
Di rumah yang sederhana sekali, Ana menyusun buku yang berisikan cerpen dirinya di kamar. Satu buku yang ditulis Ana bisa menghasilkan 5 judul cerpen.
Ya untuk menulis Ana.membutuhkan satu buku untuk ditulis, kalau belum selesai ia bakal menyelesaikan menulisnya sampai buku itu habis untuk cerpen.
Ana sekolah juga bukan sekolah sih, tapi lebih membuat cerpen saja. Jadi tidak ada buku matematika, IPA, IPS dan buku tulis lainnya, semuanya buku yang berisikan tulisannya. Tidak ada satupun mata pelajaran pada buku yang ditulis IPS, IPA dan Matematika. Kalau dipikir mau jadi apa Ana sekolah hanya mendapatkan ijazah saja tanpa ada tulisan pelajaran di bukunya..
Kalau ada PR juga malah tidak dikerjakan sam sekali oleh Ana sendiri, ia lebih baik dihukum apalagi di hukum di perpustakaan, kerena ia lebih bebas mengekspresikan dirinya melalui tulisan maupun puisi.
Kalau di perpustakaan ia lebih banyak membaca buku seolah oleh memberikan energi pada dirinya untuk menulis apa yang ia inginkan. Ya Ana.merass sempurna kalau sedang menulis, keren ia mampu menciptakan para tokoh yang dikehendaki olehnya. Sedangkan menurut Ana kali di dunia nyata tidak bisa seperti dunia novel. Dunia nyata tidak bisa direkayasa sama sekali, sedangkan dunia novel lebih banyak rekayasa dibandingkan kenyataan yang ada.
Buku buku yang Ana tulis sebenarnya hasil kreatif nya sendiri. Ia lebih nyaman kalau ia mencurahkan semua kenangan dengan tulisan tanpa menyebut nama sang tokoh.
"Bu kalau buku buku ini punya anak yang diterbitkan pasti Ana senang sekali," curhat Ana pada ibunya.
"Susah Na ingin berhasil juga apalagi di kampung seperti ini," Hela nafas ibu Tri.
Ia bukan tidak senang dengan apa yang Ana capai tapi kerena keadaan lah yang membuat Ana diam dan tanpa bergerak sama sekali.
"Iya Bu. Bu, kenapa sih ibu harus di Banten? Kalau ibu tinggal di Yogya pasti Ana juga tinggal di Yogya," Ana protes pada ibunya.
"Ini tugas Ana, ibu pindah kesini bukan kemauan ibu tapi Banten butuh tenaga ibu,"
__ADS_1
Mendengar alasan ibu Tri, Ana hanya menghela nafas panjang mendengarkan apa yang ibunya bicarakan. ia mengakui sih ibunya ke Banten hanya kerjaan ibu diangkat PNS di Banten bukan di daerah sendiri. Mungkin kalau misal ibu tidak di Banten otomatis ibu dan bapaknya tidak pernah mempunyai dirinya dan tiga adiknya.
"Bukan ibu dsn bapak tudks memikirkan Ana, apalagi Ana juga sekolah seperti itu, tiap hari bertengkar, tidak. pernah masuk ke kelas." tohok ibu Tri pada Ana.
Ya ia kadang merasa heran pada ana.pertamanya tiap hari bikin onar di sekolah, sering bolos, naik, dan semacamnya membuat ia sangat mengkhawatirkan anaknya yang satu ini. Kalau anak yang lainnya ia tidak pernah memikirkan keren anak yang lain tidak pernah bikin onar sedangkan Ana?
Ibu Tri hanya menarik nafas dalam dalam dan menghela nafas panjang, kalau mengingat pertamanya yang dari SD selalu bikin onar, ada ada saja kelakuan Ana waktu SD juga. Bikin gelengkan kepala saja.
🐝
Irma marah marah sama Ana, kerena bukan bantuan kerja membereskan buku malah gadis itu tidur dipojokan perpustakaan, ingin rasanya menimpuk dengan buku yang kini berada di bawah lantai.
Ia tidsk.geram bagaimana, hampir buku yang ada di perpustakaan turun semua kerena kelakuan Ana yang menurunkan buku sedangkan Irma sebenarnya sudah melarang Ana jangan menurunkan semua buku tapi Ana tidak mendengarkan perintahnya.
"Ana!" teriak Irma di telinga Ana dengan kerasnya.
Ana yangbtidak menyangka langsung dari rebahan nya menatap wajah Irma dengan tajam. Telinganya seperti mau pecah saja kerena teriakan Irma yang keras dan semua suara Irma seperti masuk semua ke gendang telinganya.
PLAK
Sebuah tamparan mengenai wajah Irma dengan keras sekali, Irma langsung menywrang Ana dengan kedua tangannya. Ana tidak tinggal diam, ia juga membalas pukulan Irma yang mengenai wajahnya, serta Ana juga menendang perut Irma dengan kerasnya sampai Irma kesakitan. Belum sempat Irma berpikir tiba tiba sebuah buku menimpah kepalanya.
__ADS_1
Buku buku itu di ambil oleh ana lalu dilemparkan begitu saja ke tubuhnya, sampai ia terjatuh menimpah rak untuk rakyat tidak menimpah dirinya kalau saja menimpah dirinya mungkin bisa fatal akibatnya.
Irma langsung bangun dan menyerang Ana, Ana terjatuh kerena Irma menerjang Ana, dan tiba tiba BRAK sebuah rak buku jatuh menimpah keduanya, untuk rak buku itu ukurannya sedang jadi pas rak buku menimpah keduanya, otomatis Irma dsn Ana merasakan sakit yang sangat kerena Ana dibawah tubuh Irma dsn kepala Irma langsung menimpah kepala Ana.
( 😂😂😂😂😂jujur memon ini momen yang indah banget kerena saya dan dia tidak bisa keluar saat rak buku menimpah badannya, saya yang di bawah berusaha sekuat tenaga untuk keluar tapi nihil. Akhirnya dengan susah payah kami berdua teriak minta tolong biar bisa dikeluarkan dari rak buku yang menimbah saya dan dirinya
Jujur bikinnya sambil tertawa membayangkan masa masa SMP yang tidak pernah dilupakan, momen yang indah bersama teman teman yang lain ).
Kepala yang terbentur membuat Ana pusing, Irma juga merasakan apalagi kepala bagian bawah terkena benturan rak, dan semua buku juga keluar semua. Keduanya berusaha mengangkat rak dengan tubuhnya, Ana hanya diam saja kerena ia juga tudks bisa bergerak kesana kemari, ia hanya diam saja sedangkan Irma berusaha mengangkat rak dengan tubuhnya tapi nihil Irma tidak bisa. Akhirnya...
"Tolong! Tolong!" teriak Ana dengan suara keras.
"Tolong! Tolong!" Irma tidak kalah kerasnya.
Beberapa saat kemudian, ibu Rina datang ke perpustakaan keren telinganya mendengar teriakan Andan Irma yang ada di dalam perpustakaan, ia pikir kalau keduanya pasti bertengkar lagi di dalam. Secara mereka hanya berdua di dalam, sedangkan semua siswa sedang belajar di kelas masing masing.
Ketika sampai di dalam perpustakaan wanita itu matanya hampir keluar ketika ia melihat Ana dan Irma berada dibawah rak buku yang roboh. Akhirnya dengan bantuan guru yang lain Ana dan Irma langsung di tolong.
Setalah di tolong ibu Rian menatap keduanya dengan tajam, ia bertanya tanya dalam hatinya kenapa rak buku sampai terjatuh dan menimpah keduanya.
"Ceritakan apa yang terjadi, kalian di suruh beresin buku tapi malah ngacak ngacak buku," kata ini Rina memandang ke buku buku yang berserakan tudks teratur, wanita itu hanya bisa mwngelangkan kepala kerena ruangan perpustakaan ibarat kapal pecah yang harus diberikan.
__ADS_1
Ana dan Irma langsung saling melirik satu sama lainnya, mereka ragu untuk menceritakannya. Apalagi kaku diceritakan pasti terdengar konyol sekali.*