
"Anaaa!" Teriak ibu Rina saat minat gadis itu bertindak sebagai preman. Mendengar teriakan ibu Rina gadis itu menghentikan prilaku bejatnya yaitu memukul si Iwan dengan kayu yang dipegangnya, sampe baju yang dikenakan gadis tidak karuan sama sekali. Kancing baju terlepas begitu saja, ditambah lagi kotor dan basah oleh keringat yang mengalir diantara pori pori nya.
Kerudung yang tadi di gunakan terhempas di dekatnya, Iwan yang lemas tubuhnya di pukul hanya merintih kesakitan. Ibu Rina langsung menghampiri gadis itu sambil menarik tangan Ana dengan kasarnya sambil ia meringis kesakitan kerena dijewer dengan kuat. Iwan pun dipanggil oleh ibu Rina di suruh ke ruang guru, dia anak ABG yang satu unit itu hanya Sling mendelik satu sam lainnya.
"Kalian ini siswa kenapa harus bertengkar ditambah lagi di sekolah!" getar ibu Rina menatap wajah kedua anak muridnya dengan tajam.
"Dia dulu, Bu." tuduh Ana cepat.
"Masa Ana menulis cerpen malah direbut sama dia!" tunjuk Ana geram.
Mungkin kalau tidak ada gurunya di hadapan Ana, mungkin gadis itu langsung melayangkan tanganya kearah wajah Iwan habis ia belum puas kalau masih melihat Iwan masih menganggu dirinya.
"Iwan kamu kenapa sih nganggu Ana aja, udah tahu kalau sering kalah sama Ana malah berantem lagi!" suara ibu Rina bergema keras di telinga Iwan.
Iwan diam saja mendengarkan apa yang gurunya bicarakan, ia sebenarnya ingin mengalahkan Ana tapi anehnya ia selalu kalah oleh gadis berkacamata itu. Ia penasaran sama gadis itu, makanya ia sering bikin ulah supaya ia dan Ana bertengkar tapi ujungnya ia yang kalah dan bank belur oleh Ana.
Bukan itu saja Ana pernah juga mengantarkan batu ke lengan atas dirinya, sampai lengan nya terasa remuk sekali akibat hantaman batu itu. Tapi pas ia akan membalas kelakuan Ana, malah Ana membalas kelakuan dirinya.
( Saya baru tahu kalau ia ingin membalas kelakuan saya pas kami bertemu dalam reunian SMP, sampai ia menjitak kepala saya kalau ingat kejadian itu katanya ia hanya senyum senyum saja. Sedangkan saya hanya garuk garuk kepala tidak menyangka bakal baik lagi dengan seiring waktu ).
"Ya udah kalian pisah kelas saja!" keputusan ibu Rina tidak bisa digugat lagi oleh keduanya.
Iwan akhirnya dipindah kelas ke kelas 2A sedangkan Ana masih tetap di kelas 2B, setelah memberikan peringatan lada Ana dan Iwan keduanya akhirnya salaman dan minta maaf, Iwan di suruh pulang oleh ibu Rina kerena tudks memungkinkan ikut pelajaran dalam keadaan seperti itu, apalagi seluruh tubuhnya luka akibat cakaran tangan Ana, pukulan serta tendangan kaki Ana.
__ADS_1
Sedangkan Ana masih mengikuti pelajaran ya biarpun tidak fokus belajar di kelas. Pas pelajaran terakhir ia masuk.ke perpustakaan lewat jendela, kerena perpustakaan pintunya di kunci di tambah lagi tidak ada tempat yang nyaman otomatis ia naik ke jendela dimana ia keluar di jendela yang sama.
Guru guru SMP hanya bisa mwngelangkan kelakuan Ana seperti cowok suka bertengkar, bikin onar, tapi bagaimana pun juga Ana hanya membela diri saja. Tapi semua guru menyalahkan Ana kerena harus main hakim sendiri.
Bukan hanya guru yang hanya mwngelangkan kepala tapi ibu Istri dan pak Mamat juga mengelangkan kelapa, setiap pulang sekolah Ana sering terlihat bajunya kotor dan kusut, awalnya mereka tidak pernah mengubrisnya ditambah lagi gadis itu tidak pernah berita.
Dan hari itu mereka akhirnya menyelidiki ke sekolah, dan mereka sangat terkejut mendengar penuturan guru gurunya Ana kalau selama ini gadis itu bukan nya sekolah malah betengkar dengan gagahnya, gurunya juga menceritakan kalau Ana bertengkar kerena bukan gadis itu yang bikin gara gara tapi temannya.
Tapi bagaiamana pun juga orang tua mana yang mau anaknya jadi preman, pak Mamat lanhsung menghampiri Ana untuk mendengar kejujuran putrinya ya biarpun hati pak Mamat bergolak sedemikian rupa oleh tingkah laku Ana.
"Kau An bertengkar dengan Iwan habis Iwan yang duluan, masa Ana menulis sellau diganggu saja olehnya. Ya An kesal ya udah ana ajak berantem saja." jawab Ana waktu pak Mamat mencari alasan kenapa ia berbuat semena pada Iwan.
"Na biarpun Ana benar tetap salah saja, jangan di lawan. Apalagi dia itu cowok," nasehat pak Mamat.
"Tapi jangan bertengkar kata gitu, jadi cewek harus lembut," timbal ibunya yang menghampiri Ana dan bapak..
"Kenapa sih harus cewek saja yang disalahkan dalam masalahna ini" berontak Ana tidak suka.
Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan pak Mamat dengan perasaan kesal dsn kecewa dengan apa yang dibicarakan oleh pak Mamat sendiri, mendengar Ana marah seperti itu pak Mamat mengejar Ana tapi gadis itu dengan cepat langsung masuk kamar dsn tidak keluar lagi.
Biarpun sekuat apa mengetuk pintu tetap saja pak Mamat tidak bisa membuka pintu kamar Ana kerena haid itu mengunci pintunya. Akhirnya pak Mamat menyerah kerena memang gadis itu tidak pernah membuka pintu kembali membuat pak Mamat heran atas prilaku Ana.
Sedangkan Ana yang masuk kamar ia hanya mengenal nafas agak kesal pada bapaknya yang tidak pernah membela dirinya, ia tidak bisa melakukan apa apa yang bisa.membela dirinya dihadapan bapaknya.
__ADS_1
🐝
"Semuanya gara gara kamu!" tuduh Ana pada Iwan.
Pagi nya Ana mendatangi Iwan yang berada di kelas bawah. Iwan hanya begong saja mendengar apa yang gadis itu katakan ia tidak mengerti sama sekali.
"Maksudnya apa sih Na, nggak hujan nggak ada angin kamu.menyalahkan aku?" tanya Iwan menatap heran pada Ana yang berdiri di depan mejanya.
"Kenapa sih kamu bikin gara gara sama aku, aku nggak pernah ganggu kamu tapi aku yang selalu sial Hata gara kamu!" hardik Ana kasar.
Ia langsung mengebrak meja yang ada dihadapan Iwan. Adit yang duduk disamping Iwan langsung menarik tangan Iwan untuk menjauhi Ana Adit tahu kalau berurusan dengan gadis itu bisa fatal dan membahayakan semuanya
Iwan kaget kerena tangannya langsung ditarik oleh Adit, mau tudks mau ia langsung mengikuti apanyang Adit perintahkan, Ana yang melihat itu hampir mengejarnya tapi tangan Ima lamhsungnmeraih tanganya maka Ana tudks jadi mengejar Iwan dan Adit.
"Kamu jangan berurusan sama gadis singa itu!" ketus Adit.
Ia juga kapok beurusan dengan gadis berkacamata itu, kerena bukan Anyang kalau tapi Adit sendiri yang kalah.
"Kalau dipikir sih! Malu juga cowok Kamah sama cewek tapi ya harus bagaimana ngelawan nya?" tanya Iwan seperti pada diri sendiri.
"Bukan kalah tapi mengalah, cowok seharusnya mengalah pada cewek. Kita bukan kalah sama cewek singa tapi kita mengalah demi cewek singa itu," sanggah Adit seperti membela diri.
Ia juga tidak bisa menerima kalau dirinya dikatakan kalah oleh cewek, kerena itu SMA saja merendahkan kaum Adam.*
__ADS_1