
Mawar yang melakukannya." Kata Rani.
"Dia nggak suka kalau aku dan kamu berteman apalagi membangun kreasi seperti ini, kemarin aku dan mawar bertemu dia bicara kalau dia nggak suka kamu." Lanjut Rani kembali.
Ia meghela nafas panjang lalu dihembuskan kembali, Ana hanya terdiam hatinya dan sakit mendengar pengakuan dari Rani. Ya Ana tidak menyangka kalau Mawar akan melakukan semuanya pada dirinya. Ana kira semuanya bakal berjalan dengan lancar kalau Rani diajak berkomitmen tapi nyatanya sekarang Mawar yang melakukannya.
Sebenarnya ia hanya ingin semuanya berjalan lancar tidak ada gangguan sama sekali, ada kesal, perih yang dirasakan oleh Ana. Rani menatap Ana tajam ada perasaan terenyuh melihat Ana diam seperti itu.
"Ya udah kita beresin semuanya yuk!" Ajak Rani.
Ana menatap wajah Rani, kemarin dulu Rani yang di bully dirinya sekarang malah Rani sekarang dibully oleh teman temannya, ada perasaan bersalah tapi harus bagaimana lagi sekarang.
"Ran, kamu pernah berkata kamu nggak mau mengungkap pada Mawar lalu kamu suka menulis apa kerena ini?" Tanya Ana pada Rani
Rani tidak menjawab secara langsung tapi menatap wajah Ana, ada helaan nafas panjan yang terdengar dari mulut Rani. Ana masih tetap menunggu apa yang Rani bakal bicarakan kerana sebenarnya ia telah menduga kalau kata kata Rani waktu dulu sudah tertanam dihatinya paling dalam.
Rani mengangguk dengan cepat.
"Iya, aku yang takutkan sebenarnya ini, Na. Kalau mereka tahu mungkin mereka menjauhi aku, tapi sekarang aku nggak pernah peduli lagi pada mereka." Ujar Rani.
Gadis itu membereskan tempat itu, Ana dengan menghela nafas panjang mendengar jawaban Rani. Akhirnya ia juga ikut membereskan tempat itu bersama dengan Rani. Hatinya benar benar mengutuk perbuatan dari Mawar yang seenaknya merusak Mading, serta meja di corat coret serta beberapa cerpen yang ada di dinding di copot dan di sobek kecil kecil.
Siswa dan siswi yang lain melonggo melihat ruangan itu seperti porak poranda seperti itu. Bukan hanya siswa dan siswi yang melihat semua guru juga kanget melihat ruangan yang seharusnya rapi tapi malah bagaikan kapal pecah. Pak Salwa yang melihat itu langsung minta penjelasan pada Ana dan Rani kerena ia yang telah memberikan tanggung jawabnya pada Ana dan Rani berdua.
Untung jam pertama 2 kelas itu guru mapelnya tidak ada maka pak Salwa langsung memanggil Ana dan Rani, kedua nya langsung menuju ruangan kereasi, mereka kesana nya berdua biarpun beda kelas. Diikuti tatapan mata Mawar dan dua temannya lainnya. Mereka menatap penuh dengan kedengkian pada keduanya.
__ADS_1
( Saya baru tahu kalau Mawar tidak menyukai saya ketika saya dan Rani satu kelompok dengan Rani, ditambah lagi Rani sekarang menjadi ketua dari kreasi otomatis Mawar semakin benci, dan disana saya baru tahu kalau Rani memang seorang penulis dan ia juga sering tulisannya di majalah. Mungkin sudah saatnya harus ketahuan juga sih sama saya😊🙏 dan kedatangan pak Salwa membawa keberkahan juga ).
Pak Salwa yang melihat Ana dan Rani ke ruang kreasi langsung menyusul anak muridnya, ia menatap wajah Ana dan Rani secara bersamaan.
"Maafkan saya pak, saya khilaf masalah ini, saya yang harus bertangungjawab semuanya. Maaf." Ujar Rani meminta maaf.
"Pak, Mawar, Cempaka dan Dahlia yang melakukannya mereka nggak suka sama Rani kerena mereka menganggap Rani tidak setia kawan alasannya kerena Ana." Jelas Ana lantang tanpa memikirkan apa yang harus di bicarakan.
"Mungkin mereka iri karena Rani bisa bangun kreasi sama Ana, pak. Apalagi kemarin kemarin Rani akrab sama mereka," lanjut Ana mencerocos pada pak Salwa.
Rani hanya melonggo mendengar kejujuran dan kepolosan hati Ana, Rani langsung menyikut tangan Ana. Tapi gadis itu keburu menghabiskan kata kata. Pak Salwa yang mendengarkan Ana hanya menggelengkan kepala, atas kejujuran gadis itu tentang kelakuan Mawar dan teman teman nya.
( Saya mengeluarkan kata kata itu pada pak Salwa habis saya kesal banget pada Mawar dan kedua temannya yaitu Cempaka dan Dahlia dan apalagi pengakuan dari Rani sendiri, sebenarnya saya pengen Mawar dan temannya di berantas ).
"Seharusnya bapak juga panggil Mawar biar dia bisa menjelaskan semuanya jangan seperti ini," desak Ana.
"Oke kita selesaikan masalah ini dengan cepat tapi kita harus lihat jam dulu kerena kita tidak mungkin menghabiskan waktu kerena kalian juga harus belajar," ujar pak Salwa menengahi Ana.
"Iya pak, saya setuju apa yang Ana maksud. Biar kegiatan yang saya dan Ana lakukan bisa berjalan lancar," timbal Rani mengangguk kerena bagaimanapun ia setuju banget dengan apa yang Ana ucapakan.
Belum sempat pak Salwa bicara secara terperinci tiba tiba jam pergantian pelajaran berdering dengan nyaringnya, mebri tahukan pada semuanya kalau jam pergantian telah tiba. Akhirnya Ana dan Rani pamit untuk ke kelas, karena memang jam sebelum istirahat ada gurunya. Pak Salwa mengiyakan mereka pergi, setelah cium punggung tangan pak Salwa mereka pergi ke kelas masing masing.
"Aku nyakin kalau mereka nggak akan mungkin menyadari semuanya,"
"Ya tapi bagaimana pun merka harus diingatkan mau sadar mau tidak itu urusan mereka." Ana menimbali.
__ADS_1
"Tapi apa pak Salwa bisa bantu kita?" Pesimis Rani.
"Insya Allah,"
"Semoga saja."
Kerena Rani sudah sampai ke kelasnya, akhirnya mereka berpisah.
"Kamu dipanggil pak Salwa sekarang!" Perintah Rani sinis pada Mawar dan kedua temannya.
Mawar dan keduanya saling tatap satu sama lainnya, ya Rani tadi diperintahkan oleh pak Salwa menyuruh Mawar dan keduanya menghadap pak Salwa sekarang juga. Tapi ketiganya hanya melonggo saja, Mawar yang tahu dirinya di panggil hatinya berdebar sangat keras, akhirnya dengan izin guru mapel ia langsung menuju ruang guru dan bertemu dengan kapsek secara langsung. Mereka bertiga langsung ke ruangan kapsek, sedangkan Ana dan Rani belajar dengan santai dan anteng.
( Saya tidak tahu kalau mereka bertiga dipanggil pada hari itu juga, saya kira Mawar dan tiga temannya dipanggil besok atau kapan tidak tahunya pada hari itu juga😊, bukannya menyadari kelakuan mereka pada saya dan Rani, malah mereka menjadi tulang dalam daging. Dan saya bersyukur kerena Rani tidak kembali pada mereka kembali ).
PLAK!
Ana harus menjerit kuat ketika pipinya dengan kerasnya di tampar oleh Mawar sepulang sekolah. Ana tidak menyangka kalau Mawar bakal melakukan itu pada dirinya, ia menatap wajah Mawar dengan tajam.
"Maksud kamu apa Mawar, nggak hujan nggak ada petir apa pun malah menampar," jerit Ana.
"Jangan muna ku Na, wajah polos tapi kamu yang jadi biang keladi!" Sembur Mawar.
"Muna? Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud kan? Jadi jangan buat aku berpikir atau mengisi teka teki," ketus Ana.
"Kamu kan yang melaporkan kalau ruang kreasi dirusak olehku?" Tanya Mawar tajam.
__ADS_1
Ana langsung diam seketika juga mendengar tuduhan Mawar sedangkan Ana sendiri tidak tahu apa apa masalah Mawar dipanggil oleh pak Salwa. Ia hanya melonggo saja.*
( Masalhnya saya yang mengusulkan kalau Mawar dan teman teman ya di panggil tapi saya tidak tahu kalau mawar dan teman ya dipanggil hari itu juga🤦🤦😂😂 ).