Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 52


__ADS_3


Ana senang banget kerena telah menjadi anggota perpustakaan, otomatis setiap hari ia mengisi waktu di perpustakaan, tidak banyak yang tahu kalau ia suka pada menulis. Ia juga menganggap biasa saja.


Ia dengan antusiasnya membaca dan melihat buku buku yang beri stiker di belang punggung buku. Ia hanya membaca nya sambil mengkerutkan keningnya merasa heran dan takjub kerena ada buku di beri nomor segala macam.


Seperti dibawah ini;


813.08


Abd


S


Ana ingin menanyakan pada ibu Elis mapel Pai tapi ia ragu untuk menemukannya kerenameliaht ibu Elis sibuk menempel kertas yang di lem lalu di tempel ke pungung buku hampir semua buku buku diberi sticker dari guntingan keras HVS yang dipotong potong satu ukuran.


Hatinya bertanya tanya pada diri sendiri kenapa ibu Elis bisa membuat kertas dan menempel. Mau bertanya ia tahu ya udah Ana membaca biarpun memnag belum fokus kerena masih belum tahu alasan ibu Elis memberikan sticker di pungung buku.


"Buat apa ya, untungnya apa ya ibu Elis ngasih sticker ini pada buku buku di perpustakaan?" pertanyaan demi pertanyaan selalu ia lontarkan di dalam hatinya.


Ya kerena ia juga tidak paham.dengan apa yang ibu Elis lakukan, tapi dalam diam Ana sellau memperhatikan wanita yang berusia 22 tahun. Ya kata kabar burung ibu Elis lulus kuliah langsung mengajar di SMU negeri Panimbang.


"Ana katanya ana suka menulisnya?" tiba tiba ibu Elis bertanya lada gadis 15 tahun itu menatap lembut.


Ia hanya tersenyum tersipu dan mengangguk, melihat anggukan Ana ibu Elis tersenyum.


"Na kalau kamu tekun insha Alah kamu bakal menjadi penulis kaya Chairil Anwar, Taufik Ismail dan W.S. Rendra," ujar ibu Elis memberikan motivasi pada Ana..


Mendengar nama ketiga penulis itu hatinya bergetar sangat cepat, nama penulis itu secara diam diam ia sukai kerena tulisan tulisannya pernah ia baca di waktu SMP, tapi sampai saat ini ia belum pernah bertemu dengan penulis yang ia sukai itu..


Sebenarnya kalau mau jujur ia ingin sekali bertanya banyak masalah penulisan dengan tiga orang itu. Apalagi tentang penulis angkatan 45, angkatan 60, pelopor dan macam macam.

__ADS_1


Dan satu buku yang menarik dirinya adalah buku yang pernah ia baca di SD yaitu Buya Hamka, yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.


"Iya, Bu. Ana suka menulis tapi belum pernah mengirimkan sih!" Adu Ana.


"Sabar saja, suatu waktu kamu bakal berhasil." ujarnya sambil tersenyum..


"Aamiin ya Allah,"


"Kuliahnya harus ke sastra Indonesia jadi lebih mendalami ilmu menulisnya..


Deg!


Hati Ana berdetak keras sekali, kerena ibu Elis menyebut kalau kuliah harus ke sastra Indonesia, ia hanya menghela nafas secara kasar. Anehnya ia tidak suka pada dunia pendidikan, ia juga hidup dan dibesarkan oleh seorang guru. Dan malah ia sendiri mengingkari semuanya, ia juga tudks tahu kenapa ia tidak suka pendidikan sama sekali.


"Bu kalau suka menulis memangnya harus kuliah di sastra Indonesia?" tanya Ana menatap ini Elis tajam.


Ibu Elis tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ana ia menatap gadis berkacamata dengan herannya. Kerena setahu dirinya rata rata yang suka menulis itu memang lebih kuliah di sastra untuk mengejar karir sebagi penulis. Jadi pas Ana mengajukan pertanyaan itu hanya heran dan tidak menyangka kalau Ana bakalan bicara seperti itu.


Belum sempat melanjutkan pembicaraan bel masuk terdengar, otomatis pembicaraan terpotong kerena Ana harus masuk ke kelas apalagi ini pelajaran akuntansi. Sebenarnya ia ingin bolos mapel akuntansi tapi, diurungkan niatnya kerena ia masih terlalu takut menghadapi mapel akuntasi itu.


Ya biarpun masuk kelas juga, Ana tetap tidak berubah di SMP juga. Ana malah lari kebelakang untuk tidur di kolong meja, untung ibu Ratih guru mapel belum tiba di kelas.


Ibu Ratih masih ke kelas, dan mulai mengabsen satu satu siswa siswi nya, tapi bagian nama Ana Aprihati semuanya diam, Sura ini Ratih terdengar lagi tapi pemilik nama tidak menjawab panggilan ibu Ratih teman temannya juga diam paling saling lirik satu sama lainnya.


( Ya nggak menjawab masalahnya saya di kolong dan teman teman diancam kalau ada mengadukan pasti urusannya sepulang sekolah babak belur ).


Ya salah satu dari mereka mengingat kejadian kemarin sebelum mengunakan baju SMU, Ana tidak diajak party ulang tahun teman yang lain ujug ujug nya.


BUG


BUG

__ADS_1


Beberapa kali Ana memukul kepala Andre ( samaran ) dengan kasarnya kerena memang ia bukan teman sekelas jadi ceritanya kelas 1 B merayakan ulang tahun ke 16 tahun kerena memang bukan bagian kelas 1B gadis itu malah memukul Andre kerena Andre tidak mengajaknya.


"Kamu itu apa apa an sih main tonjok aja!" geram Andre hampir memukul Ana.


"Kamu tuh yang salah kenapa nggak bilang kalau kamu ulang tahun nggak ngajak ngajak!" teriak Ana merasa tersisihkan.


"Kamu kelas mana?" sembur Andre mendorong tubuh Ana.


Gadis itu untungnya tidak jatuh kerena Ana melawan Andre, tanpa sangka keduanya bergulat dengan sering sampai bebek belur. Dan dengan teganya Ana menginjak burung Andre otomatis laki laki 16 tahun itu meraung DNA berteriak keras kerena merasa kesakitan di bagian burungnya.


Andre langsung menangis disaksikan oleh teman teman yang lain, teman teman yang lain tidak hanya melerai Ana dan Andre, tapi Ana menampar beberapa anak cowok yang mencoba membantu Andre.


Akhirnya ulang tahun Andre tidak bejalan dengan lancar kerena kekacauan yang dibuat Ana. Untung acara party ini tidak ada gitu maka mereka aman aman saja dari pengawasan guru.


Kerena jadian itu!


Indra ( samaran ), Melati ( samaran ) yang tahu Ana ada di kolong meja hanya diam saja mereka hanya saling melirik satu sama lainnya.


BRAK!


Suara penggaris kayu dipukulkan keatas meja membuat anak anak langsung menundukkan kepala mendengar suara keras kerena pukulan yang memantul. Ibu Ratih menatap semua siswa siswi lainnya, pandangannya tajam bagaikan elang yang siap menerkam. Bukan hanya siswa siswi yang lain hatinya berdebar keras, tapi hati Ana juga berpacu dengan keadaan.


Akhirnya tanpa di perintah lagi Ana langsung keluar dari kolong meja. Ibu Ratih yang melihat Ana lanhsung menghampiri gadis 15 tahun itu tanpa ba bi bu lagi ia pukul kaki Ana dengan penggaris yang dipengang nya.


Gadis itu meringis kesakitan disaat dua kakinya di pukul oleh penggaris oleh ibu Ratih. Wanita 34 tahun itu langsung menjewer telinga Ana dan menariknya untuk ikut ke ruang guru.


"Ana, sampeyan pancene arep sekolah utawa mung arep dolanan? Yen sampeyan pengin sekolah, sekolah sing bener iku serius. Nanging yen sampeyan pengin main, luwih becik metu saka sekolah!" sembur ibu Ratih dengan pandangan marah dan emosi pada Ana.


( Ana, kamu sebenarnya ingin sekolah atau hanya ingin main main saja? Kalau ingin sekolah, sekolah yang benar yang serius. Tapi kalau ingin main main lebih baik keluar dari sekolah! ).


Ana hanya diam saja kerena ia Sam sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh ibu Ratih, kerena ibu Ratih mengunakan bahasa Jawa timur.*

__ADS_1


__ADS_2