
Di kelas dua SMP itu lah Ana menemukan sebuah nuansa baru, ia menumpukan kembaran dari menulis. Ana sellau menuangkan ide ide kreatif melalui ide kreatif yang ia tulis.
BRAK!
Sebuah pukulan mengenai meja yang Ana tempati, gadis itu hampir saja jantungnya copot saking kagetnya, saat ia melihat dia orangnya ia geram sekali kerena Iwan ( samaran ) yang memukul meja yang ditempati Ana.
"Nulis Bae, Jeung naon nulis Bae, moal Aya duitan iyeuh ka cape cape! ( nulis saja, buat apa nulis saja dapat uang nggak malah cape! ). Teriak Iwan.
Cowok tangung itu merampas kertas yang Ana tulis, tapi gadis itu tidak tinggal diam ia langsung berdiri dan menghajar wajah Iwan.
BUK
BUK
BUK
Tangan gadis ABG itu beberapa kali menghajar wajah Iwan, sebenarnya Iwan juga tidak menyangka kalau Ana bakal memukul wajahnya dengan begitu cepat dan spontan, otomatis ia meraung kesakitan saat tangan gadis itu mengenai wajahnya beberapa kali.
Kalau tidak ada teman teman, mungkin Iwan tidak mungkin selamat oleh pukulan demi pukulan yang dilancarkan oleh gadis itu, Tan teman yang lain langsung melerai dsn menarik tangan Ana untuk menjauhi Iwan. Begitu juga dengan Iwan sendiri ditarik supaya tidak kena pukulan tangan Ana.
Wajah Iwan bank belur, ada luka di wajahnya. Iwan langsung dibawa ke ruang guru kerena wajahnya berdarah dan perlu perawatan.
"Kamu bertengkar sama siapa?" tanya Ibu Rina heran melihat Iwan yang babak belur.
"Ana, jadi cewek kok kasar!" sembur Iwan masih kesal.
__ADS_1
"Kamu pasti ganggu Ana deh! Dia kan diam diam juga kaya singa kalau marahnya." bela Adit ( samaran )..
Iwan langsung diam mendengar kata kata bela Adit pada Hadi tomboy itu. Sedangkan Ana sama sekali tidak luka apapun, hanya baju yang tadi dimasukan menjadi tidak karuan saja, serta kerudungnya terlepas kerena jarum pentul nya hilang kemana, akhirnya kerudungnya tidak dipakai lagi sampai pelajaran selesai😂😂🤦.
( Yupz di SMP kelas 1 sampai 3 memang pakai kerudung, tapi baju dan roknya pendek. Tapi kalau pulang sekolah sering dibuka kerena udaranya panas sekali jadi gerah ).
"Na, kerudungnya mana? Kok nggak dipakai?" tanya bu Rina menatap Ana heran.
"Gerah Bu habis nonjok si Iwan." Ana cuek menjawab seadanya..
Ibu Rina hanya mengelangkan kepala mendengar jawaban dari Ana, ia tahu memang kalau Ana itu cuek tapi mendengar jawab gadis itu ibu Rina benar benar gemes banget. Akhirnya Ibu Rina saja dan melanjutkan pelajarannya kerena kalau ia bicara pasti Ana bakal tudks bakal menuruti untuk pakai kerudung.
"Ih amit amit punya istri kaya dia!" Iwan merinding.
"Makanya jangan diganggu tuh cewek singa." tambah Adit.
Udah wajah bebek belur, perut di tendang, pinggang dan kaki juga. Kalau dibayangkan benar benar mengerikan sekali, sampai ia juga sakit gara gara gadis singa itu.
Iwan terdiam membisu saat mendengar cerita Adit, memang ia tidak tahu kalau Ana seperti itu kerena ia juga siswa baru di SMP itu. Ia hanya tahunya kalau Ana menulis saja dan tidak ada kerjaan lainnya. Sebenarnya ia hanya jail dan iseng saja eh tidak tahunya malah ia jadi korban gadis singa itu..
"Kapok, kamu Iwan. Jangan sekali kali bikin singa bangun ya," canda Faisal ( samaran ).
Iwan langsung memukul Faisal dengan pelan. Tanpa diketahui oleh mereka bertiga, gadis berkacamata itu hanya mendengarkan apanyang dibicarakan oleh ketiga temannya itu..Ia tidak menghampirinya, keren tadi ia ke kantin dsn tidak sengaja mendengar percakapan itu, hatinya ada rasa bersalah pada Iwan tapi ia hanya diam saja tidak meminta maaf pada Iwan dsn Adit.
Apa yang dikatakan Adit pada Iwan memnag benar ia telah melakukan kejahatan pada Adit keren salahnya sendiri yang telah menyembunyikan sepatunya. Dsn ia mendengar kalau Adit hanya bercanda saja tapi kenyataannya ia malah berbuat jahat pada Adit.
__ADS_1
Ia hanya menelan ludah tanpa haus mendengar obrolan ketiga cowok itu, apalagi kata kata Iwan Ih amit amit punya istri kaya dia tapi Ana hanya diam dan meninggalakan mereka ia langsung ke kelas tapi kerena kelas ramai oleh anak anak akhirnya ia langsung menuju perpustakaan untuk membaca buku. Kerena disana banyak buku buku cerita.
Ana menghabiskan waktunya dengan membaca buku, kerena kebiasaan membaca buku sambil tiduran akhirnya gadis berkacamata itu malah tidur, ya saat itu ia memang sedang istirahat kedua. Istirahat kedua pada jam 12.00-13.00, waktu seperti itu waktunya tidur apalagi ada semilirnya angin yang masuk akhirnya Ana tertidur tanpa diketahui oleh semua orang.
Tas dan atk milik Ana masih ada ditempat, semua guru dsn siswa menyangka kalau Ana kabur pulang ke rumahnya tapi nyatanya ia malah tidur dengan lelap tanpa diganggu oleh siapa pun juga.
Pas bangun ia terkejut kerena sekolah sepi sekali, ketika dilihat jam yang ada di perpustakaan matanya Ana terbelalak, tidak terbelalak bagaiamana kerena jam telah menunjukan pukul 15.00. Akhirnya ia pulang dengan memanjat ke jendela perpustakaan dengan mengunakan meja dan kursi, sedangkan untuk sampai ke luar perpustakaan akhirnya ia lompat begitu saja. terjun.
Pintu jendela ia tutup kembali. Dan ia berjalan pulang dengan jalan kaki dengan jarak tempuh 1,5 km sampai rumahnya. Sampai rumah jam 16.00.
"Ana bobo di perpustakaan,"adu Ana pada ibunya waktu ia pulang terlambat ke rumah.
Ibu Tri hanya mengelangkan kepala saja mendengarkan apa yang diceritakan oleh Ana, untung ia bisa pulang dan bawa tasnya ke rumah jadi ia tidak bakal memikirkan tasnya yang di sekolah.
"Na, masa sekolah tidur sih! Seharusnya belajar!" seru ibu Tri menatap putrinya..
"Habis pelajarannya banyak nggak suka, Bu. Apalagi matematika malah terakhir jadi malas mikirnya, "Dengus Ana sambil menyimpan tas dsn bajunya dikasih gantungan sedangkan sepatu di simpan di rak.
"Nggak, pas istirahat malah tidur, ngantuk." jawab polos Ana.
Anak pertama itu langsung menghampiri meja makan dan makan masakan ibunya yang lezat dan enak. Ya biarpun hidangan sederhana juga tapi membuat Ana menikmati nya, apalagi ibu masak sayur asam, ikan asin peda, sambel terasi, tempe dan nasi yang masih panas.
"Ana belajar yang benar, biar bisa kuliah." ujar ibunya sat Ana makan.
"Ana punya cita cita apa?" tanya ibunya kembali.
__ADS_1
"Entah Ana nggak punya cita cita sih!" ujar Ana cuek.
Saat ini ia tidak punya keinginan apa apa untuk hidup dimasa depan, ia juga belum memikirkan untuk jadi apa tidak pernah kepikiran sebenarnya. Tapi kalau ditanya masa depannya ia pasti jawab ingin hidup di kota.*