
Adzan subuh membangunkan gadis itu, dengan malas ia bangun dan mandi kerena ia berniat pergi ke Serang sama bapak. Jadi sebelum jam 06.00 sudah bangun dan bersiap siap. Tapi hari itu ia gagal untuk sholat kerena pas mau mandi ia mendapati kalau dirinya mengalami menstruasi. Pantas tadi malam waktu mengerjakan membuat cerpen perutnya terasa kram dan pinggang terasa sakit.
Sebelum pergi ke Serang Ana mempersiapkan cerpennya kembali buat diikutkan lomba Tralis. Plastik yang membungkus cerpen ia masukan dalam tas ranselnya.
Bangun sih pagi, tapi berangkatnya malah siang kerena bapak ada urusan di sekolahnya dulu,🤦. Tapi sebelum berangkat untungnya Anton datang dengan temannya tepat jam 07.00. Melihat Ana yang berbeda dengan hati hati lainnya membuat Anton heran.
"Ana mau kemana? Tumben tapi," tanya Anton.
"Mau ikut lomba Tralis," jawab Ana.
"Ana udah dapat izin dari bapak?"
Gadis itu mengangguk. Wajah Anton terlihat senang sekali mendengar khabar itu, dalam hatinya ia menjadi nyakin kalau Ana berada di tempat itu gadis itu bakal tahu tentang pergaulan yang harus dilakukan dsn yang tidak harus dilakukan.
Anton merogoh sakunya dan memberikan uang itu pada Ana, awalnya gadis itu menolak kerena ia juga punya uang tapi Anton memasukan uang itu ke saku baju Ana. Melihat itu Ana tidak bisa menolak dan membiarkan uang masuk kantong bajunya.
"Makasih kak," ucap Ana tersipu.
Ya seumur hidup baru dua laki laki yang memberikan uang pada Ana, bapak dan Anton.
Akhirnya jam 08.00 Ana dan pak Mamat menuju Serang dengan bus. Diperjalanan pak Mamat dan Ana duduk terpisah, kalau bapaknya duduk di kursi belakang beda satu kursi dengan Ana, sedangkan ia sendiri kursi depan mengunakan tiga kursi. Awalnya duduk sendirian tapi lama lama bisa duduk dengan satu cowok dan cewek, untung ia duduk di dekat jendela dan yang duduk disampingnya cewek, disamping cewek itu cowok yang duduk.
Perjalanan 3 jam membuat Ana tidak nyaman kerena pinggang sakit dan perut kram sekali.
"Ku naon sih haid na kudu ayeuna sih!" bisik Ana kesal.
( Kenapa sih haidnya harus sekarang? ).
Perjalanan 3 jam membuat gadis itu gelisah sekali ingin cepat cepat sampai, ia sudah merasa lelah, tangannya berusaha mengusap perut bagian bawah supaya menghilangkan sakit kram.
08.00 berangkat sampai jam 11.00 di depan kampus IAIN Serang. Langsung masuk kampus, banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang saling berbincang satu sam lainya dengan teman teman.
__ADS_1
"Teh, punten ap.benat kalau di sini ada lomba Tralis?" tanya bapak menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul.
"Tralis?" gadis yang ditanya pak Mamat gelagapan.
Ia Sam sekali tidak tahu masalah tralis, gadis.itu menanyakan pada tan temannya tentang acara tralis. Tapi semuanya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu..
Beberapa orang yang ditanya hanya mengelangkan kepala saja, bapak akhirnya mengajak Ana untuk istirahat dulu. Mereka menuju jalan depan untuk sampai ke Ciceri, di mesjid Ciceri mereka istirahat melepas lelah.
"Telpon kak Anton nya," perintah pak Mamat pada Ana.
📱Assalamualaikum, kak.
Gadis itu sudah terbiasa mengucapakan dalam saat menelpon.
📱Walaikumsalam, ada apa Ana jawab Anton di sebrang sana.
📱Kak, kok acaranya nggak ada sih! tadi nanya nanya tapi banyak mahasiswa yang tidak tahu, terus An dan bapak harus bagaiamana?
📱Masa sih! Acaranya kan jam 13.30 tunggu aja kalau misal hubungi nomor ini, cowok itu menyebutkan nomor yang harus An hubungi. Ana langsung menulis nomor yang diberikan oleh Anton.
📱Ya udah kalau begitu makasih kak, Assalamualaikum. ujar Ana sambil mematikan sambungan hpnya.
"Pak, kata kak Anton hubungi nomor ini," ujar Ana sambil menulis nomor di layar hp Nokia.
Ya bapak memberikan hp Nokia tipe jadul pada Ana untuk komunikasi. Ketika Ana mengubungi nomor yang diberikan oleh Anton, tapi nomor yang dihubungi Ana tidak aktif. Gadis itu hanya menghela nafas secara kasar, ada kesal sama orang yang dihubungi tidak aktif.
Melihat putrinya gelisah, pak Mamat langsung merangkul pundak Ana dengan lembut sekali.
"Ya udah kita tunggu aja acaranya."
Tidak lama kemudian adzan Dzuhur berkumandang dengan indahnya terdengar oleh telinga Ana. Aneh saat mendengarkan adzan ia merasakan kedamaian dan rasa nyaman yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Sesudah bapaknya sholat, mereka pergi mencari makan kerena perutnya lapar minta jatah. Ana memilih makan mie ayam dan bakso minumnya teh botol.
Setelah makan mereka langsung menuju gerbang depan IAIN, perjalanan nya sebenarnya muter kerena harus ke depan dulu, ( sedangkan jalan belakang juga ada sih kerena tidak tahu akhirnya jalan depan, kalau jalan belakang langsung ketemu Mesjid IAIN ).
"Teh, mesjid nya dimana ya?' tanya pak Mamat menghampiri dua orang mahasiswi.
"Ada di dalam pak, ayo saya antar." ujar mahasiswi itu sopan.
Ia menangkupkan kedua tanganya ke dada sambil mengangguk sopan sekali. Mata Ana tertuju pada gadis itu, gadis yang menangkupkan tangan ke dada. Tiba tiba ingatan ya pada Anton jelas sekali, melihat gadis itu mengingatkan pada Anton.
"Memangnya mereka aliran apa sih pake salaman kaya gitu?" bisik hati Ana.
Kalau dipikir pikir gadis itu lebih tua dari Ana usianya. Menunjukan mesjid IAIN, mungkin ia berpikir kaku bapak dan gadis yang ada dihadapannya bakal sholat kerena memang waktunya sholat masih ada. Sedangkan gadis yang duduk dengan gadis yang mengantarkan Ana dan pak Mamat, pamit padanya.
Akhirnya pak Mamat dsn Ana diantar oleh gadis itu! Seorang gadis yang sopan, manis, cantik dan teduh banget saat Ana menatapnya.
"Tempat wudhu ya di sini pak," ujarnya sopan.
"Saya kesini hanya ingin tanya apa benar di sini ada lomba Tralis?" akhirnya pak Mamat bicara tentang tralis.
Ia menanyakan mesjid juga bukan untuk sholat kerena ia sudah sholat. Pak Mamat hanya ingin tahu saja mesjid dan akan menyakan tentang lomba Tralis tudks tahunya ia bertemu dengan gadis itu.
Gadis yang mengantarkan pak Mamat hanya melonggo mendengar pertanyaan dari pak Mamat.
"O,ya tralis? Ya udah kita duduk saja di mesjid." ajak gadis itu keget.
Ana dan pak Mamat lanhsung menuju mesjid dan erka duduk di mesjid.
"Saya Najwa Fadia." ujar gadis yang mengantarkan pak Mamat dsn Ana ke mesjid itu.
Ana hanya diam saja mendengarkan apa yang Najwa bicarakan dengan bapaknya, gadis itu melihat wajah Najwa yang putih dan bersih, wajah yang Masya Allah cantik banget. Apalagi saat senyum ia terlihat manis😍.
__ADS_1