
Hati Ana sangatlah girang sekali mendengar kalau di Kampus IAIN serang ada lomba Tralis. ( saya tidak tahu kalau Tralis itu bagian dari FLP Cabang Serang yang diketuai oleh Najwa Fadia, seorang gadis asal Cigeulis Pandeglang. Beliau juga anak kelas menulis angkatan 1 Rumah Dunia.
Saya pertama kali menyangka kalau tralis itu hanya sebatas lomba cerpen dsn siapa yang menang dapat juara dsn yang tidak menang dapat bingkisan, saya tidak pernah berpikir kalau di Serang ada FLP🤦).
Hatinya sudah terbayang kalau perlombaan itu bakal seru abis, wah sudah berpikir jauh kalau misal menang lomba. Pasti hidupnya di kota, punya rumah, punya mobil, punya suami dan anak yang lucu lucu.
"Nggak boleh pergi!" Suara ibu tinggi saat Ana bilang ingin ikut Tralis.
"Tapi Bu?" hampir menangis.
"Na, bapak nggak ada di rumah, ibu harus izin dulu sama bapak kalau Ana mau pergi!" jelas ibu.
'Gagal maning!' bisik Ana lanhsung berlari ke kamar dan menangis di kamar sambil mem bolak balik buku yang di pengang nya. Ia harus bagaimana sekarang? Apalagi bapak pergi ke Tasikmalaya menjenguk nenek yang sakit. Otomatis bakal lama kalau nunggu bapak pulang, apalagi kegiatan itu hanya menghitung hari.
Masih untung kalau bapak pulang ke rumah cepat sekali, apalagi jarak antara Pandeglang dan Tasik tidak bisa membayangkan sama sekali.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamar nya, Ana dengan malas membuka pintu terlihat ibu yang mengetuk pintu itu. Ana langsung masuk kembali duduk di ranjang dengan bantal di pangkuannya. Sedangkan ibunya mengikuti Ana dari belakang dan duduk di tepi ranjang yang lain.
"Na, ibu cuma takut kalau Ana ikut Tralis nanti Ana disana sama siapa?" tanya wanita itu sambil menatap putrinya.
Ya seorang ibu pasti sangat khawatir kalau anak perempuan harus pergi sendiri, apalagi tudks ada Yaang menemaninya. Apalagi pergi dengan jarak jauh Ranca Jaya Serang kalau ditempuh 3 jam perjalanan. Kalau naik mobil takutnya ada cowok yang nakal apalagi Ana baru keluar dari Ranca Jaya.
Ya selama dua tahun ini Ana hidup di perkampungan saja tanpa mengenal kota, kenal kota setelah lulus SMU itu juga cuma 3 bulan saja. Dan sekarang Ana meminta dirinya mengizinkan pergi untuk ikut lomba Tralis.
"Ibu tetap nggak mengizinkan Ana pergi jauh," ujar ibunya menatap Ana..
__ADS_1
Gadis itu langsung membeku ditempat."Kalau ibunya uang aku kabur nih!" berontak Ana dalam hati.
Ya ada pikiran ingin kabur, hidup bahagia tanpa orang tua. Tapi alhamdulillah Ana tidak pernah melakukan itu, dan sekarang ia punya pikiran buruk lagi.
"Bu, pis Ana pengen banget sih, bu." rengek Ana.
"Nggak bisa ya nggak bisa Ana. Udah kamu jangan macam macam," ketus ibunya..
Wanita itu langsung beranjak dari duduknya dsn meninggalkan Ana begitu saja. Sebenarnya ibu Tri tudks tega melihat putrinya merengek seperti itu, tapi kalau misal ia mengizinkan terus suaminya datang dsn marah lada dirinya membiarkan Ana.oergi sendirian ke Serang apalagi Ana tidak tahu kota Serang.
Ibu Tri hanya mengusap pipinya yang tiba tiba ada cairan bening yang mengalir di pipi nya. Kalau saja suaminya di rumah kemungkinan keinginan Ana bakal dirundingkan dulu dengan suamianya.
( yupz! tahun 2005 biarpun hp ada tapi tidak viral seperti sekarang. Bapak sebenarnya bawa hp ke Tasik, tapi di rumah tidak punya hp apa apa jadi susah untuk di telpon. Ditambah lagi kak Anton libur kerjanya otomatis tidak bisa minta bantuan untuk menelpon bapak ).
Sedangkan Aan hanya bisa menangis di kamar, perih, kecewa pada ibu. Gara gara bapak tidak ada di rumah malah yang jadi korban Ana sendiri.
"Ya Allah kenapa hidupku seperti ini, kenapa kau jadikan aku penyuka menulis," rintih Ana dalam tangisnya.
Dalam kepedihan hatinya tiba tiba ia mendengar suara adzan. Aneh! Sangat Aneh telingganya mendengar suara adzan begitu indah banget, hati yang sedih seperti terhibur oleh alunan adzan yang ada di mesjid. Aneh lagi ia langsung beranjak dari duduknya kembali ke rumah, dsn sampai di rumah langsung menuju tempat wudhu.
Ia langsung wudhu dan bersujud di hadapanNya.
(Titik balik saya waktu itu, mulai mengerjakan Shalat 5 waktu full kecuali haid dan berusaha Istiqomah dan menjaga sholat yang 5 waktu.
Kemarin kemarin masih bolong bolong, kalau sholat paling magrib, dan subuh🤦🤦 ya biarpun ada kak Anton di rumah, kak Anton sering mengingatkan saya untuk sholat, tapi sering dicuekin olehku ).
Aneh setelah sholat begitu ringan dan seperti tidak terjadi apa apa, tidak seperti tadi begitu berat beban yang ditanggung. Dan dalam hati malah ada sebuah ke keikhlasan kalau misal bapak tidak datang dan tanpa izin bapak ia tidak bakal menghadiri lomba itu.
__ADS_1
"Na, jadi nggak ikut lomba Tralis nya?" tanya Anton waktu datang ke rumah Ana.
"Nggak diizinkan sama ibu," jujur pada Anton..
"Yah! Sebenarnya sayang sih kalau nggak ikut, kegiatannya seru abis kalau ikut mah," Dengus Anton agak kecewa.
Tapi ia juga tidak menyalahkan Ibu Tri sih itu hak ibunya, apalagi Ana adalah putri ibu Tri jadi otomatis izin harus ada dari ibunya. Anton hanya menatap kosong ke depan, hatinya tidak bisa dibohongi sebenarnya ia kecewa keputusan ibu Tri tapi bagaiamana pun ia tudks berhak mengatur ibunya Ana, akhirnya ia hanya diam saja.
"Sebenarnya lingkungan tralis itu baik buat Ana," lirih Anton.
Tapi kata kata lirih Anton masih bisa di dengar oleh Ana. Gadis itu hanya mengehla nafas mendengar kata kata Anton, ia juga ingin sebenarnya ikut lomba Tralis tapi ibunya?
"Memangnya tempat apa yang bagus buat An kak?" tanya gadis itu kemudian.
"Tralis. Kakak hanya ingin Ana berubah." cicitnya.
"Berubah jadi apa kak?" tanya Ana heran.
Pikiran Ana langsung berimajinasi, berubah jadi robot, atau jadi orang yang bisa terbang.
"Berubah menjadi wanita Sholihah Ana."
"Berat kak, jadi wanita Sholihah mah, kalau jadi robot oke juga," canda Ana tersenyum.
"Pis! Kak," lanjut Ana sambil mengacungkan kedua jarinya ke atas.
Anton hanya tersenyum, Ana juga tersenyum. Ada kenyamanan disamping Anton dan ia juga bisa menyesuaikan kehidupan Anton dan dirinya, ya dari pertama kenal sampai sekarang Anton selalu menjaga jarak dengan Ana. Begitu jga dengan Ana lama lama mengerti pergaulan ya biarpun kalau ketemu dengan dengan orang seperti Anton, ia berubah lagi.
__ADS_1
Ana mulai tidak menggoda Anton dengan salaman, ya biarpun ia masih bertanya tanya masalah salaman itu. Tapi sampai saat ini Ana masih belum terpecahkan sampai sekarang.*