
Sinar mentari pagi masih malu malu kucing untuk menampakan wajahnya, sedangkan burung Berung kecil berlarian kesan kemari menyambut pagi yang sejuk apalagi tadi malam hujan turun bagaikan air yang ditumpahkan. Wajar kalau sang mentari malu malu mau keluar dari peraduannya, mungkin masih merasakan dingin. Tapi sang mentari tidak pernah ingkar janji pada bumi, biarpun malasnya ia tetap keluar dengan senyuman indahnya.
Ana seperti biasanya berangkat menaiki sepedanya untuk sampai ke sekolah. Tidak ada halangan dan rintangan yang dilalui Ana, angin pagi begitu sejuk sekali dan indah. pagi dibarengi dengan mentari pagi yang menghangatkan tubuhnya.
Ya kemarin Ana janjian bakalan ketemu kembali dengan Rani, mereka bakal bertemu di gerbang sekolah. Ana hanya tersenyum mendengar kata kata Rani kemarin, kerena kemarin kemarin ia sama sekali tidak pernah menerima kata kata itu dari Rani.
Ketika Ana sampai gerbang ia melihat Rani pun telah ada di gerbang, sepeda yang ia pakai di parkiran di halaman sekolah. Kerena memang parkiran sekolah luar tapi isinya hanya beberapa motor mungkin hanya 4 motor itu juga motor guru.
( Tahun 1999-2002 memang semua siswa sama sekali tidak ada yang membawa kendaraan, mereka malah mengunakan sepeda atau ojeg untuk sampai ke sekolah kadang juga jalan kaki itu paling yang rumahnya dekat dengan sekolah, tapi kalau sekarang banyak anak anak SMP dan SMA membawa kendaraan roda 2 untuk sampai ke SMP dan SMA nya ).
Setalah cipika cipiki mereka langsung masuk ke sekolah tapi sebelum ke kelas keduanya menuju ruangan kreasi itu yang diberikan oleh pak Salwa pada keduanya. Ruangan kraesi ukuran 4x4², isinya hanya tiga kursi dan dua meja. Tapi sebelum mereka masuk, keduanya tertegun sejenak melihat keadaan ruangan yang bagaikan kapal pecah.
Melihat pemandangan itu Ana shock sekali, Rani hanya bisa mengusap pungung Ana memberikan motivasi. Ya Rani juga sebenarnya terkejut melihat keadaan ruangan yang kemarin rapi kini bagaikan kapal pecah yang amburadul.
"Kamu tahu siapa yang melakukan itu?" Terbata bata Ana menanyakan pada Rani.
"Mawar dan teman temannya, aku nyakin kerja mereka nggak suka kalau aku berteman dengan kamu," kata Rani jujur.
Sebenarnya tanpa Ana ketahui Rani telah diancam oleh Mawar kalau Rani masih mengerjakan mading mereka bertiga bakal melakukan sesuatu pada apa yang dikerjakan oleh Ana dan dirinya. Jadi kenapa kemarin ia membawa semua berkas cerpen ke rumah hanya untuk menyelamatkan karya orang dari tangan Mawar.
Mendengar itu semua Ana ingin rasanya melakukan sesuatu pada Mawar, Rani mencegah Ana..
"Kenapa?"
"Na, kenapa dulu kau mengatakan kalau aku nggak berani mengungkapkan kalau aku suka menulis, kerena aku takut dibully seperti ini." Ungkap Rani menatap Ana.
__ADS_1
"Mereka jahat melebihi aku," lanjut Rani.
Ana hanya diam saja mendengarkan apa yang rani katakan, ia sama sekali tidak menduga kalau Mawar melakukan itu pada dirinya kembali biarpun Rani ada di sisi dirinya, Ana menghempaskan tubuhnya ke kursi begitu juga dengan Rani.
"Terus kita bagaimana?" Tanya Ana.
"Kita jalani semuanya ini, biar mereka mengonggong juga yang penting khafillah berlalu." Hibur Rani.
Ana hanya menghelal nafas mendengar apa yang Rani katakan ia sama sekali tidak menyangka kalau Rani bakal mengatakan itu pada dirinya. Ya kemarin kemarin Rani yang selalu ganggu dirinya sekarang Rani yang memotivasi dirinya.
Dunia benar benar lucu.
"Kita lapor pada pak Salwa." Ujar Rani..
Rani juga duduk di depan Ana sambil menghela nafas kasar. Ia masih ingat kejadian beberapa minggu sebelum ruangan kreasi seperti ini, ya Mawarlah yang membuat ruangan kereasi rusak. Memang Ana tidak tahu masalah Mawar dan Rani, jadi ia sama sekali tidak punya pikiran buruk sama Mawar sama sekali. Kerena ia melihat Mawar tidak menganggu dirinya sudah bersyukur, Ana kira waktu itu Mawar gudang ganggu dirinya kerena Rani juga tidak menganggu Ana. Dan dugaan Ana salah besar.
Kerena Mawar melihat Rani gabung ke Ana dan yang paling dekat ia melihat Rani bangun tempat kreasi dengan Ana bukan dirinya, otomatis Mawar dan kedua temannya langsung mendatangi Rani bukan Ana. Jadi Ana tidak tahu apa apa masalah itu, kerena Mawar yang mencegat Rani bukan Ana.
"Ran, aku nggak suka ya kalau kamu berteman dengan Ana!" Teriak Mawar ketika ia dan Ana membangun kereasi bersama.
"Kenapa? Kamu udah aku ajak tapi kenapa kamu menolaknya? Tanya Rani menatap wajah Mawar tajam.
Ya sebenarnya Rani telah mengajak teman temannya untuk membangun kreasi bersama sama, tapi Mawar dan kedua temannya tidak mau terima ajakan Rani. Malah Mawar menjauhi dirinya pada Rani, otomatis ia tidak mau memaksakan Mawar dan teman temannya yang lain.
Rani langsung mengatakan kalau Mawar sendiri yang menolak dirinya bukan tidak diajak. Mawar waktu itu langsung terdiam seketika juga mendengarkan kata kata Rani. Apa yang dikatakan Rani sebenarnya benar, tapi dirinya saja yang menolak ajakan Rani.
__ADS_1
"Sekarang aku tanya dimana letak kesalahan yang aku perbuat?" Tanya Rani pads Mawar.
"Oke kamu menang sekarang tapi aku nggak suka ya kamu berteman dengan Ana." Ujar Mawar sinis.
"Nggak jadi masalah kalau kamu nggak suka, tapi aku harapkan kamu jangan ganggu apa yang aku lakukan dengan Ana, kalau sampai kamu ganggu apa yang aku lakukan tahu akibatnya." Ketus Rani.
"Kalau kamu seperti ini aku dan teman teman bakal melakukan sesuatu terhadap apa yang kamu kerjakan dengan Ana!" Sengit Mawar sinis.
Mawar mengatakan itu sambil menatap dan menunjukan jari tangannya di hadapan Rani yang berdiri, Rani yang tidak gentar langsung menepiskan tangan Mawar.
"Siap takut, memangnya aku takut terhadapmu, silahkan apa yang ingin kamu buat denganku," tegas Rani memandang wajah Mawar.
Ia menentang apa yang Mawar katakan lada dirinya.
"Kamu bakal melihat apa yang aku dan teman teman lakukan terhadap apa yang bakal terjadi di ruang kreasi," sembur Mawar.
"Silahkan apa yang kamu lakukan aku nggak pernah berhenti dengan apa yang aku dan Ana lakukan," tekan Mawar.
Sebenarnya hati Rani mengatakan itu takut kalau apa yang bakal terjadi pada dirinya pasti itu ulah Mawar bukan yang lain. Apalagi mendengar ancaman demi ancaman yang terlontar dari mulut Mawar. Mendengar itu semuanya Mawar langsung meninggalkan Rani yang menatap wajahnya.
Rani tidak menceritakan pada Ana, ia takut kalau Ana mengetahui rencana Mawar yang bakal merencakan sesuatu pada ruangan kreasi mereka. Apa yang ditakutkan oleh Rani benar terjadi juga, ia hanya mengelengkan kepalanya saja.
"Ran, apa yang kau sembunyikan?" Tanya Ana menatap wajah Rani.
Dari tadi Ana merasa kalau Rani seperti menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Rani hanya mengelangkan kepala saja, ia mengusap tangan Ana lembut dan tersenyum manis.*
__ADS_1