Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 90


__ADS_3

Kenangan yang terindah adalah masa masa SMU, dimana di sana aku mencari jati diri. Dalam pencarian jati diri itulah, banyak rintangan dan halangan yang harus dilewati.


Kenangan indah yang tidak terlupakan disaat aku mencapai umur 17 tahun, disana kita bakal menemukan jejak kita dikemudian hari. Dan disana kadang aku bertanya apa nanti kehidupan aku dimasa depan itu bagaiamana?


Saat semua selesai, disana aku hanya bisa termenung dalam kesendirian mengenang indahnya masa remaja yang pernah disia siakan oleh diri


Adakah ada lorong menuju masa lalu? Kalau ada tolong! Bantu aku untuk menginjakan masa itu, banyak yang belum aku lakukan dimasa itu.


Putih abu abu.


Senin.


( Maaf saya sebenarnya lupa tanggal, bulan dan tahunnya yang saya ingat cuma saya masih duduk di kelas 2 A. Dan yang saya ingat pas selesai upacara bendera. Kalau tidak adalah caturwulan 2 dulu masih caturwulan, tapi pas satu tahun setelah saya lulus SMU baru ganti semester ).


Upacara bendera sudah selesai dengan tertibnya, apalagi sinar mentari pagi bersinar dengan hangatnya memberikan kenyaman tersendiri apalagi burung burung kecil bernyanyi dengan riangnya.


Di kejauhan terlihat Mawar dan.keduanya sedang memperhatikan ruangan kreasi yang di penuhi anak anak yang melihat cerpen cerpen nya masuk majalah. Sebenarnya majalah itu dibuat oleh pak Salwa sendiri hanya untuk memupuk kreatifitas anak anak termasuk Ana dsn Rani.


"Bagiamana?" Tanya Dahlia.


"Nanti saja, aku nggak mau dicurigai oleh Rani maupun yang lain," ujar Mawar.


"Sasarannya Ana, dia emang nggak ada tapi di ruangan itu ada Rani dan yang lainnya kemungkian kita bakal ketahuan percuma." Lanjutnya.


Dahlia hanya menghela nafas mendengar alasan yang diberikan oleh Mawar, ia juga sebenarnya tidak mau gegabah kerena banyak mata mata Ana apalagi kalau masalah seperti ini. Jadi daripada menanggung resiko yang lebih fatal lebih baik ia menunggu waktu yang tepat.

__ADS_1


Akhirnya mereka bertiga langsung ke kantin. Ya mawar tidkanmau mennagung resiko kembali, apalagi ia sudah kena bank belur oleh Ana. Itu menyakitkan sekali, bukannya di dukung oleh kedua orang tuanya malah mereka memarahi dirinya, siap yang sebal dan kelakuan Ana.


Sekarang ia menganjurkan teman teman nya untuk bersikap biasa saja, tapi Mawar bergerak hanya untuk menghancurkan Ana dan Rani. Memang dari awal sebenarnya Mawar sudah tidak menyukai Ana, apalagi akrab dengan Rani.


Pernah seminggu yang lalu ia mengutarakan lanjutan pada Cempaka dan Dahlia tentang rencana nya.


"Kamu gila, War!" Teriak Dahlia.


"Nggak usah nyewa preman, kalau kita nyewa preman otomatis uang kita yang kesedot!" Protes Cempaka menolak.


Mawar kemarin bicara kepada keduanya ingin menyewa preman yang ada di pasar, membereskan Ana, tapi keduanya menolak alasan biaya untuk membayar preman. Ya menolaknya Cempaka dan Dahlia kerena ini hanya urusan anak anak saja, jangan melibatkan orang lain atau orang tua.


"Kalian dan saja kaya bapak!" Ketus Mawar kecewa.


"Coba banyangkan sama kalian, dulu aku di pukul sama Ana, aku curhat sama bapak eh bapak malah memarahi aku." Cerita Mawar cemberut.


Kedua temannya malah tertawa lucu mendengar cerita yang keluar dari mulut Mawar. Mawar sampai sekarang juga heran kalau bapaknya malah mihak sama Ana, sedangkan yang anaknya adalah dirinya bukan Ana.


"Terus bangiamana ini?" Tanya Mawar.


Kedua temannya hanya mengangkat kedua bahu mereka tanda menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana sendiri.


Kalau Mawar tahu itu hanya bisa menghela nafas apalagi rencana demi rencana selalu gagal untuk Ana. Dahlia dan Cempaka saling pandang, dari pada mikirin Ana lebih baik keduanya makan lahap di kantin ya biarpun makannya sederhana juga tapi terasa nikmat sekali.


Sedangkan orang yang diomongkan oleh Mawar dan kedua temannya masih anteng di perpustakaan membaca buku Derai Derai Cemara karya Chairil Anwar. Ia memang dari dulu juga suka dalam keheningan seperti perpustakaan, apalagi kalau disediakan buku yang seru pasti lupa buat makan dan minum. Apalagi perpustakaan yang bersih dan harum kerena oleh ibu Elis sering di bersihkan dan di pel tiap pagi membuat nyaman dan bersih.

__ADS_1


"Na, dicari sama Mawar." Kata Titis pada Ana yang sedang asyik membaca buku.


"Tumben dia manggil Ana, Tis?" Tanya Ana heran.


Titis hanya mengangkat kedua bahunya..Ana hanya meghale nafas, bukan hanya Titis yang heran kenapa Mawar memanggil Ana, tapi Ana juga heran kenapa Mawar melalui Titis mencari dirinya. Ia malas menemui Mawar dan taman temannya tapi harus bagaimana lagi, sedangkan Titis setelah menyampaikan kata kata Mawar ia langsung meninggalkan Ana begitu saja.


Melihat Titis pergi begitu saja, Ana hanya garuk kepala tidak gatal. Akhirnya ia tidak memenuhi panggilan dari Mawar, ia lebih baik membaca daripada menghampiri mawar.


Mawar yang ada di kelas sedang menunggu Ana, gadis berkacamata itu tidak menampakan batang hidungnya.


"Kok lama banget Ana nggak muncul ya?" Tanya Mawar menatap keduanya temannya saling bergantian.


"Jangan jangan lupa lagi Titis." Ujar Cempaka.


"Apa jangan jangan Ana takut berhadapan dengan kita?" Gumam Dahlia seperti bertanya pada diri sendiri.


Tapi gumaman Dahlia terdengar dengan jelas ya biar lirih juga. Wajah ketiga gadis itu saling tatap, pandangan Mawar beralih pada pintu perpustakaan, tapi Ana tidak keluar saja. Hatinya bertanya tanya kemana Ana, tadi ia sudah menyuruh titis untuk memanggil Ana, tidak Ana tidak Titis keduanya juga belum muncul, sebenarnya Mawar cemas sekali.menunggu Ana datang.


( Saya tidak menghampiri Mawar dari ia memanggil sampai pulang lagi, saya waktu itu berpikir kalau Mawar butuh saya kenapa harus Titis yang datang dan menyampaikannya, pulang sekolah juga saya pura pura tidak tahu apa apa waktu itu😊. Tapi saya dan Mawar bertengkar kembali di sekolah🤦🤦 ).


Gadis berkacamata langsung meninggalkan perpustakaan saat bel masuk berdering dengan keras memanggil para siswa dan siswi untuk masuk ke dalam kelas.


Ana duduk disamping Yayuk. Tadi ia melewati kelas 2B tapi ia cuek saja melihat Mawar dan kedua temannya. Entah ia juga tidak tahu perasaan Mawar pada dirinya, ia tidak peduli sama sekali.


Mungkin kerena Mawar dari waktu istirahat menunggu Ana untuk menghampiri dirinya di kelas 2B, tapi Ana tidak muncul, Mawar merasa disepelekan oleh Ana, ia benar benar geram sekali. Jadi waktu pulang sekolah tanpa pikir panjang lagi Mawar menghampiri Anak yang berjalan duluan menuju tempat parkiran.*

__ADS_1


__ADS_2