
Bukan nya jera sebenarnya yang Iwan lakukan tapi ia malah menjadi jadi membuat gadis berkacamata itu merasa kesal dan tidak suka sama Iwan entah maksudnya apa menganggu Ana. Ana yang selalu dinganggu selalu melawan, tapi keduanya tidak pernah kapok di hukum dam guru. Pernah mereka Ana dan Iwan berantem di semak belukar hanya ditonton oleh beberapa saja. Pas ada guru mereka hanya berlarian menghindari guru.
Tapi naas biarpun hari itu kedua lolos dari kejaran guru, tapi paginya mereka.menerima hukuman harus membersihkan WC maupun perpustakaan. Ana dan Iwan pernah di hukum membersihkan di perpustakaan tapi keduanya malah tidur di ruangan itu dengan lelapnya. Anehnya kalau lagi di hukum Ana dan Iwan malah akur dan bisa bekerja sama dengan baik, tapi biarpun begitu mereka juga sering membuat guru pusing tujuh keliling. Dihukum membersihkan perpustakaan pas di tengok malah keduanya terlelap tidur. Nyaman banget.
Kalau di suruh membersihkan WC keduanya kadang kabur ke semak semak yang ada di belakang sekolah. Semua guru sudah pusing memikirkan kedua anak itu yang hanya bersatu saat di hukum, kalau tidak dihukum keduanya berantem saja tiap di sekolah.
Pernah suatu waktu Iwan melakukan kesalahan dengan menyembunyikan tas nya Ana. Aneh juga sih cowok sudah babak belur oleh Ana tapi tidak pernah kapok membuat gadis itu kesal akhirnya mereka berantem lagi. Tapi pas dipanggil suruh membersihkan WC, keduanya sembunyi dengan naik pohon yang ada di depan sekolah.
Biarpun semua siswa dikerahkan mencari mereka berdua tetap saja keduanya tidak ada yang tahu dimana Ana dan Iwan bersembunyi sampai jam pelajaran berakhir keduanya baru ketahuan saat mereka berdua turun diatas pohon.
Belum sempat di panggil keduanya telah kabur pulang ke rumah masing masing, pas paginya mereka sekolah tapi tidak memperlihatkan batang hidungnya pada gurunya yang ada di sekolah. Mereka sekolah tapi bolos, sekolah hanya di luaran saja. Kalau Iwan hanya nongkrong di sekolah tanpa belajar di sekolah. Sedangkan Ana masuk ke perpustakaan, ia dengan betahnya membaca buku cerita yang ada di perpustakaan.
Kerena perpustakaan jarang dibuka, kerena tidak ada yang menjaga perpustakaan. Maka perpustakaan tutup saja, paling kalau dibuka hanya waktu istirahat saja, masih untung kalau ada gurunya yang mau membukanya kalau tidak ya perpustakaan dibiarkan tutup saja. Otomatis kalau perpustakaan titip Ana bakal selamat dari hukuman guru.
Apa yang terjadi, itu keberuntungan gadis berkacamata. Ia tidak ditemukan sama sekali, oleh guru dan teman yang lain. Sedangkan Iwan dipanggil dsn disuruh beresin WC guru maupun WC siswa.
Iwan mau tidsk.mau akhirnya harus tunduk dan patuh pada guru Pai itu, kalau tidak mau kakinya kena satu lidi yang bakal dipukulkan oleh guru mapel Pai itu ke tubuhnya. Hati Iwan bertanya tanya keberadaan Ana tiba-tiba tiba menghilang begitu saja, ia menyangka kalau Ana belum pulang ke rumahnya. Kerena ia pagi melihat Ana berkeliaran di sekolah dsn mereka juga bertemu.
__ADS_1
Dugaan Iwan memang benar sekali memang Ana tidak pulang tapi ia sembunyi di perpustakaan, menghindari hukuman yang bakal ia terima dari gurunya. Ya saking takutnya di hukum,.sebenarnya hukumannya tidak berat sih paling hanya bersihin WC atau bereskan buku di perpustakaan. Paling itu saja hukuman yang paling ia terima dari gurunya.
🐝
Ana diam di teras rumahnya, menatap senja yang bakal turun menjadi gelap. Ia telah basa mengunakan waktu nya untuk menulis ya biarpun itu di teras rumah. Ditambah lagi semilirnya angin berhembus memainkan rambut yang diikat asal saja.
Ya ia mengunakan waktu sore hari dengan menulis beberapa puisi dan cerpen, ya biarpun tulisannya masih acak acakan tapi ia senang sekali melihat hasil tulisan tanganya.
"Na, keur naon?( Na, lagi apa ? )"tanya pak Mamat sambil menghampiri putrinya yang anteng di teras rumahnya.
Ana menunjukan hasil tulisannya ke hadapan bapaknya dengan senyuman indahnya. Pak Mamat lanhsung menerima kertas dari tangan Ana dan membacanya, ia terharu melihat tulisan Ana yang rapi dan teratur ya biarpun cerpen itu jauh dari sempurna..
Tanpa sepengetahuan Ana sebenarnya pak Mamat adalah orang dalam di Gema Pandeglang sebuah majalah tentang Pandeglang. Ia juga salah satu yang mengirimkan beberapa cerpen ke berbagai media cetak, misal koran dan majalah. Tulisannya menyebar di dalam kota Pandeglang dengan nama tenarnya Matbol artinya Mamat Jambu ***.
Ana menatap bapaknya dengan tajam kerena tidak menyangka kalau bapaknya bakal mengatakan itu lada dirinya, akhirnya dengan antusias nya ia mengangguk setuju atas usul bapaknya. Akhirnya Ana dengan ditemani pak Mamat bapaknya, ia sehabis shalat magrib langsung menulis cerpen dengan mengunakan mesin ketik punya pak Mamat.
Ia benar benar senang sekali bisa menulis di mesin ketik ya biarpun salah bisa dihapus mengunakan tip ex. Jam 21.00 baru selesai kerena tulisannya banyak diulang lagi. Ana senang sekali kalau benar cerpennya bisa masuk Gema Pandeglang, ia telah membanyangkan semua hasil dari tulisannya.
__ADS_1
Dua Minggu setelah pengiriman cerpen dan puisi di Gema Pandeglang, Ana sore itu sedang berada di teras bersama ibu dan adik adiknya. Duduk sambil menunggu magrib untung lampu minyak sudah di nyalakan. Hati itu bagian piket menyalakan lampu minyak adalah Ana sendiri. Ada 8 lampu minyak yang dinyalakan, lampu pertama di kamar depan, lampu kedua di ruang tv, lampu ketiga di ruang keluarga, lampu keempat ada di kamar belakang, lampu kelima berada di dapur, lampu keenam mushola dan lampu ketujuh di WC, dan terakhir di depan rumah teras.
"Na, ieu Aya majalah sok baca, ( Na, ini ada majalah silahkan baca )," kata bapak tiba tiba datang dari Angsana." kata bapak nya Ana menyodorkan majalah Gema Pandeglang.
Ana menerima majalah yang diberikan oleh bapaknya, saat dibuka dihalaman belakang terlihat beberapa puisi dsn cerpen milik Ana dimuat di gema Pandeglang.
"Pak!" suara Ana tercekat.
Tiba-tiba hatinya sangat terharu saat melihat puisi dsn cerpennya dimuat di gema Pandeglang, pak Mamat yang berada di ruang yang sama dengan Ana langsung mengangguk. Gadis itu yang melihat anggukan kepala bapaknya langsung menubruk tubuh pak Mamat dengan kerasan haru dan riang sekali.
"Alhamdulillah, bapak senang melihat Ana cerpen ya di muat, semoga ini Hadi lecutan semangat Ana ya." kata pak Mamat sambil mengusap kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
"Iya pak, makasih pak." Ana mengucapakan itu sambil bergetar kerena ia merasakan senang sekali, bisa menghasilkan.
Apalagi saat bapak nya memberikan uang hasil dari tulisan Ana. Ia benar benar menangis senang sekali kerena bisa mendapat uang dari menulisnya.
"Na, kalau Ana benar benar serius menekuni bidang menulis insha Allah bakal menghasilkan," bisik pak Mamat ditelinga Ana.
__ADS_1
Ana mengangguk senang. Disaat itu tiba tiba ada lesatan semangat yang hadir begitu saj dihatinya. Ia tidak menyangka kalau dari menulis bisa mendapatkan uang buat menambah jajan dirinya.*