyertainya kalau kalau ada pasti membuat geri saja. Kini malam yang sepi berganti dengan pagi hari yang benar benar dingin. Apalagi hujan belum juga reda, membuat Ana yang di kamar anteng dengan memeluk dan selimbut tebalnya.


Kalau di musim kemarau ia sama sekali tidak mengunakan selimbut untuk menutupi tubuhnya, ia sama sekali tidak betah untuk mengunakan selimbut. Tapi untuk musim hujan seperti ini, ia lebih hangat mengunakan selimbut atau jaket.


"Na, bangun!" Teriak ibunya dibalik pintu membangunkan Ana.


Tadi memang ia bangun jam 05.00 pas adzan subuh berkumandang dengan merdunya, tapi setelah itu ia malah tidur lagi tidak melakukan aktifitasnya. Kalau tidak hujan seperti ini, mungkin ia telah menghabiskan satu gelas teh manis dan goreng pisang tapi sekarang ia malas untuk bangun.


"Dingin, Bu!" Teriak Ana males.


"Sholat subuh!"


Glek! Ana hanya menelan ludahnya mendengar apa yang ibunya katakan, jujur ia paling malas untuk sholat apalagi sholat subuh, kalau tidak sholat pasti ibunya marah marah dan bisa bisa diadukan sama bapak. Dengan malasnya Ana langsung bangkit dan mengambil wudhu.


"Kalau orang yang malas itu temannya setan," kata ibunya sambil menatap Ana yang sudah mengambil air wudhu.


Mendengar ibunya mengatakan itu hanya menyengir saja. Setelah sholat, akhirnya ia membuat teh manis dan ada cemilan pisang goreng ya sudah ia makan buat mengganjal perut yang punya isi.


Pagi udaranya sangat dingin sekali, langit terlihat gelap, hujan mulai turun dengan derasnya. Menghalangi mentari, awan seperti sengaja membuat mentari terselimbuti dalam hangatnya awan. Jadi Wajar kalau mentari malas untuk keluar menyapa bumi dengan senyumannya.


Burung burung yang seharusnya menyambut mentari pun seperti malas untuk bernyanyi riang. Burung Pun akhirnya masih mendekam di sarangnya yang hangat.


"Pak, Ana berangkat!" Teriak Ana pada bapaknya.


Ya Ana hari itu berangkat sekolah kerena kalau menunggu hujan pasti tidak bakal reda, ia langsung menerobos derasnya hujan di lagi hari.


"Hati hati di jalan ya, atau Ana tunggu reda hujannya." Ujar bapak mendekati Ana.

__ADS_1


Laki laki itu hanya mengelangkan kepala melihat Ana kekeh mau berangkat ke sekolah tanpa melihat cuaca yang tidak bersahabat.


"Nggak, takut kesiangan." Tolak Ana.


Ya apa yang dikatakan olehnya benar sekali, Ana melihat jam telah menunjukan pukul 07.00, kerena tidak langsung berangkat, menunggu hujan reda, tapi nyatanya tidak reda saja.


"Ya udah kalau begitu hati hati ya, bapak dan ibu juga berangkat," ucap bapaknya sambil memberikan tangannya untuk dicium.


Setelah mencium tangan pak Mamat, Ana langsung menaiki sepedanya, dengan semangat 45 ia berangkat dengan hati hati, ia mengunakan matel hujan. Angin dan hujan begitu deras nya tapi tidak menghalangi langkah Ana untuk belajar di SMU. Semangat Ana benar benar diajungi jempol oleh kedua orang tuanya, kerena hujan maupun tidak hujan tetap berangkat.


( Kalau sekarang hujan dikit juga malas buat ke sekolah, malah kalau tidak hujan pengen hujan deras biar tidak ke sekolah😂😂😂sekarang males berangkat ke sekolah 🤭🤭 ).


Sampai di sekolah Ana langsung membuka mantel dan mengantungkan di ruang kreasi, masalahnya ruangan kreasi sekarang aman. Jadi Ana tidak takut untuk menyimpan jas hujan.


Jam pertama, kelas 2A kosong, Ana yang standbay di ruangan itu, ya sekarang pelajaran pak Roni tapi pak Roni tidak masuk kabar burung ibunya sakit, otomatis kelas 2A kosong dan tidak ada siswa yang dikasih pelajarannya.


'Aneh kok nomor nomornya beda sih!' bisik hati Ana sambil memengang sticker dengan kode 300.


'Ah pusing juga sih jadi ibu Elis harus ngotak ngatik nomor kaya gituan,' Dengus Ana dalam hati.


( Dulu pusing nggak ada kerjaan tapi sekarang malah nyaman banget mengerjakan pengolahan bahan pustaka ).


Sebenarnya Ana sering sekali memperhatikan ibu Elis, menatap ibu Elis seperti kenyamanan tersendiri. Apalagi kalau ibu Elis telah megutak ngatik nomor yang ditempelkan ke pungung buku. Tangan wanita itu lincah sekali menulis angka angka yang ditulis olehnya tanpa takut salah.


Waktu istirahat tiba, Ana dengan anteng masih membaca beberapa cerpen yang ada di sana, membaca cerpen cerpen tulisan tangan teman seperti membaca cerpen penulis profesional saja. Tanpa di dasari olehnya, tiba tiba Cempaka menghampiri Ana. Saat Cempaka menghampirinya ia hanya melonggo saja apalagi saat tangan gadis itu memberikan tumpukan cerpan. Ya Cempaka memberikan beberapa cerpen yang katanya ditulis oleh dirinya. Ana menghela nafas, ia mengangguk angguk dan hanya diam saja kerena memang tidak tahu siapa yang menulis, tapi tetap menerima apa yang diberikan oleh Cempaka.


Di kejauhan Mawar hanya tersenyum melihat Cempaka dengan sukses telah memberikan beberapa cerpen pada Ana tanpa Ana tahu yang sebenarnya.

__ADS_1


Setelah memberikan beberapa cerpen Cempaka langsung menghampiri Mawar. Ia dan Cempaka saling toss dan tersenyum manis, Dahlia yang tidak tahu apa apa hanya menggelengkan kepalanya saja. Bukan hanya merasa heran pada kedua temannya, tapi seperti ada yang disembunyikan oleh keduanya.


"Kalian melakukan apa sih senyam senyum?" Tanya Dahlia.


"Tenang sebentar lagi semuanya bakal terungkap." Bisik Mawar pada Dahlia.


Gadis itu mengerutkan wajahnya merasa heran atas jawaban yang diberikan Mawar padanya. Tapi ia tidak bertanya kembali kerena bel masuk telah berbunyi dengan nyaringnya memberitahukan kalau semua siswa hari itu harus belajar tanpa kecuali.


Sedangkan Ana dan Rani yang berada di ruangan kreasi masih asyik melihat dan membaca beberapa karya yang telah terkumpulkan, tapi tiba tiba Rani mengkerutkan wajahnya heran, kerena cerpen yang ia baca banyak sekali halaman yang tidak beraturan sama sekali.


"Na, ini siapa yang melakukan ini?" Tanya Tanya Rani kaget melihat beberapa kertas yang ada di sudut meja terlihat tidak semestinya.


Ana langsung menghampiri Rani yang memeriksa cerpen cerpen yang lainnya, Ana shock seektika juga, berkas cerpan yang diberikan oleh Cempaka dalamnya dipenuhi sobekan kertas yang telah di gunting gunting.


"Itu punya Cempaka!" Seru Ana menatap wajah Rani.


"Cempaka?" Tanya Rani sambil bergumam.


Rani melonggo mendengar kata kata Ana, ia menyebut nama cempaka. Otak Rani berhenti seperti memikirkan kata kata yang Ana lontarkan.


"Memangnya kenapa?" Tanya Ana heran.


"Kamu yang menerima ini?" Akhirnya Rani bertanya kembali.


"Iya memangnya kenapa?" Tanya heran Ana..


"Pasti Mawar yang melakukannya, aku tahu siapa Mawar dan temannya." Kata Rani mendengus.

__ADS_1


Rani menjelaskan kalau sebenarnya Mawar menjebak dirinya dan Ana hanya untuk menyalahkan dengan cara ia membuat cerpen sendiri, tapi Rani tahu itu cerpen bukan karya Cempaka tapi plagiat dari cerpen orang. Ana terduduk lemas mendengarkan apa yang diceritakan oleh Rani.*


__ADS_2