
Argh!
Ana mengamuk! Tulisan yang dibuat olehnya betapa minggu lalu di laptop hilang dan lenyap seketika juga ia terduduk di sudut tembok dengan perasaan yang tidak dilukiskan sama sekali.
Di bibirnya terdengar tangisan kecil yang terdengar. Ia benar benar tidak menyangka kalau semua yang ia buat sia siap belakang, sudah cape menulis, hampir di kirim pas dibuka semua cerpen ya hilang tanpa bekas sama sekali.
Ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada komputernya yang tiba tiba seperti itu, dengan isak tangis di bibirnya, ia melihat komputernya dengan perasaan yang tidak karuan sama sekali.
"Ana kenapa?'' tanya ibu Tri yang mendengar tangisan putrinya.
"Bu, hiks hiks hiks," tangis Ana pecah seketika juga.
Gadis itu langsung memeluk tubuh Ibunya dengan erat, sedangkan ibu Tri hanya termanggu ia tidak mengerti kenapa Ana menangis seperti itu, keren anaknya belum cerita apa apa jadi wajar kalau ia tidak tahu masalah yang dihadapannya.
Ana masih menangis, gadis itu melepaskan pelukannya dari pelukan ibunya. Ana berusaha untuk menahan tangis yang masih ada sisanya, ibunya mengelus bahunya dengan lembut.
"Cerpen Ana hilang semuanya Bu, entah kenapa?" terbata bata Ana menceritakan apa yang terjadi pada dirinya..
"Kok bisa hilang begitu?" tanya ibu Tri heran.
Ia sama sekali tidak tahu apa apa masalah komputer, dan yang mengunakan komputer itu hanya Ana senditi tidak ada orang lain yang mengunakannya. Ana.hanya mwngelangkan kepala saja, seingatnya ia kalau menulis selalu di save kalau selesai menulis.
Apa yang ia buat sama sekali sia sia kerena apa beberapa cerpen, dan satu novel yang judulnya Memetik Ketulusan Cinta. Salah satu novel itu yang bakal ia kirim tapi nyatanya dia sia belakang saja. Sudah lelah membuat tulisan tapi hilang begitu saja.
Tapi ada juga yang sempat di save di disket. Akhirnya dengan sisa reruntuhan hatinya ia bangkit dengan pandangan yang aneh. Dengan hati yang masih tercabik dengan lemas nya ia akhirnya membuat kerangka tulisan Memetik Ketulusan Cinta.
Memang itu sebuah novel penuh imajinasi tapi kan itu ide dirinya yang menulis dsn menuangkan tapi nyatanya sia sia saja.
"Semua penulis begitu Ana, bukan hanya Ana saja, tapi Ana semangat ya menulis." rangkul Najwa memberikan semangat buat Ana.
__ADS_1
"Iya teh, insha Allah. Cuma Ana kesel saja udah cape cape menulis," rintih nya.
Najwa dengan hangatnya memeluk tubuh Ana sepeti memberikan motivasi pada gadis asal Ranca Jaya itu.
Ya biarpun hanya curhatan kecil tapi dikala Najwa begitu perhatian dan memberikan motivasi untuk Ana supaya tetap semangat. Ya mereka sering bertemu biarpun satu minggu sekali juga, itu juga hanya di Rumah Dunia.
Ya Ana sekarang lagi masa belajar selam tiga bukan berturut turun belajar tentang cerpen, jurnalistik, novel, puisi, essai dan artikel. Biarpun masih awal belajar cerpen tapi Ana malah ingin membuat novel.
( Novel pertama dibuat ketika tahun 2021 di aplikasi noveltoon diambil dari kumcer yang ia buat dengan judul yang sama hanya cerita dan tempatnya berbeda dengan cerpen nya ).
"Kenapa teh, Ana kalau bikin novel itu kemana mana?" keluh gadis itu pada Najwa.
"Maksudnya?"
"Konfliknya banyak!"
"Kalau novel memang konfliknya banyak Ana, nggak fokus,"
Ana sebenarnya ingin membuat novel diterbitkan ke penerbit tapi selalu gagal entah kenapa, ia juga tidak tahu sama sekali. Tapi kalau ingat apa yang Najwa katakan ia hanya bisa menghela nafas kasar saja..
"Intinya harus ada orang dalam."
Sedangkan Ana sendiri tidak punya orang dalam sih apalagi mengenal salah satu orang yang ada di dalam penerbitan. Mendengar kata orang dalam hati Ana terasa hampa kerena mustahil seorang Ana bisa menghasilkan novel yang terbaik. Sebenarnya keinginan Ana baik sekali, untuk menerbitkan ke penerbit Gramedia, Mizan dan banyak lagi.
Akhirnya kerena penerbitan selalu menolak tanpa konfirmasi dulu akhirnya Ana banting setir menulis di sekitar Banten saja. Yupz di Banten ada Kaibon dan Radar Banten, ia akhirnya menulis di Kaibon. Tapi tetap tidak ada yang dimuat sama sekali. kesel, putus asa, menyelimuti hati Ana.
Tapi tanpa hujan dan angin tiba tiba Ana mendapatkan SMS yang mengatakan kalau cerpen Ana dengan judul BLT dimuat di tabloid Kaibon.
"Sebenarnya cerpen kamu nggak layak dimuat, kerena tidak sesuai dengan tema yang ada di Kaibon. Saya sarankan cerpen yang kamu buat sebagai langkah kamu untuk termotivasi. Cuma aku mengikuti saran Langlang Randhawa saja supaya cerpen mu masuk Kaibon."
__ADS_1
SMS itu masuk dari hp Ana. Mata gadis itu berbunyi bukan dari kata kata yang dikirim, ia terharunya bisa melihat karya sendiri di muat di Tabloid Kaibon.
Ya An sadar kalau tema dari cerpen yang ia buat sebenarnya tidak cocok dengan tabloid Kaibon yang mengusung tema tentang keluarga sedangkan cerpen dirinya bertema tentang remaja, yang membutuhkan biaya sehari hari.
Ya biarpun begitu ia senang sekali cerpennya dimuat. Dan itu adalah awal untuk tetap menulis.
Ana hanya bisa mengangguk melihat dan membaca SMS dari editor Tabloid Kaibon. Dan itu juga yang membuat Ana mendapatkan uang dari honor menulis ya biarpun sedikit tapi lumayan buat ke warnet.
"Jangan bosen menulis, kalau Ana serius untuk menulis insya Allah bakal ada jalannya." nasehat pak Mamat saat Ana curhat masalah cerpen yang dimuat di Kaibon.
"Iya, pak. Ana bakal menentukan langkah Ana sekarang," ujar Ana menatap bapaknya.
"Bagus Na, insha Allah Ana bakal sukses dengan menulis," dukung Anton waktu itu memberikan semangat melalui SMS.
Satu yang membuat gadis itu bersedih kerena Anton orang yang memasukan Ana ke Tralis malah tidak bisa melihat Ana berhasil, tapi dukungan dan motivasi Anton tetap hadir dalam kehidupan Ana selamanya..
(Alhamdulilah sampai sekarang saya dsn Anton masih berkomunikasi terus ya biarpun saya dan kak Anton beda pendapat juga, tapi semuanya saling mengerti satu sama lainnya ).
"Kak, tanpa kakak, Aan bukan apa apa," SMS Ana.
"Bukan kakak yang membuat Ana berhasil tapi itu semua yang ana lakukan pada diri sendiri, Ana lah yang bekerja keras." jawab Anton dengan tulusnya.
"Iya, tapi tetap saja kak, kakak adalah orang yang selalu dukung Ana."
"Kakak seneng bisa melihat Ana seperti sekarang, tetap menulis ya."
Ya Anton hanya tinggal beberapa bulan sih di rumah gadis itu kerena kontrak kerjanya selesai. Dari Januari sampai Desember 2005 ia kos, akhir Desember Anton meninggalkan rumah dan di ganti oleh Ila asal Kadujawer Labuan.
__ADS_1
Kaku sama Ila memang akrab sekali, kerena mungkin sama sama perempuan.