
Hany telah membawa Mawar dan teman temannya kehadapan pak Salwa. Ketiga gadis itu hanya menunduk hatinya sungguh berdebar debar tidak ada tandingnya, ketiganya tidak berani menatap wajahnya dihadapan pak Salwa. Ketiganya duduk, Mawar duduk dekat Rani, sedangkan cempaka duduk dekat Ana. Lima orang siswa saling lirik satu persatu, tapi mulut mereka diam saja.
Pak Salwa menatap ketiga gadis yang datang itu, mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Hati ketiganya sebenarnya berdebar sangat keras sekali, dua kali mereka dipanggil gara gara masalah yang dibuatnya. Ada perasaan kesal sebenarnya pada pak Salwa yang telah memanggil nya.
Tapi kalau misal mereka menolak pasti bakal dicurigai kerena menghindar dari pak Salwa. Ya sudah akhirnya mereka mengikuti Hany, awalnya Mawar dan kedua temannya tidak akan mengikuti Hany tapi Hany mengancam Mawar kalau pak Salwa akan mendatangi mereka, akhirnya mau tidak mau akhirnya mau juga.
Sebelum sampai di ruang kreasi.
"Kamu sih yang bikin onar," kata Cempaka pada Mawar.
"Diam kamu!"
"Iya karena kamu sih semuanya ini, kalau saja nggak.ngajak kamu nggak mungkin kami bakal di panggil sama pak Salwa." Cerca Dahlia kembali menyalahkan Mawar.
"Kenapa kalian menyalahkan aku, seharusnya kamu juga tahu resikonya kalau ikut sama aku,"hardik Mawar tidak mau disalahkan.
"Kalian nantinya diam, jangan banya bicara," lanjutnya Mawar.
Ia sebenarnya takut kalau kedua temannya membocorkan apa yang terjadi pada ruang kreasi yang telah ia dan mereka lakukan. Tapi kenyataannya sekarang mereka bertiga di panggil oleh pak Salwa. Mawar hanya menghela nafas kasara atas kedatangan Hany.
Mawar ketar ketir waktu sampai di ruang kreasi apalagi pak Salwa juga ada disana, membuat dirinya merasa segan berhadapan dengan pak Salwa. Tapi akhirnya ia dan kedua temannya masuk juga.
"Mawar apa yang diceritakan Ana benar kalau yang,"
"Bohong pak!" Sangkal Mawar.
"Mawar! Jawab jujur!" Teriak Ana.
"Kalau aku nggak mau jujur," tantang Mawar menatap Ana tajam.
__ADS_1
"Kalian apa apaan, kalian dipanggil kesini untuk ngomong yang sebenarnya malah berantem!" Teriak pak Salwa menatap Ana dan Mawar bergantian.
"Mawar duluan pak yang bohong! Dia yang duluan bilang!"
"Mawar apa yang terjadi, kenapa kamu kesini sedangkan kamu tidak ada hubungan dengan ruangan kreasi ini?" Tanya Rani akhirnya.
Ya tadi Rani melihat dengan jelas kalau Ana dan Mawar bertengkar di ruangan kreasi. Mendengar pertanyaan Rani yang sedemikian rupa langsung membungkam kan mulut Mawar, gadis itu tidak menyadari kalau waktu ia dan Ana bertengkar Rani tiba tiba datang dan mempergok dirinya.
Mawar hanya melirik Cempaka dan Dahlia yang diam saja, mereka juga sebenarnya hanya mengikuti perintah Mawar saja. Mawar tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rani. Rani menatap wajah Mawar yang merah padam. Mawar sama sekali tidak berkutik.
"Kamu kan yang melakukan nya? Aku nggak pernah menyangka kalau kamu seperti ini," gumam Rani lirih.
Tapi masih kedengaran oleh semua orang yang ada di sana.
"Jadi bukan kak Ana yang melakukan nya? Kak Mawar? Tapi kenapa kak Mawar bilang Ana yang menyobek cerpen cerpen kami?" Tanya Hany.
Ya ia dapat informasi dari Dahlia kalau semua cerpen yang ada di ruang kreasi di sobek oleh Ana, awalnya sih Hany dan taman teman yang mengumpulkan cerpen di ruangan kreasi tidak percaya tapi mereka kekeh supaya mereka percaya pada kelompok Mawar.
Mendengar pengakuan Hany ini Ingin
rasanya Ana meninju mulut Mawar yang seenaknya bicara ngawur seperti itu. Mawar yang mendengarkan pengakuan Hany hanya diam saja, ia sebenarnya mengakui kalau ia sendiri yang mengatakan itu pada Hany supaya Hany dan yang lainnya tidak percaya lagi pada Ana dsn Rani.
Tapi usaha nya gagal kerena pak Salwa datang hanya untuk jadi penengah dirinya, sebenarnya ia merasa kesal sih tapi bagaiamana caranya lagi, ia hanya terdiam.
"Mawar apa yang Hany katakan benar?" Tanya pak Salwa yang kini menatap wajah Mawar dengan tajamnya.
Mawar semakin menunduk mendengar suara pak Salwa, ia sebenarnya takut untuk berhadapan dengan pak Salwa. Kalau berhadapan dengan Ana dan Rani masalah kecil, kerena ia juga masih berani melawannya. Tapi dengan adanya pak Salwa dihadapannya membuat dirinya merasa segan. Boro boro untuk menatapnya, ditanya juga ia masih gemetaran sama sekali.
"Aku nggak suka kalau Rani ikut gabung dengan Ana," ujar Mawar masih menunduk.
__ADS_1
"Ada alasan lain, yang kamu harus sebutkan?" Tanya pak Salwa mengkerutkan wajahnya heran.
Kemarin Rani tidak suka sama Ana kerena Ana suka pada dunia menulis, sekarang ia mendengar mawar tidak suka Rani akrab dengan Ana. Ia hanya bisa menggelengkan kepala saja mendengar anak anak itu bicara.
"Habis kalau Rani nggak gabung ke kami, kami nggak pernah dikasih traktiran lagi," ujar Cempaka polos.
Dahlia yang duduk di sampinga Cempaka langsung menyikut lengan Cempaka, sebenarnya apa yang Cempaka katakan memang benar sekali, ia dan teman temannya sering di traktir oleh Rani kalau ke kantin tao sejak Rani akrab sama Ana, Rani jarang lagi traktir mereka. Mereka sebenarnya ingin seperti kemarin kemarin lagi kerena sering ditraktir oleh Rani.
Rani yang mendengar langsung terdiam tidak pernah menyangka kalau dirinya dimanfaatin oleh mereka, sedangkan ia sendiri tidak pernah manfaatkan ketiganya untuk urusan pribadi, Rani hanya menghela nafas panjang, ada rasa kesal mendengar pengakuan dari cempaka, tapi ia bersyukur kerena tahu semuanya sekarang.
Pak Salwa hanya menggelengkan kepala saja mendengar kata kata polos Cempaka, sedangkan Mawar hanya mendelik mendengar apa yang Cempaka katakan pada semua orang.
"Aku nggak nyangka kalau keakraban kalian hanya bisa jadi parasit bagi kak Rani sendiri," cerca Hany.
Gadis kelas 1 itu tidak menyangka juga kerena awalnya ia menyadari kalau keakraban Rani dan mawar tulus tidak tahunya.
"Ya sudah kalau begitu, kalian sebenarnya punya potensi hanya kalain dikalahkan oleh ego kalian." Kata pak Salwa..
"Kalau kalian ingin gabung gabung aja jangan saling menjatuhkan, Rani dan Ana pasti menerima kalian kok!" Kata pak Salwa menatap tiga orang yang membuat onar..
"Saya nggak mau," sembur Mawar.
"Mawar hati hati bicara!" Teriak Rani memberitahukan Mawar.
Mawar langsung diam. Ia menyadari apa yang Rani katakan kerena ada pak Salwa di hadapan mereka, jadi Rani tidak ingin kalau mawar mengatakan sesuatu yang membuat kak Salwa iftill pada Mawar sendiri.
Diskusi yang terjadi pada mereka terkesan alot dan tidak ada ujungnya. Akhirnya pak Salwa membubarkan mereka, ditambah lagi mereka juga harus belajar di kelas masing masing apa lagi jam terus berjalan cepat. Kelima gadis berjalan menuju kelas masing-masing.
"Kak, maafkan Hany ya Kerena,"
__ADS_1
"Udah lah jangan diingat," tempat Ana.
Rani hanya mengusap pungung Ana lembut sekali mendengar Ana mengucapkan kata kata itu pada Hany.*