Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 74


__ADS_3

"Semua perjuangan harus diperjuangkan Ana. Semuanya butuh proses." kata Pak Mamat menasehati Ana.


Pak Mamat terkejut ketika melihat Ana balik lagi ke sekolah, ia sebenarnya akan berangkat tapi waktu akan berangkat ia melihat putri pertamanya datang dengan menangis. Ia langsung menyongsong putrinya, saat Ana turun dari sepedanya ia langsung memeluk tubuh pak Mamat sambil menangis.


Pak Mamat hanya diam saja saat putrinya menangis dalam pulang dirinya, ia membiarkan Ana menangis lebih dulu dan tidak menanyakan alasan apa apa pada Ana..


Setelah melihat Ana tenang, pak Mamat melepaskan pelukan Ana dan menatap wajah Ana dengan tajamnya. Ana masih berusaha untuk berhenti menangis.


Setelah selesai menangis Ana terbata bata menceritakan apa yang terjadi lada dirinya sewaktu berangkat ke sekolah, pak Mamat hanya mendengarkan saja cerita Ana. Ia hanya menghela nafas panjang saat mendengar Ana menceritakan kalau ia di pukul dan sepedanya masuk parit, sepeda yang Ana bawa juga semuanya kotor sekali.


Setalah menceritakan semuanya pak Mamat hanya berkata kalau sebuah perjuangan harus di perjuangkan kerena semuanya butuh proses yang benar benar matang sekali. Mendengar kata-kata pak Mamat, Ana hanya mengangguk saja. Ya gadis itu mengerti kerena setiap perjuangan dan proses lah yang kita akan lalui jadi tidak selamanya proses itu gampang.


Setiap manusia itu harus mempunyai proses untuk mendapatkan hasil jangan melihat dari hasilnya, kerena.hasil bisa didapatkan kalau proses yang kita jalani itu lebih baik. Ana mengangguk apa yang dikatakan oleh bapaknya tentang sebuah keberhasilan butuh proses yang menentukan adalah kita sendiri.


"Wajar disaat kita melakukan proses itu disana ada perjuangan yang Ana harus jalani." kata pak Mamat lagi.


"Tapi kenapa pak orang lain kadang hanya ingin melihat hasilnya misal si A sukses tapi si B tidak menyakan proses yang harus dijalani si A." Tanya Ana.


"Kerena orang lain itu hanya ingin melihat hasilnya bukan prosesnya." jawab bapaknya Ana.


( Sekarang saya mengerti, kenapa Rani bisa menulis kerena saya nyakin kalau Rani berproses dulu. Dan disaat itu saya baru berjalan atau merangkak, sedangkan Rani secara diam diam telah bentak berkarya tanpa orang lain tahu ).


Akhirnya pembicaraan Ana dan bapak terpotong kerena bapak pergi ke sekolah, sedangkan Ana tidak masuk sekolah hari itu, sebenarnya pak Mamat akan mengantarkan Ana ke sekolah, tapi gadis itu menolaknya secara halus. Pak Mamat tidak mau berdebat dengan Ana akhirnya ia meninggalkan rumah sedangkan Ana sendirian di rumah.


Tapi biarpun sendirian Ana mengunakan waktu menulis di kamar, dinding kamar telah penuh oleh tempelan kertas yang isinya semua puisi, maupun cerpen.


"Kamar cerpenis,"

__ADS_1


Kata kata itu terhiang hiang di telinga Ana. Kata kata ibu Tri pada putrinya yang pertama.


🐝


PLAK


BUG


Ana tanpa ba bi bu lagi menghajar Rani dan Mawar di sekolah dengan tanganya. Kedua gadis itu kaget dan tidak menyangka kalau Ana datang langsung menghajar kepala mereka, mereka berdua kewalahan seketika kerena mereka tidak menyangka kalau Ana bakal memukul wajah mereka.


Ana benar benar tidak memberi ampun pada Mawar dan Rani. Ana tidak tahu keberadaan cempaka dan Dahlia, jadi sasarannya pada keduanya.


Pagi itu! Ana sengaja ke sekolah pagi hari, apalagi pagi itu cuacanya cerah sekali, mentari pagi muncul dengan riang sekali apalagi melihat burung burung yang mungil yang bernyanyi dengan riangnya.


Pagi itu! Ana langsung menuju kelas 2A, ia melewati kelas 2B dulu sebelum sampai di kelas 2A, ketika ia melewati kelas 2B ia melihat ada tas yang di kursi. Ana celingukan kerena pemilik tas tidak ada di kelas, ia sudah menduga kalau Rani dan Mawar telah tiba di sekolah. Akhirnya Ana mencari keduanya ke kantin, benar mereka berdua ada di kantin sedang sarapan. Ana langsung datang ke kantin dan menghampiri mereka berdua, sedangkan mereka berdua membelakangi Ana, jadi mereka tidak tahu kalau Ana menghampiri mereka.


Keduanya meraung kasakitan. Ditambah lagi kepala mereka oleh Ana diadukan seketika juga sampai keduanya menangis. Ibu kantin yang mendengar raungan Mawar dan Rani langsung melihat apa yang terjadi, mata ibu kantin terbelalak melihat Ana yang sedang menyiksa Mawar dan Rani.


"Ana!" teriak ibu kantin histeris.


Ibu kantin langsung menarik tubuh Ana untuk menjauhi Mawar dsn Rani, tapi Ana menepiskan tangan ibu kantin dengan cepat sekali.


"Bu, mereka yang duluan!" teriak Ana .


"Udah jangan diungkit masa lalu." ujar Ibu kantin.


Keduanya langsung meninggalkan kantin, mereka tidak membalas, kerena disana ada ibu kantin..

__ADS_1


( Kangen sama ibu Nining, tapi sekarang saya juga tidak tahu keberadaannya. Kata kabar burung ia sekarang dagang di kantin Untirta mengikuti anak pertama nya yang kuliah di kampus itu.


Menulis sesi ini saya ingat ibu Nining yang selalu kami panggil ibu Kantin kerena jualannya dekat di sekolah. Jujur jangan masakannya yang sederhana banget. Apalagi minumannya teh manis es, teh manisnya dibuat oleh beliau sendiri dari teh tubruk harga nya murah meriah sekali.


Es teh manis 1 gelas harganya 100 perak, nasi plus lauk pauk sayuran cuma 350 perak dan tempe gorengnya 100 perak. Itu tahun 2001-2002😊 ).


Sedangkan Ana masih di kantin bersama ibu kantin. Wanita itu langsung menarik baju Ana untuk duduk di kursi yang telah tersedia di kantin, setalah keduanya duduk.


"Kamu kenapa main hakim?" tanya ibu kantin menatap wajah Ana.


"Mereka duluan Bu," ujar Ana membela diri..


"Maksudnya?" wanita itu belum mengerti apa yang bakal Ana katakan lada dirinya..


"Kemarin kan hujan Ana naik sepeda ke sekolah eh dihadang, lalu dipukulnya Ana," cicit Ana.


"Akhirnya Ana nggak sekolah, habis baju Na basah kuyup dan kotor," lanjut gadis berkacamata yang selalu menyebut nama kalau sudah akrab.


Tapi kalau belum akrab atau sekilas ia sering menyebut aku atau saya pada orang lain. Ya sebenarnya bagaiamana orang yang diajak bicaranya sih. Kalau sama teman teman atau pada yang lain kebanyakan menyebut nama saja.


"Itu dendam namanya Ana, nggak baik dendam nggak punya teman." nasehat ibu kantin menasehati Ana.


"Habis Ana kesel Bu," keluh Ana.


"Nanti nanti Ana jangan begitu lagi ya, kalau mereka jahat sama Ana, seharusnya bilang baik baik jangan balas kejahatan mereka.itu nggak baik."


Ana hanya manyun mendapat nasehat berharga dari ibu kantin. Ia hanya bisa garuk garuk kepala saja mendengarkan semua nasehat ibu kantin. Sebelum Ana mengiyakan tiba tiba anak anak lain datang memesan makanan dan minuman. Akhirnya ibu kantin melayani anak anak, sedangkan Ana langsung beranjak dari duduk lalu meninggalkan kantin.*

__ADS_1


__ADS_2