
BRAK
Sebuah kayu kecil mendarat di meja, akibit dipukul.oleh pak Salwa. Keempat gadis itu hanya menunduk sekatika juga mendengar pukulan yang keras sekali. Pak Salwa sangat marah sekali mendengar mengadukan dari Mawar ya gadianitu dengan takut takut melaporkan kejadian kemarin pada pak Salwa.
Tanpa sepengetahuan Ana, pagi itu ia mendatangi ruang kepala sekolah, mendengar pengaduan itu pak pak Salwa selaku kepala sekolah sangat murka apa yang ia dengar dari Mawar. Sebenarnya gadis itu juga takut tertuduh juga sebenarnya, jadi ia langsung melaporkan sebelum ada yang melaporkan apalagi kejadian kemarin Ana yang menampar pipinya, membuat kekacauan di kantin.
Sebaliknya Mawar menceritakan apa yang terjadi kemarin siang di kantin, keributan itu terjadi kerena ruang kreasi tidak berkas cerpen dibakar semuanya oleh orang tersebut. Mawar juga menceritakan kejadian sore pas ia menyelidik kalau yang merusak berkas cerpen adalah Ria, tapi ia juga tidak menceritakan motif Ria merusak ruang kreasi.
Kapsek itu hanya mendengarkan apa yang diceritakan Mawar, satu sisi lain ia sangat kagum mendengar Mawar yang bisa meringkus Ria. Ya kemarin sebenarnya ia tidak sekolah, ada keperluan yang mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Sebenarnya Mawar dalam situasi aman sih biarpun ia dipanggil juga, ia aman. Kalau misal dipanggil tinggal berkata jujur saja, tapi Mawar tidak melakukan hal itu.
Pagi tadi ia melihat pak Salwa masuk. Sebelum bel berdering Mawar sendirian menuju ruangan kepala sekolah untuk bicara masalah kejadian tadi sore ba'da asyar yang melibatkan Ria.
Mendengar apa yang Mawar katakan wajah pak Salwa sangat merah padam, ia tidak menyangka kalau Ria bakal melakukan itu apalagi ayah Ria adalah teman baiknya. Tanpa menunggu waktu lagi pak Salwa memanggil Ria, dan Ana maupun Rani, Mawar hanya mengangguk saja ia pun meninggalkan ruangan kepala sekolah sampai disana ia bicara sama Ria kalau Ria dipanggil oleh pak Salwa.
Ria hanya menatap ragu kearah Mawar tapi ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Sedangkan Ana, Rani dan Mawar hanya mengangguk. Ketiganya langsung meluncur kesana hanya ingin melihat apa yang terjadi.
Sedangkan Cempaka dan Dahlia hanya mengangkat kedua bahunya saja tanda tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi. Akhirnya kerena.ingin tahu keduanya langsung menuju ruang guru.
Sedangkan Ria yang sudah masuk ke ruang kepala sekolah langsung disuruh duduk, dan tudan lama kemudian tiga gadis datang dan duduk juga di hadapan pak Salwa yaitu Ana, Rina dan Mawar.
__ADS_1
Belum sempat mengatakan apa apa, pak Salwa dengan langsung berdiri dengan tenangnya, berjalan di belakang muridnya yang saling menunduk. Hati keempat gadis sebenarnya berdebar sekali, kalau dipikir memang kejadian kemarin siang mereka tidak tahu apa apa yang paling fatal Ana menuduh tanpa bukti sama sekali.
Dan membuat keributan pada kantin. Sedangkan Mawar sebenarnya yang begitu tenang kerena ia tidak pernah melakukan kesalahan sejak kejadian kacamata Ana pecah olehnya. Tapi biarpun begitu, ia juga cemas kerena pernah melakukan kerusakan di ruang kreasi dan yang ia takutkan pasti bagaimanapun ia pasti terbawa arusnya dsn pak Salwa takut tidak percaya kalau ia sekarang mulai insaf.
"Ria, kenapa kamu lakukan itu?" Tanya pak Salwa menatap punggung Ria yang menunduk.
Rian tidak menjawab ia hanya menunduk saja, ia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Ketiga temannya juga diam mereka hanya melirik kearah Ria..
"Bapak sebenarnya harus melakukan apa pada kalian, dulu kejadian Rani, Mawar dan kini kamu Ria, sebenarnya apa yang kamu lihat? Kenapa?" Lanjut pak Salwa sambil kembali duduk di kursinya..
Ditatap wajah keempat anak didiknya dengan kasih sayang. Ya bagaimana juga mereka ini adalah anak anaknya, yang harus ia bimbing dan arahkan tapi kenyataan tidak demikian.
"Bapak nggak mau mendengar apa yang terjadi lagi, Ria kamu harus minta maaf pada Ana dan semuanya!" Teriak pak Salwa benar benar marah dan emosi membuat tubuh Ria sangat bergemetar mendengar suara pak Salwa sendiri.
Setalah meminta maaf keempatnya langsung masuk kedalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang diberikan guru mapel. Ya biaroun Ana kurang fokus kerena kejadian tadi di ruang kepala sekolah tapi ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan guru tentang ilmu geografi.
🐝
Biarpun masalah ruangan kreasi selesai kerena tidak ada yang main ulah lagi, tapi masalah Ria yang mengejar Ana masih belum selesai sampai disitu.
__ADS_1
PLAK
"Ria sadar apa yang kamu lakukan itu melampaui batas!" Teriak Ana keras.
Ana hanya ingin kalau Ria.menyadari apa yang terjadi pada dirinya tapi tetap saja Ria tidak pernah sadar dan selalu membuat Ana gelisah.
Ana menyesal sangat menyesal kerena tadi jam 10.00 ke sekolah kerena hari itu hari minggu libur sekolah. Sebenarnya ia ke sekolah ingin sekali memeriksa berkas cerpen yang ketinggalan olehnya niatnya kemarin mau dibawa dan di periksa kembali eh malah ia lupa, dan kemarin sore akhirnya diputuskan mau ke sekolah tapi hujan malah turun dengan lebatnya. Akhirnya ia tidak jadi ke sekolah sore itu karena hujan baru berhenti badza lsya.
Akhirnya paginya dengan menaiki sepeda nya Ana pergi ke sekolah dengan pakaian masih seperti dulu, kaos tangan pendek serta celana panjang warna hitam, rambut diikat dan ia mengunakan topi warna senada dengan celaannya.
Pas ia sudah sampai langsung menuju ruangan kreasi yang tertutup rapat, ia merogoh sakunya untuk mengambil kunci yang ads di kantong celana.
BRUG!
Suara pintu seperti ditutup terdengar dengan jelas sekali, dan suara kunci yang dikunci didalam. Gadis berkacamata langsung melihat apa yang terjadi di belakang, Ana terkejut sekali melihat Riantiba tiba ada di ruangan itu dengan pandangan matanya yang jelalatan melihat Ana sendirian.
Bisa saja ia berteriak tapi akan sia sia kerena tidak akan kedengaran apalagi kantin berada di belakang sedangkan ruangan kreasi didepan.
Ria mendekati Ana dengan senyuman kemenangan, hati Ana benar benar was was, apalagi ia sendirian di ruangan itu hanya berdua dengan Ria. Waktu Ria akan menerjang Ana tapi Ana bisa menghindar dari Ria.
__ADS_1
Iangsung menampar muka Ria dengan kerasnya, ya saking takutnya Ana berhadapan dengan Ria. Akhirnya tanpa melihat situasi kembali, Ana melayangkan tangan kanannya kearah Ria. Gadis itu menatap wajah Ana dengan menyeringai, biarpun wajahnya telah di pukul tapi gadis itu tetap mendekati Ana dengan berlahan membuat ia terpojok.*