Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia

Perjalanan Ana Menuju Rumah Dunia
chapter 32


__ADS_3

Ana menyangka kalau perjalanannya yang ditempuh semulus dugaannya. Tapi itu belum seberapa dengan sebuah keringat yang ia cucurkan dari setiap langkah yang ia jalani. Ia harus terpuruk kembali ketiga kabar itu sampai di telinganya. Kabar yang membuat dirinya terjatuh, terluka, bukan masalah menulis tapi masalah keluarganya. Ini yang jadi titik balik kedua kehidupannya, sebuah kata kata hanya untuk dijadikan motivasi kini terpatri dihatinya sampai kini. 


 Dan sebuah kata kata yang cocok untuk gadis itu yaitu; Pernikahan bukan ajang keberhasilan yang tertunda, pernikahan suatu ibadah yang dihalalkan oleh Allah. Dan Dia lah yang menyiapkan jodoh menurut kadar keimanan nya. 


Kalau Allah menguji hambanya maka Allah sayang pada hambanya dsn merindukan setiap doa yang bakal ia panjatkan pada Nya.


Kata kata itu yang dijadikan cambukan oleh Ana sendiri.


"Mbak, Ita minta izin untuk menikah dengan laki laki pilihan Ita," suara Ita lirih hampir tudks terdengar tapi masih jelas ditelinga Ana.


Ana yang belum siap apa yang adiknya katakan, seperti mendengarkan halilintar disiang bolong yang menghantam hatinya. Ia tidak langsung menjawab kata kata Ita kerena ia terlihat shock dan tidak menyangka kalau adiknya bakalan menikah dengan laki laki pilihannya. Membuat hatinya terluka dan berdarah, ia tidak bisa menjawab apanyang adiknya katakan.


Sedangkan ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah, dan Ana.masih menikmati masa masa lajangnya, dengan mengejar cita citanya. Serta harapan yang ia ingin capai dengan membangun sebuah perpustakaan. Tapi kenyataannya ia mendengar sebuah berita yang tidak mengenakkan hatinya, ada rasa ingin menikah. Tapi sampai sekarang ia belum mendapatkan calonnya.


Kalau misal ia menjawab tidak, ia takut kalau adiknya melakukan diluar kehendak manusia. Kalau misalkan diizinkan ia yang jadi korban dari pernikahan adiknya. Ia benar bener gamang sebenarnya diantara dilema kehidupan yang ia jalani.


"Na, jawab pertanyaan adikmu?" ujar ibu Tri menghampiri Ana yang sedang duduk di kursi dengan buku nya yang sedang ia pengang tadi.


Ana hanya menarik nafas dalam dalam dsn menghembuskan kembali, seperti mengeluarkan beban yang menghimpit hatinya. Sebelum ia menjawab tiba tiba hp nya berteriak keras sekali, ia langsung mengangkat hpnya.


📱 Assamulaikum,


ucap Fey memberikan salam pada Ana yang langsung mengangkatnya. Fey adalah anggota FLP angkatan 1, sedangkan Ana sendiri angkatan 2 setelah Fey.


Bukan itu saja Fey juga adalah anggota menulis angkatan V di Rumah Dunia.


📱Walaikumsalam. Fey ada apa? Tumben nih nelpon?

__ADS_1


Jawab gadis itu dengan lantang dan lancarnya. Ya ia heran kerena menerima telpon dari Fey, kerena memang Ana dan Fey berkomunikasi secara dekat saja. Otomatis waktu Fey menelpon ada keheranan yang tergambar dari wajah Ana.


Sedangkan ibu Tri dan Ita menatap wajah Ana yang sedang menerima telpon. Ibu Tri hanya diam saat putri pertamanya menerima telpon ia tidak bicara apa apa.


Ita juga begitu juga. Kalau tidak ada kepentingan ia lebih baik menjauh dari kakaknya, apalagi kalau kakaknya menerima telpon seperti sekarang. Tapi demi misi nya berhasil untuk mengantongi izin dari Ana maka ia menunggu pembicaraan Ana dan temannya selesai.


📱Aku hanya ingin bilang, kamu ikutan nggak acara kumcer yang diselanggarakan oleh Rumah Dunia, diterbitkan lho di Ging Publishing,"


Fey langsung menjelaskan intinya kerena ia menelpon juga hanya ingin memberitahukan pada Ana masalah rencana penerbitan yang diadakan oleh Gong Publishing.


Kerena ia pernah mendengar kalau An.begitu antusias menerbitkan buku tapi selalu gagal, jadi ia yang mendengar sepak terjang Ana ingin kalau Ana masuk kumcer dengan teman teman yang lainnya.


📱Kapan itu Fey? dikumpulkan kemana?


Tanya gadis berkacamata itu antusias sekali, cita cita masuk Rumah Dunia sampai melakukan perjalanan ke Rumah Dunia hanya ingin mengirimkan tulisan ke penerbit. Berita yang dibawakan Fey membuat ia merasa senang sekali.


Tapi Ibu Tri dan Ita melihat jelas wajah Ana terlihat ceria sekali.


📱Ke aku saja Na, kamu tahu kan alamat email ku?"


Tanya Fey, Ana hanya mengiyakan ucapan Fey. Setelah mengucapakan salam Ana memutuskan penggilan dari Fey.


Setalah sambungannya putus ibu Tri dan Ita yang dari tadi menunggu jawaban dari Ana, hanya memandang wajah Ana dengan tajam. Ana yang diperhatikan begitu hanya mengenal nafas panjang saja.


"Bu, Ana mau menulis buat projects penerbitan," elak Ana sambil beranjak uduknya meninggalakan adik dan ibunya.


Hampir saja Ita mencegah An untuk pergi tapi ibunya mengelangkan kepala, Ita menghela nafas panjang saat melihat ibu Tri mengelengkan kepala.

__ADS_1


Ana langsung masuk kamar dan hanya mematung di sana, pikirannya tiba tiba kosong sekali apalagi mendengar apa yang Ita ucapakan. Ia ragu untuk memberikan izin pada Ita untuk menikah duluan sedangkan dirinya ditinggal begitu saja.


'Ya Allah kenapa harus Ita yang menikah duluan?" tanya Ana dalam hatinya..


Ia merasa frustasi apalagi mengingat ocehan tetangga yang bakal terdengar nyaring ditelinga nya.


"Kalau anak perempuan dilangkahi bakal nggak dapat jodo,"


"Susah kalau dilangkahi menikah sama adiknya,"


Ana sudah membanyangkan ocehan ocehan bakal datang ke dirinya apa lagi usia dirinya yang seharusnya menikah dan momong anak. Ya ia pernah dikatakan sebagai kerjaan tua oleh tetangganya, tapi dengan tegas ibunya melindungi Ana dari kata kata itu, ibu Tri selalu membesarkan hati Ana untuk optimis dan bisa menerima apa yang menjadi takdirnya.


"Kalau dilangkahi sama adiknya itu harus adiknya memberikan kalung, gelang, cincin, anting, kerudung, baju, celana, dan sepatu atau sendal biar cepat dapat jodoh," kata tetangga dekat rumah Ana.


Ana hanya diam saja mendengar ucapan ucapan dari berbagai orang tentang mitos pernikahan adiknya.


"Biar kakaknya cepat menikah, adiknya harus mengendong kakaknya."


Kata demi kata sellau Ana dengar, otomatis untuk menulis juga ia merasa malas sekali. Kerena ia tidak benar benar fokus untuk menulis untuk projects penerbitan di Ging Publishing. Akhirnya dengan perasaan yang hancur tidak terkira, Ana tidak ikut projects penerbitan itu, percuma ikut juga kerena ia sama sekali tidak fokus untuk menyelesaikan kumcer yang bakal diterbitkan oleh Gong Publishing.


"Na kenapa nggak ikut menulis?"


"Na, kamu kenapa?"


"Ada masalah, kok menghilang begitu saja?"


Sms sms datang saling bergantian menanyakan Khabar keberadaan gadis berkacamata itu, ada juga yang menelpon kerena ingin tahu kabar Ana tapi gadis itu tidak pernah mengangkatnya.

__ADS_1


Ia sengaja tidak menjawab telponnya maupun membalas satu satu SMS yang masuk, kerena kalau ia mengangkat maupun membalas SMS, ia bakal terluka hatinya. Kerena ia tidak ikut projects penerbitan buku kerena mendekati pernikahan adiknya Puspita*


__ADS_2