Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 62


__ADS_3

Kita tinggalkan anak yang lima itu ya! Kerena ibu Ratih tidak marah pada lima orang anak yang masih mau belajar dengannya. Hatinya marah dan kesal pada siswa siswi yang kabur, dari jumlah 30 orang yang sisa hanya 5 orang jadi yang kabur 1 kelas itu 25 orang.


Pak Evi kepala sekolah yang melihat anak didiknya yaitu sepuluh orang berlarian langsung mengejar anak anak yang mau kabur. Ana yang melihat pak Evi mengejar langsung berteriak.


"Eh! pak Evi ngejar kita ayo takut di hukum nanti cepat!"


Teman teman langsung melihat ke pak Evi yang mengejar mereka, otomatis mereka langsung mempercepat larinya masuk ke pesawahan warga. Kerena jalannya licin dan pak Evi memang tidak bisa lewat jalan sawah otomatis ia jatuh berkali kali, kerena jalannya memang licin dan berair. Bukanya menolong yang sepuluh orang itu mereka malah tertawa melihat gurunya yang mengejar jatuh bangun seperti itu!


( Astagfirullah, kalau ingat kejadian itu hanya senyum saja, yupz saya dan teman teman tidak menolong pak Evi kerena takut dihukum merasa bersalah sudah kabur pelajaran ibu Ratih, maaf kan saya dan teman teman pak ).


Bukanya menolong tapi anak anak bandel itu langsung meninggalkan pak Evi di sawah. Ada kepuasan hati tergambar di wajah wajah anak remaja itu m, tanpa merasa bersalah mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah Lusi.


Sampai di rumah Lusi semuanya telah siap, ya bacakan hanya dengan sambel terasi, ikan peda, sayur asem, dan lalapan nya daun singkong rebus. Menambah nikmatnya makan, apalagi diselingi cerita tentang pak Evi, mereka tidak tahu kau paginya ke 25 orang itu dihukum dan 5 orang disuruh belajar dengan giat.


25 orang yang sekolah hari itu benar benar dihukum oleh pak Evi. Ana hanya diam saja saat dihukum tidak seperti kemarin tertawa melihat pak Evi jatuh dan bajunya juga kotor oleh lumpur dan air. Semuanya menundukkan kepala mendengarkan ceramah pak Evi, wajah kepala sekolah itu menahan emosi yang memuncak ke ubun ubun melihat anak anak bangsa seperti itu.


"Ana, Rani, Gugun, Fina, dan Ranty ( keempat orang nama samaran ). Kalian maju ke depan!" teriak pak Evi menyebut kelima orang yang ada di barisan 20 orang itu..


Kelima orang yang di sebutkan oleh pak Evi langsung memisahkan diri dari kelompok yang 20 orang itu, mereka mendekat ke tiang bendera, kelima orang itu berjalan menunduk saja kepalanya.


Pak Evi langsung berhadapan dengan kelima orang itu dengan tatapan wajah yang menyeramkan bagi lima orang anak itu, hati mereka berdebar dengan kencang sekali keren baru pertama ini mereka dihukum seperti ini.

__ADS_1


"Kalian itu hebat ya, seharusnya kalian anak guru yang jadi contoh tapi malah membuat onar. Kalian tahu kalau orang tua kalian juga pasti sering menghukum anak anak yang seperti kalian!" gema suara kak Evi.


Semua orang terdiam takut. Akhirnya pak Evi hanya mengatakan kalau semua guru di muka bumi ini pasti bakal menghukum anak anak seperti mereka yang tidak pernah mematuhi kedisiplinan di sekolah.


"Bapak nyakin kalau kalian anak guru dan bapak atau ibunya pasti lebih banyak menghukum anak anak yang kabur, nggak mau belajar, dan mensia siakan waktu belajar hanya untuk main."


"Bapak harapan dengan kejadian ini kan harusnya sadar kalian sudah kelas 2, seharusnya jadi teladan buat adik adik kelas lainnya, jangan seperti ini. Dan buat kalian hukuman kalian besok diberlakukan yaitu jangan terlambat masuk sekolah, belajar yang rajin." Lanjut kak Evi.


Dan selama 2 Minggu berturut turut kelima siswa siswi yang di panggil itu, harus membersihkan WC guru maupun siswa. Mau tidak mau akhirnya kelima nya membersihkan wc, pagi jam 06.00 lima siswa itu termasuk Ana harus stay bay di sekolah dan di jaga oleh penjaga sekolah kalau tidak ikut piket dilaporkan ke pak Evi. Ana dan keempat temannya tidak bisa berkutik sama sekali, ia dan teman temannya akhirnya selama 2 Minggu berturut turut membersihkan wc.


Setalah selesai dihukum, ibu Ratih pun malah menghukum Ana hanya seorang diri, ia menyuruh Ana merangkum pelajaran dirinya sedangkan teman teman yang lain tidak ada yang merangkum. Otomatis Ana kesal dan geram melihat kejadian itu, ya pikirannya kalau ini Ratih pilih kasih pada dirinya sedangkan pada yang lain sama sekali tidak diberi tugas merangkum.


Antara marah, kesal, geram yang dirasakan oleh gadis yang mengunakan kacamata itu tank melihat sisi positif dari hukuman yang diberikan oleh gurunya. Bukan itu saja ibu Ratih juga memberikan tugas yang menurut Ana berat yaitu harus membaca ulang tulisan yang setalah selesai merangkum.


Ana menurut saja kerena kalau tidak menurut pasti ia kena hukuman lagi. Dan rasa kesal, geram dan dendam pada ibu Ratih sirna seketika juga.


Pagi itu! Jam pertama di mulai. Pelajaran pertama adalah Ekonomi.


"Ana anak sekarang ulangan lisan ya," Ibu Ratih memberitahukan ulangan harian secara lisan.


"Bu, belum menghapal," teriak yang lain.

__ADS_1


"Iya, Bu. Minggu depan saja!"


"Bu, tulisan saja Bu!"


Teriakan demi teriakan menggema di kelas, banyak yang protes atas apa yang diusulkan oleh ibu Ratih, semua siswa banyak kecewa pada ibu Ratih. Kelas yang tadinya hening kini bagaikan pasar yang riuh kerena banyak yang datang.


Tok


Tok


Tok


Ibu Ratih langsung memukulkan penggaris besi ke meja dengan kerasnya kerena tiba tiba ruangan kela ramai sekali oleh teriakan dan pukulan meja anak anak yang protes pada usulan ibu Ratih tentang ulangan lisan bukan tulisan.


Hanya Ana yang diam saja, ya ia tadinya mau kabur ke luar sekolah tapi ketahuan ibu Ratih otomatis Ana digiring oleh ibu Ratih untuk masuk kelas, dan ketika ibu Ratih memberitahukan bakal ulangan, Ana hanya diam saja. Ia hanya garuk garuk kepala kerena ia juga tidak mungkin bisa mengisi ulangan apa lagi ulangan lisan, boro boro ulangan lisan, ulangan tulisan juga sama sekali bisa mengerjakan apa lagi ulangan lisan.


Jadi ia hanya menunduk saja, merasa bersalah kerena selama ini ia salah dan tidak pernah mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru gurunya. Otomatis ia mengaku kalau ulangan nya bakal jeblok.


Ia tidak seperti teman teman lainnya yang ribut kerena ia selalu membuat ibu Ratih marah dan kesal apalagi kalau ulangan lisan otomatis ia bakal kena marah kembali oleh ibu Ratih.


Tapi keputusan ibu Ratih tidak bisa digugat dan di tampik lagi, kelas itu dicekam ketakutan bisa bisa ulangannya tidak dapat nilai A, kerena untuk ulangan lisan semua siswa dikeluarkan dulu, nama dipanggil menurut abjad. Abjad A yang lebih dulu dan jangan sampai ke jauh kata ibu Ratih.*

__ADS_1


__ADS_2