
POV Ana
Aku benci kehidupan ini, kenapa tidak kerena aku harus diberikan kelebihan menulis oleh Allah. Aku mengutuknya, kenapa coba diberi kelebihan menulis lalu tidak ada jalan untuk meraihnya.
Aku hanya bisa melempiaskan kekesalan pada diri sendiri melalui tulisan yang dibuat di sebuah komputer. Percuma punya komputer juga kalau setiap menulis selalu ditolak saja. Kesel sekali, aku menyangka kalau menulis itu gampang, tinggal menulis terus di terbitkan lalu dapat uang.
waktu sebelum punya komputer, aku nyakin bakal menembus penerbitan tapi nyatanya tudks sama sekali. Aku kesel dengan keadaan yang aku hadap.
"Udah jangan jadi penulis saja!" sembur ku pada ibu.
"Kenapa?"
"Masa setiap aku mengirimkan ditolak saja sih! kenapa Bu?" tanyaku hampir menangis.
"Ana tahu darimana kalau tulisan Ana di tolak?" tanya ibu kembali.
"Kan kalau penerbitan itu masa tunggunya 3 bulan, kalau masa 3 bulan tidak ada pemberitahuan berarti tidak dimuat," jelas ku pada ibu.
Ibu hanya mengangguk angguk apa yang aku katakan padanya. Wanita itu hanya bisa mengenal nafas kerena ibu tidak mengerti apa yang di katakan dalam jangka waktu menunggu 3 bulan.
"Ana jangan pesimis dulu, mungkin ada kesalahan dalam menulis." kata ibu menatap ku.
"Ana, menulis seperti kemarin kemarin, coba dimana salahnya?" tanyaku blank.
"Mau nanya juga ke siapa?" tanya Ana lirih.
Ibuku hanya mengusap lenganku seperti memberikan semangat untuk memotivasi aku untuk menulis.
__ADS_1
Aku beranjak ditempat duduk dsn masuk kamar, aku mengunci kamar ku dan bersandar di tembok dengan pandangan kecewa sekali. Beberapa Kalai mengirim novel tidak satupun diterima oleh penerbit.
Aku menyangka nya jadi penulis itu gampang dan mudah tidak tahunya susah banget.
'Ya Allah berikan hamba yang terbaik. Kalau memang menulis yang terbaik mudahkan, dekatkan tapi kalau menulis itu buruk buat hamba, hamba mohon jauhkan semuanya yang berhubungan dengan menulis,' bisik ku dalam hati.
Disini aku seperti berada dibawah kerena semua yang aku inginkan tidak pernah berjalan dengan mulus sekali, aku merasa bosan dengan kehidupan yang aku jalani, untuk pergi dari rumah pergi kemana kerena tidak ada tujuan yang pasti.
Mau menetap di rumah ya seperti ini tidak ada perubahan sama sekali, ingin pergi jauh dan tidak pernah kembali ke Ranca Jaya itu hal mustahil dilakukan kerena orang tua menatap tinggal di Ranca Jaya entah sampai kapan semuanya.
Kalau pergi misalkan aku sama sekali tidak punya ongkos atau tempat yang dituju, bisa saja pergi nekad ke kota, tapi aku takut kalau misal pulang kembali kerena gagal di kota. Pertanyaan dan kecamuk dalam hati terus didengar oleh telingaku.
Entah sampai kapan semuanya.
*
Sejak kejadian membaca koran tentang Ibnu Adam Aviciena asal Cibaliung, maupun majalah tentang FLP Pamulang. Ana melupakan sejenak masalah dua komunitas yang ia mimpikan, kerena keadaan lah ia menguburkan keinginan untuk masuk Rumah Dunia dan FLP kerena itu hanya sebatas mimpi seorang anak desa yang tidak pernah bisa digapai sama sekali olehnya.
Mungkin Ana bakal melupakan kedua komunitas itu untuk selamanya? Atau itu hanya sementara saja, kerena hanya untuk melempiaskan kekesalan yang dilakukan oleh diri sendiri?
Jadi ia biarkan saja mimpi itu mengendap di hatinya. Ana pesimis sekali untuk meraih dua komunitas yang ada di Banten tepatnya kota serang. Mimpi yang tidak akan bisa diraih oleh seorang Ana yang haus ilmu kepenulisan.
Aktifitas yang terbanyak kali itu hanya sebagai penjualan sayuran saja, ya tiap pagi ia selalu berada di kebunnya saja. Melihat tanaman subur dan indah di pekarangan rumahnya yang menghijau dan cantik.
Silahkan pertanian yang kecil itu, disampingnya beberapa bunga yang indah tanaman ibunya yang rajin merawat tumbuhan itu.
Cape, itu yang dikatakan Ana dalam keputusasaan yang selalu hadir dalam kehidupannya. Kadang ia berontak pada Allah kenapa harus diberikan kelebihan menulis dibandingkan orang lain, kadang gadis berkaca mata itu tidak menerima kalau ia punya kelebihan hanya sendirian saja, ia juga malas untuk menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Ya sekarang ia lebih fokus dalam masalah tanaman saja, ia lebih mengejar cita cita awalnya yaitu pertanian. Semangat untuk jadi petani bangkit lagi, ia tersenyum ceria saat tanaman nya banyak yang membeli dan secara diam diam ia menabung dari uang hasil jualan terung, cabai, rawit, tomat, rampai.
Tanpa sepengatahuan ibu dan bapak pagi itu Ana keluar membawa motor Supra X menuju sebuah toko emas di pasar emas di pasar Panimbang. Uang hasil penjualan tanaman pertanian itu ia belikan cincin lima gram. Ada haru dalam hatinya saat ia melihat cincin dari hasil keringatnya.
( Cincin ini pembuka jalan saya untuk meraih mimpi yang selama ini di inginkan sebuah mimpi yang besar dan mengubah saya untuk tetap Istiqomah dan cincin itu adalah jalan menemui cahaya yang terang dalam hidayah Allah SWT ).
"Na, beli cabe dong!" teriak tetangga rumah..
"Siap!" jawab Ana senang.
Ana memberikan cabe pada pelanggan nya dengan uang uang diberikan olehnya, ada binar dalam hati Ana disaat tanganya menerima uang itu.
Bukan hanya tetangga rumah sja yang membeli panen pertanian Ana, tapi ia juga menjual ke pasar Perdana sebuah desa yang dekat dengan desanya--desa Karyasari tempat Ana tinggal.
Pagi pagi Ana pergi mengunakan motor, membiarkan rambut yang dibiarkan tidak diikat di mainkan oleh angin. Ia mengunakan kaos tangan pendek dan celana panjang, kalau keseharian nya ia selalu begitu tapi kalau di rumah sering mengunakan celana pendek selutut. Kalau keluar pasti pakai celana panjang, tapi kalau pakaiannya selalu kaos lengan pendek.
Ana melepaskan kerudung. Ia hanya mengunakan kerudung hanya kelas 3 SMU dan waktu di Pandeglang selebihnya dilepas begitu saja, Oya ia juga di SMP mengunakan kerudung sekolah tapi baju pendek dan roknya selutut itu tahun 1996-1999😂
Sedangkan waktu SMU kelas 1-2, ia melepaskan kerudung, membiarkan rambut panjangnya dilihat oleh semua orang, apalagi cowok🤦. Dan waktu kelas 3 mulai mengunakan kerudung, baju panjang dan rok panjang. Tapi sepulang sekolah dilepas begitu saja, rambut dibiarkan digerai begitu saja atau di kepang.
Keseharian Ana seperti itu, apalagi ditambah dengan lingkungan yang seperti nya mendukung Ana untuk tidak mengunakan kerudung, apalagi pikiran gadis itu pendek sekali.
Bukan sekali dua kali saja Ana menjual hasil pertaniannya, ditambah lagi ia suka sekali menanam singkong. Hasil singkong ia jual, dari daunnya dan ubi nya. Semua ia kerjakan dengan senang hati dan keikhlasan.
"Alhamdulillah, pak. Dapat uang dari hasil tanaman yang Ana tanam," kata gadis itu menatap bapaknya.
"Semoga berkah, tetap semangat ya! Apapun pekerjaan pasti ada jalan." ujar bapaknya.
__ADS_1
Ana hanya mengangguk setuju apa yang diucapkan oleh bapaknya, tergambar sebuah keceriaan yang indah di senyuman Ana.*