
"Pak, kalau saja di pamarihan ada komunitas menulis, Ana pengen ikut. ya gara gara Gema Pandeglang nggak ada lagi, Ana nggak bisa mengirimkan karya," cerocos Ana merasa kesal.
Ya tidak kesal bagaiamana, baru beberapa kali mengirim dan dapat uang saku eh majalah yang hampir membuat namanya booming malah hilang begitu saja. Ia seperti tidak punya kekuatan kembali. Tapi semangat Ana menulis terus di gali apalagi di belakang rumahnya yang sejuk dan damai sekali.
Pak Mamat yang mendengarkan celoteh Ana hanya bisa menghela nafas kasar, ya baru kemarin melihat putrinya senang melihat tulisan dimuat kini majalah menghilang tidak produksi lagi, otomatis kegiatan putrinya terhambat apa lagi tahun 1998 majalah maupun koran mulai melirik tulisan yang mengunakan komputer.
Ana tidak tahu komputer itu kaya apa, tapi menurut bapaknya kaya tv tapi di depannya ada benda pilih buat dipencet seperti mesin tik punya bapak yang ada di ruang kerja..
Jika menulis di komputer kata pak Mamat kalau salah bisa dihapus dan tidak mengunakan tip ex lagi, ada otomatis dihapus dan diganti dengan huruf yang akan ditulis kembali. Ana hanya mendengarkan kata kata pak Mamat masalah komputer. Tiba tiba hatinya ingin sekali bisa mengetik di komputer.
"Harganya mahal Ana kalau beli," sanggah pak Mamat menatap putrinya.
Ana hanya garuk garuk kepala saja saat mendengar harga yang disebutkan oleh bapaknya, ia tidak menyangka kalau harganya bakal semahal itu, ia kira komputer itu murah dan bisa dibeli dengan uang seadanya. Mendengar kalau harganya mahal ia hanya diam dan manyun saja.
"Suatu waktu kalau bapak punya uang insha Allah bapak bakal beli komputer buat Ana atau laptop buat Ana menulis." janji pak Mamat pada Ana.
Ana hanya mengangguk setuju mendengar apa yang bapaknya omongkan pada dirinya.
( Memang bapak membelikan saya komputer / laptop tapi saat saya sudah benar benar membutuhkan kedua benda itu untuk menulis, tapi sekarang malah lebih enak mengunakan hp untuk menulis cerpen dsn Novel langsung di aplikasi google Drive ).
"Cepat atau lambat insha Allah belikan buat Ana, yang penting Ana tetap belajar menulis saja."
__ADS_1
"Ana hanya ingin di terbitkan pak tulisannya, biar banyak yang baca novel Ana."
"Insya Allah pasti tulisan Ana dibaca oleh semua orang."
Ana hanya mengangguk riang sekali mendengar kata kata bapaknya, ia bakal buktikan dengan sekuat tenaga nama ia bakal terkenal oleh semua orang.
Biarpun hanya mengunakan fasilitas seadanya, pulpen dan buku tulis, ia mengalami ide untuk menulis, kerena tidak ada kemahiran khusus jadi tulisan Ana hanya itu itu saja tidak berkembang sama sekali.
Ya tulisan Ana lebih banyak dialog dibandingkan deskripsinya. Deskripsinya sedikit paling satu baris, sedangkan dialognya banyak sekali.
Tapi Ana tidak pernah menyerah apapun ia lakukan dengan keriangan hatinya. Ya dengan mengunakan pulpen dan buku ia sudah bisa menulis ya biarpun tulisannya menumpuk di pojok kamar digunakan untuk membaca kembali cerpen yang ia buat. Kadang dengan membaca kembali cerpen yang ia buat, akhirnya banyak juga ide ide untuk menyelesaikannya.
Dan satu daya tarik cerpen yang ia buat kalau satu Minggu kemudian dibaca kembali itu akan membuat daya imajinasi langsung keluar dan pengeditan itu malah panjang kerja ada penambahan tokoh maupun imajinasi yang tiba tiba keluar begitu saja.
Mentari pagi muncul dengan indahnya, bias bias sinar menyebar ke seluruh pojok permukaan bumi. Semilirnya angin pagi begitu lembut dan sejuk mengelus dedaunan yang hijau dan bersinar kerena terkena sinar mentari pagi.
Embun pagi jatuh dari atas ke rerumputan yang hijau, Kilauan embun yang terkena sinar mentari bagaikan kilauan emas yang ditaburkan di halaman. Begitu indah dan mempesona disaat mata memandang hamparan sinar yang berkilau indah.
Ana dengan antusiasnya memasuki sekolah yang sepi dan sunyi sekali. Sebenarnya jam telah menunjukan pukul 07.00 tapi hanya beberapa siswa yang datang ke sekolah. Sedangkan gitu gurunya masih belum datang.
Sejak Iwan pindah ke sekolah lain, Ana sering sendirian dan tidak pernah bertengkar kembali kerena mereka berpisah sekolah, ya gara gara orang tua Iwan yang menyuruh pindah pada Iwan kerana membuat onar dengan Ana. Guru tidak bisa menghalangi orang tua Iwan untuk memindahkan anaknya, kerena orang tua Iwan hanya ingin melihat anaknya baik baik saja.
__ADS_1
(Tapi biarpun begitu Iwan sering sering ikut reunian kalau ada reunian di SMP saya, ya biarpun ia juga ikut reunian di alumni SMP yang baru ).
Tapi gadis kacamata itu sering ingat kejadian antara dirinya dengan Iwan. Biarpun Iwan tidak ada di sekolah Ana, tapi Ana malah bertemu dengan Irma. Ya biarpun beda dengan Iwan tapi dengan Irma kalau di hukum sama sama melawan dan tidak saling menerima satu sama lainnya.
Seperti kemarin waktu ia dan Irma di hukum gara gara Ana menumpahkan cairan sabun ke Irma kerena Irma membuat baju Ana kotor oleh isi pulpen. Sebenarnya Irma tidak sengaja meniup pulpen akibatnya tinta warna biru langsung meluncur dan mengenai baju Ana.
Ana yang tahu bajunya kotor akhirnya marah marah sama Irma dsn menuduh Irma yang salah dan sengaja membuat bajunya kotor, Irma yang tidak mau dituduh langsung merajuk balik marah sama Ana. Akibatnya mereka bertengkar di kelas, untuk Ima dan Elis yang tahu Ana bertengkar langsung melaporkan keduanya ke pada pak Saryono sebagai kepala sekolah.
Ana dan Irma akhirnya dihukum suruh membersihkan perpustakaan. Sebenarnya ia kesal sekali selalu di hukum dan hukumannya harus beresin buku yang acak acakan.
( saya tidak pernah menduga kalau suatu waktu nanti akan bekerja di perpustakaan, setiap hari beresin buku, menyapu lantai perpustakaan, yupz saya tidak menyadari hal itu dan malah sekarang kalau inget hanya senyum senyum sendiri apa lagi kalau sedang di perpustakaan ).
"Aku tuh sial banget sih kalau dekat kamu selalu dapat hukuman," ketus Irma tidak terima kalau di hukum suruh beresin buku.
"Kamu yang bawa sial bukan aku, enak saja kamu bilang aku sial," sembur Ana.
Ana mendelik mendengar suara ketus Irma yang ditujukan pada dirinya. Irma menatap tajam kearah Ana yang menatapnya dengan tatapan sinis.
Ana langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai, kerena ia juga sebenarnya malas membereskan buku buku yang berserakan di lantai, tidak karuan sama sekali. Apalagi Irma gadis itu juga menghempaskan tubuhnya ke lantai yang tidak jauh dari Ana, ia menyandarkan ke rak buku sambil menatap lurus ke depan.
Ana juga seperti itu, diantara mereka tidak saling bicara, mereka diam membisu memikirkan bagaimana caranya mereka mebereskan buku buku itu..
__ADS_1
"Lebih baik dirapihkan saja tumpuk disini yuk!" ajak Ana mengusik Irma.
Irma hanya mengangguk dan langsung menumpuk buku buku dulu ke pinggir rak yang lain, supaya lebih rapi buku buku yang di rak juga datu satu di turunkan, tidak diturunkan semua nya sih kerena mereka berdua juga berpikir dua kali membongkar semua buku yang ada di rak pasti bakal kerjaan lama sekali untuk membereskan kembali buku di perpustakaan itu.*