
"Rani!" teriak Ana histeris.
Ia melihat Rani tanpa ampun membeku kertas yang ia tulis. Lalu dengan cepatnya ia membuang sobekan kecil dari tanganya. Melihat itu Ana langsung menghampiri Rina dengan geramnya langsung menempeleng wajah Rani bertubi tubi. Rani yang tudks menduga langsung meraung seketika saat tangan Ana bertubi tubi memukul wajah nya berkali kali. Setelah itu ia dengan tega langsung mendorong tubuh Rani dengan sekali dorong.
Tubuh Rani langsung terjelambab jatuh pantatnya terbentur ke lantai. Ia berteriak dengan keras sekali kerena benturan yang keras membuat pantat dsn pinggangnya terasa patah sekali. Dan Ana pun menghampiri Rani, sekali tendang muka Rani langsung membiru seketika juga. Rani beberapa kali menyepak dan menjambak rambut Rani.
Rani yang tidak menerima langsung melawan Ana, ia tidak segan segan menjambak rambut Ana sampai Ana juga menendang kaki Rani. Gadis berkacamata itu tidak segan segan memukul bukit milik Rani. Rani yang tidak menduga sama sekali meraung kesakitan sambil kedua tangannya memegang kedua bukit yang terasa ngilu oleh pukulan dari tangan Ana.
Ia meringis dan dadanya sesak begitu juga belakang tubuhnya seperti ada yang hantam sangat kuat sekali, ia hanya merintih sedangkan Ana hanya diam dan tanpa diduga oleh Rani, Aan langsung mendorong tubuh Rani.
Rani yang belum siap langsung terhuyung dan badannya terbentur di meja kelas. Ia benar benar kesakitan yang berlebih di tubuhnya.
Ana tidak perduli dan ia langsung ke perpustakaan kerena ia mau pinjam buku Chairil Anwar yang berjudul derai derai Cemara. Dan hatinya merasa kaget saat membaca kalau usia 26 tahun Chairil Anwar yang penulis syair AKU harus meninggal diusia yang muda banget.
Sebenarnya tanpa di ketahui sama sekali tiba tiba ia punya keinginan untuk membuat komunitas menulis tapi ia harus mencari ank anak atau orang yang suka menulis, tapi ia agak kebingungan kerena ia sama sekali tidak tahu kalau ada teman teman bisa menulis atau suka menulis..
Dalam hati kecilnya sih sebenarnya kaku ada teman yang memiliki kesukaan seperti ia, ingin rasanya membuat komunitas menulis, dsn bisa membagi pengalaman penulis juga bisa menjadikan sebuah sharing diantara dirinya dan orang lain..
Tapi seingatnya jarang ada yang mau membangun komunitas menulis, ya apalagi kalau ada sangkut pautnya fasilitas yang harus digunakan. Akhirnya Ana hanya memendam keinginan suci itu, dari pada ia bergerak sendiri lebih baik hanya diam saja.
Ana masih anteng perpustakaan, tidak ada guru yang mencarinya maupun teman teman yang lain.
"Ana kamu disini lagi apa?" tanya ibu Elis yang tiba tiba menghampiri gadis itu..
"Jam kosong Bu, daripada di kelas lebih baik disini," bela Ana.
__ADS_1
Ia intinya hanya ingin membela diri dihadapan gurunya. Sedangkan ibu Elis yang mendengarkan kat kata Ana hanya mwngelangkan kepala saja. Memang ibu Elis tahu kalau Ana sebenarnya suka menulis tapi yang ia inginkan kalau gadis itu bisa membagi waktu antara belajar dan menulis.
Apalagi waktu ulangan caturwulan akan segera tiba. Iantidak mungkin bisa.membamtu Ana kalau gadis itu tidak.mau belajar dengan sungguh sungguh.
"Jam kosong juga gunakan dengan belajar, bukan menulis cerpen," ketus ibu Elis.
ya ia baru tahu kalau Ana tidak pernah masuk ke kelas, tapi anehnya waktu ia masuk Ana selalu ada di kelas mau berkata dan mengisi pr yang di berikan ya. Tapi mendengar kata kata yang lain, Ana selalu bersikap negatif kerena jarang masuk, jarang ikut ulangan, jarang ikut mengerjakan pr dan lain lain.
"Malas Bu, habis teman temannya ribut melulu di kelasnya." alsan Ana.
"Kan bisa di perpustakaan," sanggah ibu Elis tersenyum lembut.
Ana hanya menggaruk kepala salah mendengarkan apa yang ibu Elis katakan, ia hanya mengangguk saja.
"Jangan sampai menyesal dikemudian hari," kata ibu Elis.
Awalnya Ana akan bicara, ibu Elis langsung memandang wajah Ana sambil mengangkat telunjuk ke bibirnya, seperti memberikan kode supaya Ana diam dan jangan berisik sama sekali, otomatis Ana juga diam dan saja.
"Gawat, ibu Ratih pasti kesini, aku.malas diajar oleh dia." bisik Rani pada genknya.
"Apalagi aku, paling males banget. Udah korupsi waktu, lama, nggak seru!" celoteh Mawar.
Ada empat orang yang masuk ke perpustakaan keempatnya sembunyi dekat meja pustakawan sebelah kiri, sebenarnya kalau mereka menyadari mereka.juga terlihat jelas oleh Ana dan ibu Elis yang ada di sebelah kanan didalam dekat pojokan rek.
"Tapi untung juga sih kita nggak jadi wali kelas ibu Ratih, wah gawat kalau ibu Ratih jadi wali kelas kita.
__ADS_1
Ana dan ibu Elis mendengar percakapan yang mereka lakukan, akhirnya ibu Elis mendekati meja yang disisinya ada keempat maka itu, sedangkan Ana masih tetap di ruangan yang sama, kerena ia tidak ada gurunya sama sekali itu pengakuan Ana pada ibu Elis. Ibu Elis tidak pernah memaksa Ana untuk ke perpustakaan kerena Ana sendiri yang ingin ke perpustakaan.
"Kalian sedang apa? Ayo masuk kelas." perintah ini Elis dengan tegasnya.
Keempat gadis itu hanya saling pandang satu sama lainnya mereka tidak menduga kalau persembunyian mereka diketahui oleh ibu Elis. Keempat gadis itu dengan malas langsung keluar dari ruangan perpustakaan dengan perasan was was kerena ketahuan sama ibu Elis.
"Kalian pelajaran ibu Ratih kenapa harus di ruangan perpustakaan?" lanjut ibu Elis bertanya lada keempat orang gadis itu.
"Malas, Bu!" seru Mawar .
"Sudah kalain masuk kelas, kaku tidak nanti ibu bilang ke ibu Ratih!" tekan ibu Elis.
Mau tidak mau akhirnya mereka menuju luar perpustakaan tapi sebelum mereka keluar perpustakaan tiba tiba Rani melihat An yang sedang membaca buku.
"Bu, Ana juga nggak masuk kelas tuh!"
"Ana yang tidak menyangka bakal ketahuan, akhirnya hanya garuk kepala saja..
"Tapi aku jam kosong kok!" bela Ana.
"Ana kamu juga ke kelas!" perintah ibu Elis kerena ia juga tidak mau disalahkan oleh Rani dsn teman temannya.
Ana hanya diam saja, tanpa disuruh lagi ia akhirnya meninggalakan perpustakaan dengan wajah menatap kearah Rani penuh kebencian. Sebenarnya Ana lebih betah di perpustakaan dari lada di kelas kerena lalu di kelas banyak yang menganggu nya.
"Na, aku bakal perhitungan dengan kamu," bisik Rani tajam.
__ADS_1
"Oke, kapan? Mau sekarang silahkan!" tantang Ana tidak merasa takut.
Rani sebenarnya ingin membekap mulut Ana saat ia mengatakan perkataan yang keras, Rani hanya takut kalau ini Elis mendengar bisa bisa brabe. Untungnya Ibu Elis tidak mendengar kerena mereka sudah jauh melangkah.*