
Di ruangan kreasi. Pagi hari mentari muncul dengan cerianya menghangatkan mahluk dibumi yang baru saja melakukan aktifitas. Seorang gadis berkacamata, dengan dandannya biasa saja, muka tanpa make up, gadis itu datang dengan muka yang ditekuk, ia membuka ruangan kreasi dan bukannya menyapu ruangan itu dengan sapu, malah duduk di kursi dekat meja kerja. Pandangan wajahnya lesu sekali. Matanya menatap susunan organisasi yang ada di atas dinding ruangan itu.
Beberapa kali terdengar helaan nafas di bibir Ana, lalu dihembuskan kembali. Kata-kata Rani kemarin masih terdengar jelas di telinganya. Ia sama sekali benar benar tidak menyangka kalau Mawar menuduh dirinya pacaran dengan Arya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk pacaran, oke untuk mengagumi cowok itu ia rasakan tapi lebih dari itu biasa saja.
Pengakuan Rani membuat dirinya merasa bersalah, kerena tanpa sengaja ia membuat Mawar cemburu 100%.
Ia benar benar shock mendengar pengakuan Rani tentang perasaan Mawar.
"Kamu tahu nggak Na sebenarnya dulu Mawar suka sama Bram tapi Mawar mundur kerena Bram mengatakan kalau kamu pacarnya." Kata Rani di kantin kemarin hari Jum'at.
Uhuk uhuk uhuk
Ana hampir tersedak. Mendengar pengakuan Rani kalau Mawar menyukai Bram, tidak kaget bagaimana ia mengingat Bram yang hampir saja menodai dirinya kerena Bram hanya mencintai dirinya secara nafsu.
Mendengar pengakuan dari Rani tentang Mawar yang juga suka pada Bram, ia hanya bisa melonggo menatap Rani tanpa berkedip, kakaunmau jujur apa sih yang dilihat dari Bram oleh Mawar? Oke lah kalau Mawar suka sama Arya, kerena Arya bintang kelas, pinter baca Al Qur'an, baik dan tidak merokok.
Bram? Kalau Ana ingat Bram lucu saja masa gadis seperti mawar suka sama Bram, kalau dibandingkan dengan Arya mungkin langit dan bumi sih bedanya.
"Mawar menyalahkan kamu, Na. Apalagi sekarang Bram tidak disini lagi," lanjut Rani.
Ana hanya menghela nafas kesal mendengar apa yang Rani katakan. Apalagi tentang masalah Bram yang menyukai dirinya, sebenarnya ia juga sudah tahu dari Melati kalau Bram suka ladanya. Tapi ia sama sekali tidak pernah mengubris sama sekali, dan makan pergantian tahun baru juga itu hanya rencana Bram hanya untuk menjerumuskan dirinya, itu yang Ana tahu dari Melati. Tapi malah Melati yang jadi korban nafsu Bram bukan dirinya, jujur membayangkan Bram rasanya mual.
Laki laki yang tidak pernah berpikir positif dan hanya ingin membuat wanita yang dicintainya merasa bersalah atau yang mengajarnya. Ya biarpun sekarang dekat sama Rani tapi ia sama sekali tidak menceritakan masalah Bram dan Melati pada Rani, takutnya menjadi gosip atau yang lebih keji fitnah.
Memang Melati hamil tapi teman temannya tidak tahu keadaan melati, boro boro teman teman ia juga sekarang tidak tahu melati dimana. Mungkin hanya sebagian saja yang tahu, tidak semuanya teman teman tahu.
__ADS_1
Dan sekarang kata Rani, Mawar suka sama Arya. Ana hanya bisa garuk garuk kepala saja, ia benar benar tidak menyangka kalau Mawar ada rasa, ia juga tidak menyalahkan mawar untuk suka sama sia saja tapi caranya yang salah. Kalau memang ia suka sama Arya kenapa Ana yang jadi korban dari mawar?
"Ran, kenapa kamu baru bilang sekarang kalau Mawar suka sama Arya?" Tanya Ana kemudian.
"Aku juga baru tahu seminggu yang lalu, waktu kamu dsn Mawar bertengkar di depan perpustakaan." Ujar Rani.
Rani mengatakan itu pada Ana ketika ia sengaja menanyakan Mawar ketika gadis itu sakit, pada Cempaka. Lalu tanpa diduga kalau Cempaka menceritakan kalau sebenarnya Mawar suka pada Arya hanya mawar tahunya kalau Arya sepertinya suka sama Ana.
Rani yang mendengarkan hanya melonggo untung tidak ada teman teman yang lain yang mendengarkannya.
"Ran, aku malah baru tahu dari kamu," cicit Ana.
Kala itu kalau saja Rani tidak mengatakan Mawar suka sama Arya, ia tidak mungkin tahu apa apa perasan Mawar. Dan Ana sekarang menduga kalau Mawar memanggil dirinya kemarin kemarin, hanya ingin membicarakannya tapi dirinya memang tidak tahu apa apa masalah kerasan Mawar.
Ketika Ana menanyakan kalau Rani tahu darimana kalau Mawar suka sama Arya, ia hanya menghela nafas. Ya kalau saja Mawar dari awalnya jujur mungkin tidak bakal terjadi seperti ini. Akhirnya gadis berkacamata ingin melakukan sesuatu pada Mawar. Ia hanya ingin menebus kesalahan dirinya yang telah membuat Mawar sakit.
Ya ia akhirnya tahu dari Cempaka sejak kejadian itu Mawar sakit dan seminggu tidak sekolah. Mendengar pengakuan cempaka hati Ana merasa bersalah tapi kerena dalam hati masih ada ego, ia membiarkan saja ego itu berkembang menjadi sebuah kebencian.
Gadis berkacamata itu masih ada di ruangan kreasi pikirannya keman mana apalagi kalau mendengar masalah yang menyangkut mawar. Ia hanya bisa menggelengkan kepala saja tidak menyangka kalau Mawar menyukai Arya. Sebenarnya kalau jujur ia suka suka tapi hanya sebatas teman saja bukan lebih, ia dekat juga merasa nyaman saja bukan kerja apa apa ( apa saya munafik ya🤔😂🤠).
Rani yang datang ke sekolah langsung ke ruangan kreasi ia hanya tertegun melihat Ana sedang diam begitu saja tanpa memperdulikan dirinya datang. Ia berusaha mengengik pintu, supaya Ana menyadari kedatanganya tapi gadis itu malah diam saja seperti tidak pernah mendengar ketukan pintu.
Akhirnya Rani menghampiri Ana dan ia duduk di dekat Ana tapi orang yang didekati Rani tidak bergerak apa apa, Rani hampir memukul Ana kerena tidak ada reaksi sama sekali mungkin saking gemasnya😂😂.
"Hai ngapain melamun." Usik Rani yang melihat Ana diam saja.
__ADS_1
Ya dari tadi sebenarnya Rani melihat Ana diam saja tatapan matanya kosong kearah depan, dari tadi Rani sudah ada di ruangan itu tapi gadis berkacamata seperti tidak menyadari. Akhirnya Ia mengusik Ana yang hanya begong menatap tempelan kertas yang ditempel teman teman di Mading ).
"Aku hanya mikirin Mawar?" Celetuk Ana..
"Kok mikirin Mawar?" Tanya Rani.
"Apa aku ngomong saja kalau aku bukan siapa siapa Arya."
"Boleh,"
"Apa dia bakal percaya?"
"Entah kan belum dicoba,"
"Na, kamu harus pikirkan yang bakalan terjadi. Jangan terburu buru nanti menyesal, kamu udah bilang jujur kalau Mawar nggak percaya bagaimana pada kamu?" Coleteh Rani.
Ana langsung diam seketika juga mendengar apa yang diomongkan Rani, apa yang diomongkan Rani memang benar adanya, bukannya ia takut tapi menjaga diri dari hal hal yang tidak baik. Apalagi menurut Rani, antara ia dan Mawar masih ada sangkut paut yang belum beres, bukannya membaik malah menjadi runyam.
Ana hanya mengangguk akhirnya setelah mendengar penjelasan dari Rani, apa yang dikatakan Rani benar juga sih. Apalagi ia dan Mawar telah beberapa kali bertengkar, kalau ia misal jujur tidak mungkin Mawar mudah percaya begitu saja.
"Terus bagaimana?"
"Seharusnya menurut aku ya, kalau memang Mawar penasaran sama Arya seharunya ja bilang saja baik baik atau mendatangi kamu bicara dengan baik, bukan kamu yang datang ke Mawar.
Ana mengiyakan apa yang dibicarakan oleh Rani.*
__ADS_1