
Kegiatan yang Ana lakukan membuat ia merasa nyaman apalagi ia punya kesibukan baru yaitu menulis. Ia juga tidak pernah berpikir buat balik ke kampung, ia meremas nyaman sekali hidup di kota ya biarpun tidak kota kota banget kaya Jakarta. Tapi menurutnya ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Punya hp, fasilitas seperti komputer dsn internet ya biarpun itu mengunakan warnet yang ada di sekitar Ciceri indah. Setiap mengirim ia mengunakan warnet sedangkan untuk menulis cerpen itu sendiri ia mengunakan laptop pakde nya. Majalah sasaran utama Ana yaitu Annida, UMMI, Sabili, Cemerlang, Aneka Yes!
Alhamdulillah cerpen Ana belum pernah dimuat dimana pun juga tapi semangat untuk menulis tetap hadir dalam hatinya. Ia tidak pernah peduli atas penolakan penolak dari editor berbagai majalah yangbada waktu itu.
Memang apa yang dikatakan oleh Najwa benar sekali, kalau di Rumah Dunia itu ada kelas menulis angkatan ke 6 dan salah satu anggotanya adalah Ana asal Panimbang itu yang ia sebutkan pada teman temannya. Sedangkan ia sendiri bukan asal Panimbang tapi Sukaresmi, tapi Panimbang lebih terkenal dibandingkan Sukaresmi, jadi pantas kalau orang menyebut Ana asal Panimbang.
Bukan saja ikut kelas menulis, Ana juga ikut kegiatan yang digelar di mesjid Al Mizan Ciceri yang di pimpin oleh Najwa Fadia dsn teman teman yang lainnya. Dan semuanya masih lajang dan rata rata anak kuliah sih!
"Hari ini jam 09.00 kumpul di mesjid Al Mizan Ciceri ya.
"Siap teh!
Paginya hari minggu Ana langsung menuju IAIN Serang kerana suruh kumpul disana dulu baru kesana bareng. Akhirnya tujuh gadis yang mengunakan kerudung yaitu; Ana, Fey, Ita, Kiki, Wanja, Mey, dan Desty langsung menuju komplek Ciceri indah menuju mesjid Al Mizan. Menurut informasi di depan mesjid itu ada patung kuda, kerena ketujuh orang itu belum pernah ke mesjid Al Mizan, mereka hanya mencari patung kuda nya keliling komplek Ciceri Indah muter muter.
"Ih dimana sih patung kudanya?"
"Nggak tahu, coba SMS teh Najwa ya.
Ana langsung SMS teh Najwa, jawabannya kalau patung kudanya warna biru dekat mesjid. Penjelasannya tidak tepat. Teman teman yang lain yang baru datang ke mesjid Al Mizan menunggu tujuh orang lagi untuk belajar. Tapi anehnya ketujuh orang itu SMA sekali belum kelihatan batang hidungnya satu satunya.
Najwa gelisah menunggu ketujuh orang itu, kerena waktu trus berjalan terus. Tapi tujuh orang itu sampai sekarang belum datang, apalagi peserta yang ikut literasi sudah gelisah menunggu kedatanganya.
"Mulai aja dulu, masa gara gara mereka kita nggak belajar, celetuk yang lain.
__ADS_1
Akhirnya lada pukul 90.45 yang sudah dulu datang mengawali belajar tentang jurnalistik. Mereka begitu tenang sekali, tapi tidak untuk Najwa! Matanya selalu melihat kearah jalan yang ada di depannya. Hatinya gelisah takut kalau teman teman yang lainya kesasar apalagi mereka baru Oetama kali ke Al Mizan.
Apa yang dikhawatirkan oleh Najwa benar benar terjadi, mereka tujuh gadis benar benar kesasar mengelilingi ciceri indah hanya untuk untuk mencari patung kuda yang ada di depan mesjid Al Mizan.
Ketujuh orang itu tetap saja berkomunikasi dengan Najwa. Kerena Najwa sendirilah yang khawatir dan cemas sekali kerena teman teman yang lain belum datang, akhirnya ia menyuruh tujuh orang itu balik lagi ke tempat semula dsn ia bakal menyusul ketujuh orang itu!
Jam 10.00 tepat tujuh orang yang mencari mesjid Al Mizan akhirnya sampai tujuan setelah dijemput oleh Najwa. Dsn akhirnya mereka senyum senyum. Kerena patuh kuda yang dimaksud itu didepan rumah orang sedangkan mesjid itu ada dibelakang rumah yang ada patung nya.
Kami kira patung itu di depan mesjid tepatnya, nggak tahunya mesjid nya di belakang ya otomatis sampai Dzuhur juga tidak bakal ketemu.
🐝
Hari pagi Minggu, Ana selalu ikut kegiatan di mesjid Al Mizan tanpa Ana ketahui sam sekali kelompok apa namanya, ia hanya mengikuti secara rutin kegiatan yang dilakukan di mesjid itu kerena arahan Najwa Fadia.
Jujur hati Ana berdetak keras mengingat sebuah kerjakan dirinya hanya ingin mencapai Rumah Dunia, di Rumah Dunia itu ia mendapatkan ilmu dan teman teman yang baik.
Pada suatu hari yang membuat Najwa tersedak dan terkejut pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana.
"Teh, di Serang kok nggak ada FLP kaya di Depok?"
Gadis itu kaget mendapat pertanyaan Ana yang seperti itu, sebenarnya kaku Ana tahu kegiatan tralis yang dilaksanakan di IAIN kemarin adalah kegiatan FLP merekrut calon anggota FLP. Dan yang menanyakan juga adalah salah satu anggota FLP angkatan 2 dan sekarang salah satu anggotanya malah menanyakan keberadaan FLP serang..
Ana yang tidak merasa bersalah hanya menatap wajah Najwa yang terkejut dan shock mendengar pertanyaan dari dirinya. Tapi gadis berkacamata itu bersikap biasa saja,.melihat kekagetan Najwa.
"Na, Ana kemana saja!" teriak Najwa spontan.
__ADS_1
"Maksudnya teteh?"
"Na, sebenarnya tralis itu bagian dari FLP Serang dan perlu Ana tahu kalau teteh ketua FLP yang dipercaya oleh semua orang," jerit Najwa gemas.
Najwa menjawabnya dengan perasan kesal dan gemas sekali, melita Ana dengan ekspresi datar.
'Ini anak kemana saja,' bisik Najwa dalam hati.
Selama tiga bulan berturut turut mengikuti kegiatan malah tidak mengerti pada kegiatan yang dilakukan setiap hari Minggu jam 09.00.
"Benarkah teteh ketua FLP, kok bisa!" Ana masih belum percaya atas pengakuan Najwa.
Najwa sebenarnya ingin berteriak ditempat itu, kerena ramai ia menhan gejolak hatinya yang kesel, gemes, pada Ana. Dan wajah itu datar tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang ia katakan.
Akhirnya tanpa menunggu lama lagi, ia meninggalkan Ana di tempat itu kerana masih kesal kerena gadis yang mengunakan kacamata tidak percaya pada nya. Melihat itu Ana tertawa dan mengajar Najwa minta maaf sambil tersenyum, melihat itu Najwa memukul lengan Ana.
"Teh, kok cerpen Ana gagal terus sih nggak pernah ada yang nyantol ke penerbit?" tanya Ana getir.
Ia tidak menyangka kalau jadi penulis itu sudah banget apalagi penulis pemula seperti dirinya. Ana.kita dengan ikut gabung di komunitas bakal memudahkan dirinya menulis, ia benar benar kesal sekali atas penolakan penolak penerbit.
Ana perasaan kecewa, sedih, frustasi yang menghinggapi hatinya. Najwa yang ada di tempat itu hanya mengusap pundak Ana dengan lembut, bukan hanya Ana saja yang mengalami hal yang sama tapi dirinya juga orang lain mengalami apa yang dialami oleh Ana.
"Lebih baik kamu mengirim ke koran saja dulu, ada Kaibon disana." usul Najwa memberikan saran pada Ana.
Hati Ana menolak kerena semua cerpen yang ia kirim selalu gagal dsn gagal tidak pernah dimuat sama sekali.*
__ADS_1