Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter


__ADS_3

Tahun 2002, usia 18 tahun lewat.


Ibarat seekor burung yang tinggal di hutan tiba tiba terbang menuju perkampungan. otomatis burung itu begitu takjub pada pemandangan yang indah di perkampungan yang indah dan nyaman.


Memang Ana lulus SMU langsung ke kota badak, kota yang sejuk kerena berada di bawah lereng gunung karang dan pulosari yang nyaman sekali. Berbeda dengan kampung halaman Anyang jauh dari keramaian kota Badak.


Begitu juga dengan Ana, baru tinggal di kota Badak ia dengan antusias nya langsung traveling kemana kemana mencari pengalaman yang membuat ia takjub melihat perkotaan yang ramai dan hiruk pikuk.


Beberapa kali ia sering menghabiskan waktu di toko buku di sekitar Ciceri indah. Kadang ia juga mengikuti keinginan hatinya menuju kota Baja. Sebuah kota yang berdiri gedung gedung pencakar langit. Pemandangan yang menurut Ana indah banget, apalagi melihat asap asap pabrik yang keluar dari cerobong asap.


Kerena tujuan hanya main main tidak ada arah dan tujuan gadis itu pulang lagi ke kosan. Sebenarnya Ana tidak betah kost di rumah kosan sekarang, banyak keanehan yang terjadi. Ia baru beberapa Minggu di kosan tapi seperti bertahun tahun tidak pulang, tapi anehnya saat ia jauh dari rumah kos ia begitu nyaman sekali, bebas dan bisa pergi kemana saja.


Ya itu adalah perjalanan singkatnya di kota badak, kota penuh dengan kenangan yang indah dan penuh warna. Akhirnya Agustus 2002 ia pulang ke rumah dsn menceritakan apa yang terjadi di kosannya pada orang tua.


Otomatis september 2002, Ana pindah kost ke rumah yang lain, sebenarnya betah keren ibu kos dan bapak kos nya menganggap dirinya anak, apalagi ia punya teman ngobrol seusia adiknya.


Biarpun di tempat baru Ana betah tapi kegiatan di kursus juga betah sekali, apalagi teman teman yang mulai menerima kegiatan yang Ana lakukan. Kadang juga melibatkan Ana dalam lomba, ya biarpun hasilnya nihil.


Biarpun pindah kos, petualangan nya tidak pernah lupa sama sekali. Ya ia menghabiskan waktu diluar jam kursus pergi ke Serang apalagi pasar royal, Rau atau alun alun Serang itu saja.


Dibandingkan gadis sebayanya Ana memang tidak suka kalau di kota itu ia bekerja, ia hanya bisa mengerjakan pekerjaan menulis itu saja.


Teman teman Ana yang lainnya tinggal di kota paling juga menjadi pekerja pabrik, ART dan sebagainya. Sedangkan gadis itu tidak mau sekali kerja, malah bisanya menghabiskan uang saja.*


Suatu hari Ida memberikan sebuah brosur.

__ADS_1


"Cocok dengan Ana mah yeuh!" ujar Ida langsung memberikan brosur itu pada Ana.


"FLP Depok." gumam Ana.


"Kalau nggak salah ketuanya mbak Helvi Tiana Rosa, adiknya Asma Nadia."


Tanpa sepengatahuan Ida, akhirnya besoknya gadis usia 18 tahun lebih itu mencari FLP Depok tapi nihil kerena FLP Depok berada di Jawa Barat.


'Ya Allah Kaskus saja di kota Pandeglang ini ada FLP, aku ingin jadi bagian anggota FLP,' bisik hati Ana perih.


( Saya tidak tahu kalau sebenarnya pada tahun 2002, Pandeglang juga sedang merintis FLP Cabang Pandeglang ).


Gadis pakai kacamata itu hanya menghela nafas kesal, kerena betapa susah mencari komunitas menulis dsn mengakui kalau ia juga penulis ya biarpun pemula. Ada perih dalam hati kerena ia tidak menemukan komunitas impiannya, ia bermimpi punya grup menulis, yang isinya menceritakan perjalanan menulis.


'Ya Allah, kenapa Kau berikan hamba kelebihan ini? Kalau Kau tidak memberikan hamba jalan yang hamba tempuh,' bisik hatinya sakit.


"Mau jadi penulis bagaiamana? Semua penerbit hanya menerima tulisan yang di print out dan disertai kaset."


Sedangkan untuk beli lempengan kaset itu harus merogoh uang yang tidak sedikit, apalagi harus di ketik di komputer apalagi ia sama sekali tidak punya komputer. Bisa di ketik di komputer tempat kursus itu sama saja menganggu orang yang mau belajar komputer.


Ia juga tidak bisa mengunakan jam kursusnya untuk menulis beberapa cerpen atau novel, jadi ia tidak bisa mengunakan saat ia berada di tempat kursus itu sendiri.


"Kalau lagi kursus jangan menulis diluar materi kursus!" tegur guru pembimbing yang membuat Ana akhirnya tidak menulis cerpen di komputer tempat kursus itu.


Sejak ditegur. Ana akhirnya tidak menulis di komputer tempat kursus lagi, ia hanya menulis di buku khusus kumcer.

__ADS_1


Kalau lagi kesel Ana sering pergi ke Serang borong buku, untung ia bisa menyisihkan uang jajan pemberian orang tuanya. Kerena di Serang hanya menyediakan majalah majalah akhirnya ia nekad ke kota baja membeli buku novel.


Tapi kalau dipikir banyak keselnya, kerena tidak punya fasilitas yang benar benar mendukung dirinya untuk jadi penulis, bayangan kuliah hanya lah mimpi saja. Tidak semudah yang ia pikirkan, dulu waktu masih duduk di SMU Pengan kuliah di Untirta sebuah kampus negeri di kota Serang.


Alasan bukan kerena ngejar karir. Tapi mengejar cowok ganteng dan tajir, apalagi omongan teman teman masih tersimpan didalam kalbunya.


"Na, kuliah di Untirta enak." ujar Ihah.


"Enaknya?"


"Cowok cowoknya ganteng ganteng plus orang tajir, kuliahnya bawa mobil bisa jalan ke puncak." jelas Ihah.


"Nu bener?"


"Iya, nggak bohong kok!"


Omongan Ihah selalu tersimpan dalam hatinya, siapa sih yang tidak ingin punya cowok ganteng, tajir melintir, bisa ke puncak, bisa tidur di vila.


Tapi Ana tidak pernah menjadi mahasiswi di Untirta, ya biarpun hatinya sih ingin sekali masuk Untirta hanya masih blank masuk jurusan yang diambil. Sebenarnya di Untirta juga ada fakultas pertanian, tapi anehnya keinginan untuk jadi sarjana pertanian menguap seiring waktu. Ya masih untung Ana hanya bisa sholat Dzuhur, Asyar, Magrib dan Isya juga Alhamdulillah😊 nanti tahun 2005-2010.


Kenyataan yang ada tidak semudah apa yang diucapkan, Ana benar benar tidak kuliah dam sekali. Tapi biarpun ia tidak ingin kuliah tapi ia ingin menggapai masa depan yang indah dengan menulis. Ya biarpun tidak semudah dalam khayalan.


Kesana kemari hanya mentok disisi lainnya saja, ditambah lagi lingkungan sama sekali tidak mendukung apa yang ia lakukan itu membuat frustasi saja.


Dan Ana masih keliling di sekitaran Pandeglang dan Serang tanpa arah dan tujuan sama sekali.

__ADS_1


"Kota Segede ini nggak kaya Depok nggak ada FLP nya lagi, kalau diizinkan ingin membangun FLP" bisik nya dalam hati.


( Kamu nggak tahu saja, sebenarnya FLP dan Rumah Dunia itu dibangun pertama kali pada tahun 2002😊 ).


__ADS_2